Resume: Bagaimana Manusia Mempersepsi Ujaran



Nama               : Endah Suprihatin
NIM                : 2303412014
Mata kuliah     : Psikolinguistik

Bagaimana Manusia Mempersepsi Ujaran
            Masalah yang di hadapi seorang pendengar adalah bahwa dia harus mampu meramu bunyi-bunyi yang ia dengar sedemikian rupa sehingga bunyi-bunyi itu membentuk kata yang tidak hanya bermakna tetapi juga cocok dalam konteks dimana kata-kata itu dipakai. Dari segi ilmu pengetahuan, kajian dan penelitian mengenai bagaimana manusia mempersepsi ujaran dapat dikatakan masih baru. Meskipun Willis tahun 1829 dan Helmholtz tahun 1859 telah mempelajari ciri fisik dari bunyi, namun penelitian tentang bagaimana manusia mempersepsi tentang ujaran baru dimulai menjelang perang dunia ke 2.perkembangan penelitian ini dimulai dengan adanya kemajuan dibidang teknologi terutama dengan terciptanya alat telfon. Pada tahun 1940 Bell Telephone Laboratory mengembangkan alat spektograf yaitu alat untuk merekam suara dalam bentuk garis-garis tebal tipis dan panjang pendek yang dinamakan spektogram.
a.       Mekanisme ujaran
            Bunyi bersumber dari paru-paru. Paru-paru kita mengembang dan mengempis memompa udara melalui saluran tenggorokan, kemudian udara keluar melalui mulut atau hidung. Dalam perjalanan keluar terkadang mengalami hambatan oleh titik-titik artikulasi. Hasil hambatan inilah yang menghasilkan bunyi. Titik-titik artikulasi itu yaitu bibir, gigi, alveolar, palatal keras, palatal lunak, uvula, lidah.
1.      Pembuatan bunyi konsonan
Untuk membuat bunyi konsonan perlu memperhatikan tiga faktor yaitu titik artikulasi, cara artikulasi dan status pita suara. Titik artikulasi yakni tempat dimana artikulator itu berada, berdekatan dan berlekatan. Misalnya ketika bibir atas dan bibir bawah berlekatan maka bunyi yang dihasilkan adalah bunyi bilabial. Cara artikulasi yaitu bagaimana cara udara dari paru-paru itu kita lepaskan. Misalnya apabila udara itu kita tahan dengan ketat dimulut lalu kemudian kita lepaskan dengan setentak maka bunyi tadi akan menimbulkan semacam letupan. Yang terakhir yaitu status pita suara. Pita suara dapat terbuka penuh, agak tertutup dan tertutup. Ketika kita mengucapkan bunyi [p], [t], dan [k] posisi pita suara kita agak terbuka namun tidak bergetar.
2.      Pembuatan bunyi vokal
 Berbeda dengan konsonan, kriteria untuk membuat bunyi vokal adalah tinggi-rendah lidah, posisi lidah, ketegangan lidah, dan bentuk bibir. Karena lidah itu lentur, maka lidah maka lidah dapat digerakkan untuk dinaikkan atau diturunkan. Naik turunnya lidah menyebabkan ukuran rongga mulut berubah. Bila lidah berada di posisi tinggi maka ruang yang akan dilalui udara dari paru-paru menjadi sempit sehinggga bunyi yang dihasilkan akan melengking tinggi.
3.      Fonotaktik
Setiap bahasa memiliki sistem sendiri-sendiri untuk menggabungkan fonem agar menjadi suku dan kemudian kata. Dengan demikian tidak mustahil adanya dua bahasa yang memiliki beberapa fonem yang sama namun berbeda fonotaktiknya. Fonotaktik yaitu sistem pengaturan fonem. Misalnya antara bahasa indonesia dan bahasa inggris. Kedua bahasa ini sama-sama memiliki fonem /s/, /p/, /r/. Fonotaktik bahasa inggris memungkinkan penggabungan /s-p-r/ sedangkan bahasa indonesia tidak. Karena sebagian besar orang indonesia tidak dapat mengucapkan kata-kata seperti ini.
4.      Struktur suku kata
Suatu suku dapat memiliki onset, nukleus dan koda. Namun itu tidak wajib. Nukleus selalu berupa vokal. Konsonan yang berada di muka nukleus dalam satu suku di sebut onset, sedangkan di belakang nukleus disebut koda.
Contoh: ban. /b/=onset, /a/=nukleus, /n/=koda.
5.      Fitur distingtif
Fitur-fitur distingtif yang ada pada konsonan yaitu
·         Vokalik dan konsonantal: semua konsonan adalah [+konsonantal] dan[-vokalik] sedangkan semua vokal [-konsonantal] dan[+vokalik]
·         Anterior: bunyi yang dibuat di bagian depan mulut adalah [+anterior] dan yang di belakang mulut adalah[-anterior]
·         Koronal: bunyi yang dibuat di bagian tengah atas mulut adalah [+koronal]
·         Kontinuan: bunyi yang dibuat dengan aliran udaranya mengalir terus adalah [+kontinuan]
·         Straiden: bunyi yang di buat dengan iringan desahan suara disebut [+straiden]
·         Nasal: bunyi yang dibuat dengan aliran udara keluar melalui saluaran hidung disebut [+nasal]
·         Vois: bunyi yang disetai getaran pada pita suara disebut [+vois]
Fitur-fitur distingtif pada bunyi vokal:tinggi, vokalik, belakang, bundar, dan tegang.
Sebuah kata dapat digambarkan dengan memakai fitur-fitur distingtifnya. Misalnya:
B                                           A                                             N
[+konsonantal]                      [+vokalik]                                [+konsonantal]
[+anterior]                             [+belakang]                             [-anterior]
[+vois]                                   [-tinggi]                                   [+koronal]
[-koronal]                              [-tegang]                                  [+nasal]
[-straiden]                              [-bundar]                                 [+vois]
[-kontinuan]                                                                          [-straiden]
[-nasal]                                                                                  [-kontinuan]

6.      Voice Onset time
Voice onset tima adalah waktu antara lepasnya udara untuk pengucapan suatu konsonan dengan getaran pita suara untuk bunyi vokal yang mengikutinya.
b.      Persepsi terhadap ujaran
Pada dasarnya aa tiga tahap dalam pemrosesan persepsi bunyi.
                               I.            Tahap auditori
Pada tahap ini manusia menerima ujaran sepotong demi sepotong. Ujaran ini kemudian ditanggapi dari segi fitur akustiknya
                            II.            Tahap fonetik
Pada tahap ini bunyi-bunyi itu kita identifikasikan
                         III.            Tahap fonologis
Pada tahap ini mental kita menerapkan aturan fonologis pada deretan bunyi yang kita dengar untuk menentukan apakah bunyi-bunyi tadi susah mengikuti aturan fonotaktik yanga pada bahasa kita.
c.       Model-model untuk persepsi
a)      Model teori motor untuk persepsi ujaran
Teori yang menyatakan bahwa manusia mempersepsi bunyi denganmemakai acuan seperti pada saat dia memproduksi bunyi itu.
b)      Model analisis dengan sintesis
Dalam model ini dinyatakan behwa pendengar mempunyai sistem produksi yang dapat mensintesiskan bunyi sesuai dengan mekanisme yang ada padanya.
c)      Fuzzy logical model
Menurut model ini persepsi ujaran terdiri dari tiga proses yaitu evaluasi fitur, integrasi fitur dan kesimpulan.
d)     Model cohort
Menurut model ini dalam proses persepsi mengalami 2 tahap. Pertama, tahap dimana informasi mengenai fonetik dan akustik bunyi-bunyi pada kata yang kita dengar itu memicu ingatan kita untuk memunculkan kata-kata lain yang mirip dengan kata tadi. Kedua, proses eliminasi secara bertahap.
e)      Model Trace
Model ini awalnya untuk persepsi huruf tetai kemudian dikembangkan untuk mempersepsi bunyi. Model ini berdasarkan pada pandanganyang koneksionis dan mengikuti proses top-down. Proses ini terdiri dari tiga tahap yaitu tahap fitur, tahap fonem dan tahap kata.
d.      Persepsi ujaran dalam konteks
Bunyi selalu diujarkan secara berurutan dengan bunyi yang lain, sehingga bunyi-bunyi itu membentuk semacam deretan bunyi. Lafal bunyi yang diujarkan secara berurutan dengan bunyi yang lain tidak sama dengan lafal bunyi itu bila dilafalkan secara sendiri-sendiri. Pengaruh konteks dalam persepsi ujaran sangatlah besar. Faktor yang membantu kita dalam mempersepsi suatu ujaran adalah pengetahuan kita tentang sintaksis mausun semantik kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikolinguistik: Penyimpanan dan Retrieval Kata

Psikolinguistik: Produksi kalimat

analisis novel Memoar Dokter Perempuan karya Nawal El Sadawi dengan pendekatan sosiologi sastra