Psikolinguistik: Penyimpanan dan Retrieval Kata



Nama  : Endah Suprihatin
NIM     : 2303412014
Resume bab VII: Penyimpanan dan Retrieval Kata
Pengantar
Salah satu hal yang sangat menakjubkan dalam penggunaan bahasa adalah kecepatan orang menanggapi makna kata maupun kecepatannya dalam mengucapkannya. Dapatlah diduga bahwa kamus mental kita atau leksikon mental kita pastilah terorganisir dengan rapi sekali sehingga kases untuk meretrif kata tersebut dapat dengn cepat dilakukan.
A.      Leksikon mental
Mental leksikon dapat diibaratkan sebagai gadang dimana kita menyimpan barang. Kan tetapi gudang ini bukan sembarang gudang karena tidak hanya barangnya yang disimpan itu unik, tetapi juga cara pengaturannya yang rumit.
Leksikon mental atau kamus mental mempunyai sistem yang memungkinkan kita untuk meretrif kembali kata-kata secara cepat.
Meskipun leksikon mental mempunyai persamaan dengan kamus biasa, namun ada perbedaan yang cukup signifikan yaitu:
1.      Leksikon mental tidak hanya memanfaatkan kesamaan bunyi, tetapi ada faktor lain yang harus dipertimbangkan pula.
2.      Leksikon mental juga membentuk jaringan untuk hal yang bertentangan.
3.      Isi dari leksikon mental selalu berubah.
4.      Leksikon mental memungkinkan kita menciptakan kata sesuai dengan aturan yang ada pada bahasa itu.
5.      Leksikon mental mencakup informasi yang jauh lebih luas daripada kamus biasa yang juga dapat diihat pada betapa rincinya pengetahuan kita sebagai penutur bahasa.
B.      Penyimpanan kata
Ada dua pandangan mengenai bagaimana kata disimpan. Yang pertama yaitu bahwa setiap kata disimpan sebagai kata yang terpisah dan yang kedua yaitu bahwa kata yang disimpan bukan berdasarkan kata tetapi morfem.
Ada beberapa argumen yang mendukung pandangan yang kedua yaitu bahwa penyimpanan model ini lebih hemat dan waktu yang digunakan untuk meretrif kata multi moremik lebih lama daripada yang bermorfem satu.
C.      Faktor pengaruh untuk penyimpanan dan retrival kata.
Dari fakta-fakta yang telah ditemuakan, tampaknya dasar penyimpanan dan retrival kata itu tidak hanya satu atau dua saja tetapi merupakan jaringan yang saling berkaitan. Sebuah kata akan muah diretrif apabila kata itu sering dipakai.
Sebuah morfem disimpan berdasarkan medan semantiknya. Dalam medan semantik kata-kata yang memiliki satu ciri tertentu dimasukkan daam satu medan yang sama. Medan semantik dapat berupa kata-kata yang berlawanan.
Disamping medan semantik, orang juga memanfaatkan pula kategori sintaktik dari kata. Pembagian kata menjadi dua kategori yaitu kata utama dan kata fungsi juga mempengaruhi proses penyimpanan dan retrival kata.
D.     Model penyimpanan dan retrival kata.
D.1 serial research model
Menurut teori ini, seseorang meretrif katadengan cara seperti kita memakai kamus. Teori ini memiliki dua tahap yaitu access file dan master file.
D.2 parallel access models
D.2.a. logogen model.
Model ini beranggapan bahwasetiap kata memiliki logogen yakni sebuah daftar yang menghitung julah fitur antara kata yang ada dalam leksikon dengan kata yang menjadi input.
D.2.b. Connectionist model
Model ini memiliki tiga tingkat yaitu tingkat input, tingkat dimana unit berkaitan dengan huruf secara individual dan tingkat output.
D.2.c. Cohort model
Model ini hampir sama dengan model koneksionis dan model logogen hanya saja model cohort terbatas pada input lisan.
E.       Pengatahuan tentang kata
Ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam mengetahui sebuah kata yaitu aspek semantik, sintaktik dan fonologis.
F.       Makna suatu kata
Ada dua pendapat menganai makna kata. Pendapat yang pertama menyebutkan bahwa makna suatu kata adalah objek yang dirujuk oleh kata itu. Sedangkan pendapat kedua menyebutkan bahwa kata tidak merujuk kepada objek tetapi kepada konsep, kepada ide tentang konsep itu.
Ada tiga teori tentang konsep yaitu
F.1. Teori fitur
Teori ini menyatakan bahwa konsep tebentuk dari sekelompok unit yang lebih kecil yang dinamakan fitur. Konsep memiliki fitur esensial yang membatasinya dari konsep lainnya. Masalah yang muncul dari konsep ini yaitu bahwa dunia itu tidak hitam putih. Tidak semua konsep memiliki semua fitur.
F.2. Teori berdasarkan pengetahuan
Teori ini berdasarkan pada esensialisme psikologi dan kontekstualisme psikologi. Esensialisme dan kontekstualisme psikologi adalah teori yang landasan dasarnya adalah teori fitur tetapi yang telah diperluas.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa perbedaan antara teori fitur dengan teori yang berdasarkan pengetahuan adalah bahwa pada teori fitur, fitur menentukan konsep sedangkan pada teori yang berdasarkan pengetahuan, fitur tidak menentukan konsep.
G.     Organisasi konsep
Untuk mengetahui hubungan antar konsep dan bagaimana konsep itu diorganisir, terciptalah beberapa model atau teori.
G.1. Model semantik hierarkis
Menurut teori ini, konsep terkait satu dngan lainnya secara hierarkis.
Teori ini memiliki banyak kelamahan yaitu kata-kata abstrak tidak mudah dibuakan hierarki, tidak selamanya orang mengikuti hierarki, dan jarak semantik yang sama belum tentu menghasilakan jumlah waktu reaksi yang sama.
G.2. Model Perbandingan Fitur
Model ini dinyatakan dalam dua tipe daftar fitur yaitu fitur yang wajib dan fitur yang opsional. Kedua macam fitur ini kemudian dibandingkan melalui dua tahap. Pertama semua fitur baik yang wajib maupun yang opsional, dari dua konsep atau lebih itu dibandingkan. Bila derajat kemiripannya terlalu dekat, maka masuklah kita ketahap yang kedua yaitu tahap dimana yang akan dibandingkan hanya fitur yang wajib saja.
G.3. Spreading activation network model
Model ini tidak berupa hierarki tetapi suatu jaringan yang memiliki hubungan yang kompleks antara satu konsep dengan konsep lainnya.

Komentar

  1. terimakasih . . berkat makalah anda saya jadi lebih mudah mencari data . . terimakasih . . maaf datanya saya copy :)

    BalasHapus
  2. Terimakasih Kakak makalah nya membuat sy lebih faham......izin copas 🙏

    BalasHapus
  3. terimakasih tambahnilmunya..izin copast ..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikolinguistik: Produksi kalimat

analisis novel Memoar Dokter Perempuan karya Nawal El Sadawi dengan pendekatan sosiologi sastra