analisis novel Memoar Dokter Perempuan karya Nawal El Sadawi dengan pendekatan sosiologi sastra

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Karya Sastra ibarat cermin, maksudnya karya sastra merupakan cerminan yang menggambarkan kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Oleh karena itu keadaan sebuah masyarakat dalam kondisi tertentu dapat dilihat dari karya sastra yang ditulis oleh pengarang. Rene Wellek dan Austin Warren (1989:101) menyatakan bahwa sastra menyajikan kehidupan dan kehidupan sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial. Karya sastra dapat pula dikatakan sebagai bentuk peniruan dunia subjektif manusia.
Karya sastra memiliki berbagai macam bentuk dan salah satu bentuknya yaitu novel. Novel merupakan  sebuah karangan yang berbentuk prosa. Susunan ceritanya panjang mengandung rangkaian kehidupan manusia dengan alam sekitarnya. Adapun dalam pembentukan sebuah novel dibutuhkan dua unsur yang saling berkaitan yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik yaitu unsur yang membangun cerita dari dalam dan membentuk sebuah keterpaduan, sedangkan unsur ekstrinsik yaitu unsur yang membangun karya sastra dari luar seperti sosilogi (keadaan sosial masyarakat) contohnya. Berkaitan dengan masnyarakat pengarang, Plato menganggap bahwa seni adalah mimesis atau tiruan dunia. Menurut Plato setiap benda yang berwujud mencerminkan suatu ide asli (semacam gambar induk). Adapun bagi Aristoteles mimesis dalam seni bukanlah semata-mata tiruan murni melainkan proses pelukisan kreatif. Karya seni adalah gambaran dalam arti kata bahwa yang digambarkan adalah peristiwa, tokoh, dan bentuk. Pendapat Aristoteles tersebut menyiratkan bahwa pengarang memiliki peran yang sangat besar dalam proses penciptaan. Dunia realitas hanyalah bahan karya sastra.  Pengarang  akan  mengolahnya  dengan  mempertimbangkan  estetika  dan dunia ideal yang diimpikan.
Sastra  sebagai  cerminan  kehidupan  masyarakat,  maka  wajar  sekali jika  teks  sastra  dapat  dikaji  dengan  pendekatan  sosiologi.   Untuk  mengungkap karya  sastra  ditinjau  dari  aspek  sosiologinya,  Wellek  dan  Warren  (1989:111) mengemukakan  tiga  jenis  pendekatan  yaitu   (1)  sosiologi  pengarang  yang mempermasalahkan status sosial, ideology sosial, dan lain-lainnya yang menyangkut pengarang sebagai penghasil karya sastra, (2) sosiologi karya sastra yang mempermasalahkan karya sastra itu sendiri, dan (3) sosiologi sastra yang mempermasalahkan  pembaca  dan  pengaruh  sosiologi  sastra  terhadap masyarakat.
Adapun makalah ini membahas tentang analisis novel Memoar Dokter Perempuan karya Nawal El Sadawi dengan pendekatan sosiologi sastra.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana realita sosial yang di gambarkan dalam novel Memoar Dokter Perempuan?



BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Profil Buku
Judul Buku                  : Memoar Dokter Perempuan
Judul Asli Buku          : Memoirs of a woman dokter
Nama Penulis              : Nawal El Sadawi
Penerjemah                  : Kustiniyati Noerhadi
Penerbit                       : Yayasan Obor Indonesia
Tempat Terbit              : Jakarta
Tahun Terbit                : 1990
Tebal buku                  : xvi+ 110 halaman
No ISBN                     : 9797-461-067-4
2.2 Sinopsis Novel
            Novel ini menceritakan kisah hidup seorang wanita berkebangsaan Mesir. Sejak kecil gadis ini tumbuh dalam sebuah keluarga yang selalu menjejalinya dengan pemikiran pemikiran bahwa wanita merupakan makhluk yang derajatnya dibawah lelaki. Dia diperlakukan berbeda dengan kakak laki-lakinya. Hidupnya selalu diatur oleh sebuah tradisi turun temurun yang ada dalam masyarakat tempatnya tinggal. Sebuah tradisi yang mengatur bahwa hidup seorang wanita adalah untuk mengabdikan diri di dapur dan memuaskan lelaki diatas ranjang. sebaliknya dengan lelaki, lelaki selalu dianggap benar dan mulia ibarat nabi. Lelaki yaitu seorang makhluk yang keinginannya harus selalu terpenuhi, yang kemarahannya serupa dengan murka yang sangat mengerikan. Tekanan-tekanan dan sejumlah aturan yang diterimanya sejak kecil menjadikannya membenci kodratnya sebagai perempuan sakaligus membulatkan tekadnya untuk mensejajarkan diri dengan lelaki.
            Seiring bertambahnya usia, gadis ini semakin menunjukkan pemberontakannya melawan tradisi dari keluarga maupun masyarakat. Selepas dari sekolah, dia meneruskan langkahnya kesebuah fakultas kedokteran dan menjadikannya satu-satunya mahasiswa perempuan dalam kelas yang seharusnya terdiri dari mahasiswa laki-laki saja. Tekanan-tekanan serta gunjingan maupun pandangan-pandangan yang memandangnya sebelah mata tak menjadikannya mundur. Keterlibatannya dengan mahasiswa lain, demikian pula dengan mayat laki-laki maupun perempuan di ruang outopsi semakin mengintensifkan pencarian identitas dirinya. Dia semakin menyadari bahwa kaum lelaki bukanlah nabi seperti yang selalu diajarkan ibunya. Dia semakin mendalami ilmu pengetahuan, dan menemukan banyak hal yang sebelumnya tak diketahuinya. Semakin lama bergumul dengan ilmu pengetahuan menjadikannya menyadari bahwa ilmu pengetahuan merupakan dewa yang penuh dengan kekuasaan. Namun perjalananya menjalankan profesinya sebagai dokter, kemudian ia menyadari ada beberapa hal yang tak mampu dijelaskan oleh ilmu pengetahuan dan salah satunya adalah kematian. Menyadari akan hal ini, ia mengalami dilema. Dia menyadari bahwa selama hidupnya dia selalu melancarkan serangan sengit dengan mengorbakan kewanitaannya, mengorbankan masa belianya untuk ilmu pengetahuan yang ternyata bukanlah dewa sebagaimana anggapannya sebelumnya. Dia menyadari bahwa yang selama ini dia lakukan hanyalah melawan dirinya sendiri, kewanitaannya, kemanusiaannya dan melawan kodratnya sendiri yang seharusnya dapat ia terima sebagai anugerah dari Tuhan. Pengalamanya dalam menjalani kehidupan yang banyak menyadarkannya akan hakikat kemanusiaan. Tidak hanya sisi kemanusiaan dirinya namun juga pada orang lain yang menderita dan tidak memiliki apa-apa. Hal inilah yang kemudian mencairkan kebekuan hatinya dan mengatarkannya pada sebuah sentuhan yang disebut kasih dan iba.
            Pelajaran demi pelajaran hidup terus diteguknya, gadis yang kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa itu mulai menjalani kehidupannya semula. Ia telah menjadi manusia yang telah berubah mendasar, dari seorang dokter yang ahli dalam profesi dengan status dan peran menjadi seorang anak dan saudara yang kembali dapat menghayati kasih serta kehangatan keluarga. Ia meneguk cinta dan kasih lingkungan, namun ada yang masih dicari olehnya yaitu cinta dari seorang lelaki idaman. Namun nasibnya buruk. Pada saat ia mulai mendambakan dan bermimpikan cinta, ia justru dipertemukan dengan seorang lelaki yang ternyata lemah. Lelaki yang kehilangan ibunya, dan mengharapkan suatu keibuan yang dapat dimiliknya secara sempurna. Ia masuk dalam perangkap melalui akad nikah. Bahkan praktekanya pun harus dihentikan, tak ada penghargaan sebagai pribadi mandiri dengan perkerjaan bermakna, seakan-akan perempuan nilainya hanya pada pengabdian dan pemilikan. Lelaki ini merasa unggul ditopang pemilikan dan pengabdian seorang perempuan. Lelaki yang lemah itu tiba-tiba mau berkuasa. Keadaan ini menjadikannya tidak betah berlama-lama menjalin kehidupan rumah tangga hal ini tergambar dari gambaran pengarang, "sosok tubuh kokoh dan kekar yang menempati lebih separuh tempat tidurku. Dan sebuah mulut besar yang tidak pernah berhenti makan. Dua kaki yang membuat kotor kaus kaki serta tempat tidur. Dan satu hidung besar yang membuatku tak bisa tidur sepanjang malam karena suara mendengkur dan mendesis". Ia sudah mencapai tahap kritis dan muak terhadap suaminya yang ingin menguasai dirinya. Ia membebaskan dirinya dan kembali pada kebebasan dan kemandiriannya sebelumnya.
            Selepas bercerai dari suaminya, dia hidup sendiri sebagai seorang wanita yang mandiri. Karena kesendiriannya itu ia kembali mendapat tekanan dari masyarakat. Dalam masyarakat tempatnya tinggal tidaklah lazim jika seorang wanita hidup sendirian. Lazimnya seorang wanita itu hidup bersama laki-laki, hidup dibawah naungan ketiak laki-laki. Melihat kondisi yang seperti itu, ia kembali mendalami profesinya untuk meraih ketenaran. Selama mendalami profesinya sebagai seorang dokter, ia bertemu dengan seorang rekan seprofesi yang mungkin bisa memahaminya. Iapun menjalani hubungan kencan dengan rekan tersebut untuk menilainya. Namun untuk kedua kalinya ia mengalami kekecewaan. Karena lelaki itu tak seperti harapannya. Lelaki itu takut pada pemikiran perempuan. Kekecewaan itu mengantarkannya kembali menekuni profesinya yang kemudian menjadikannya kaya raya sekaligus tenar. Namun meskipun begitu, ia mengalami kesunyian yang amat sangat, dan kesendirian yang begitu kejam. Iapun kembali mencari apa yang belum didapatkannya dalam hidup. Cinta sejati.
            Kemudian dia kembali dipertemukan dengan seorang lelaki seniman. Lelaki ini menganggap bahwa kedokteran juga merupakan sebuah seni. Mereka saling menemukan kepuasan dalam pekerjaan, dalam kejujuran, tak perlu kepura-puraan. Lelaki itupun menyukai perempuan yang jujur dan terbuka. Pertemuan mereka adalah pertemuan dua pribadi yang saling mengagumi dan berakhir dengan bahagia.
2.3 Landasan Teori
a. Sastra
            Secara etimologis, kata sastra dalam bahasa Indonesia (dalam bahasa Inggris sering disebut literature dan dalam bahasa Prancis disebut litterature) berasal dari bahasa  Sansekerta:  akar  kata  sas-,  dalam  kata  kerja  turunan  berarti “mengarahkan,  mengajar,  memberi  petunjuk  atau  instruksi”.  Akhiran  -tra,  biasanya  menunjukkan  “alat,  sarana”.  Jadi  sastra  dapat  berarti  “alat  untuk mengajar,  buku  petunjuk,  buku  instruksi,  atau  pengajaran”  (Endraswara,  2008:4).
            Menurut  Baribin  (1985:  52)  unsur  pembangun  fiksi  terdiri  dari  tema, tokoh  dan  penokohan,  alur  atau  plot,  latar,  gaya  bahasa,  pusat  pengisahan. Unsur  cerkaan  yang  terpenting  adalah  alur,  penokohan,  latar,  dan  pusat pengisahan.
b. Sosiologi Sastra
            Swingewood  (1972  dalam  Faruk,  1999)  menjelaskan  bahwa  sosiologi  sebagai studi  yang  ilmiah  dan  objektif   mengenai  manusia  dalam  masyarakat,  studi  mengenai lembaga-lembaga dan proses-proses sosial. Ritzer  (1975  dalam  Faruk,  1999)  mmengemukakan  bahwa  sosiologi  merupakan suatu  ilmu  pengetahuan  yang  multiparadigma.  Ritzer  menemukan  tiga  paradigma  yang mendasar dalam sosiologi, yaitu paradigma fakta-fakta sosial, paradigma definisi sosial, dan paradigma prilaku sosial. Paradigma yang pertama adalah fakta sosial yang berupa lembaga-lembaga  dan  struktur  sosial.  Fakta  sosial  itu  sendiri  dianggap  sebagai  sesuatu yang nyata yang berbeda dari dan berada diluar individu. Teori structural-fungsional dan teori  konflik  serta  metode  kuesioner  dan  interview  termasuk  dalam  paradigma  ini.
Paradigma  yang  kedua  yaitu  definisi  sosial  yang  memusatkan  perhatian  terhadap  cara individu-individu mendefinisikan situasi sosial mereka dan efek dari defenisi itu terhadap tindakan  yang  mengikutinya.  Dalam  paradigma  ini  yang  dianggap  sebagai  pokok persoalan  sosiologi  bukanlah  fakta  sosial  yang  “objektif”  melainkan  secara  subjektif menghayati fakta –fakta social tersebut. Teori-teori interaksionisme-simbolik , sosiologisfenomenologis,  dan  metode  obsevasi  termasuk  dalam  paradigma  ini.  Sedangkan  yang dianggap  pokok  persoalan  sosiologi  oleh  paradigma  ketiga  adalah  prilaku  manusia sebagai subjek yang nyata. Teori-teori yang masuk kedalam paradigma ini adalah metode eksperimental seperti yang biasa digunakan dalam psikologi.
Wolff  (1975  dalam  Faruk,  1999)  mengatakan  bahwa  sosiologi  kesenian  dan kesusastraan  merupakan  suatu  disiplin  yang  tanpa  bentuk,  tidak  terdefinisikan  dengan baik,  terdiri  dari  sejumlah  studi-studi  empiris  dan  berbagai  percobaan  pada  teori  yang agak lebih general, yang masing-masing memiliki kesamaan dalam hal bahwa semuanya berurusan  dengan  hubungan  antara  kesusastraan  denga  masyarakat.  Sosiologi  sastra menyelidiki  dasar  sosial  kepengarangan  seperti  dilakukan  Laurenson,  ada  sosiologi tentang  produksi  dan  distribusi  karya  sastra  seperti  dilakukan  Escarpit,  sastra  dalam masyarakat primitif seperti yang dilakukan oleh Radin dan Leach, hubungan antara nilainilai yang diekpresikandalam karya sastra dengan masyarakat seperti yang dilakukan oleh Albrecht.
John  Hall  (1979  dalam  Faruk,  1999)  menjelaskan  bahwa  dibandingkan  dengan teori-teori  sosial  yang  lain,  teori  sosial  marxis  menduduki  posisi  yang  dominan  dalam diskusi mengenai sosiologi  sastra. Ada tiga faktor yang menyebabkan teori sosial marxis sangat dominan, yaitu (1) Marx sendiri pada mulanya adalah seorang sastrawan sehingga teorinya  tidak  hanya  memberikan  perhatian  khusus  pada  sastra,  melainkan  dipengaruhi oleh pandangan dunia romantik, (2) teori social marx todak hanya merupakan teori yang netral  ,  melainkan  mengandung  pula   ideologi  yang  pencapaiannya  diusahakan  secara terus  menerus  oleh  pengikutnya,  (3)  teori  social  marx  terbangun  dari  suatu  totalitas kehidupan  sosial  secara  integral  dan  sistematik  yang  didalamnya  sastra  ditempatkan sebagai  salah  satu  lembaga  sosial  yang  tidak  berbeda  dengan  lembaga-lembaga  sosial lainnya, seperti ilmu pengetahuan, politik, dan lain-lain.
De  Geroge  dan  de  george  (1972  dalam  Faruk,  1999)  menjelaskan  bahwa  teori Marx secara garis besar adalah berikut. Pertama, menurut Marx manusia harus hidup lebih dahulu sebelum dapat berpikir. Bagaimana manusia berpikir dan apa yang mereka pikirkan secara erat bertalian dengan bagaimana mereka hidup. Kedua,  suatu  kesalahan  untuk  menganggap  kesadaran  merupakan  sesuatu  yang selalu dimiliki manusia dengan berbagai bunga-bunganya dan manusia secara intelektual mampu menentukan kondisi-kondisi kehidupannya.Ketiga,  struktur  sosial  suatu  masyarakat,  juga  stuktur  lembaga-lembaganya, moralitasnya,  agamanya,  dan  sastranya   ditentukan  oleh  kondisi-kondisi  kehidupan khususnya kondisi produktif kehidupan masyrakat itu sendiri.
Wellek  dan  Warren  mengemukakan  tiga  jenis  pendekatan  yang  berbeda  dalam sosiologi  sastra,  yaitu  (a)  sosiologi  pengarang,  yang  mempermasalahkan  status  sosial, ideology  sosial,  dan  lain-lain  yang  menyangkut  pengarang  sebagai  penghasil  karya sastra,;(b) sosiologi karya sastra yang mempermasalahkan karya sastra itu sendiri; dan (c) sosiologi  sastra  yang  mempermasalahkan  pembaca  dan  pengaruh  sosial  karya  sastra terhadap masyarakat. Ian  Watt  (dalam  Raman  Selden,  1996)  menemukan  tiga  macam  pendekatan sosiologi  sastra,  yaitu konteks  sosial  pengarang, sastra sebagai cermin  masyarakat, dan fungsi sosial sastra.Sosiologi pengarang meliputi kajian (a) bagaimana pengarang mendapatkan mata pencahariannya,  (b)  sejauh  mana  pengarang  menganggap  pekerjaannya  sebagai  suatu profesi, dan (c) masyarakat apa yang dituju oleh pengarang.Sastra  sebagai  cermin,  yang  mengkaji  (a)   sejauh  mana  sastra  mencerminkan masyarakat pada waktu karya sastra itu ditulis, (b) sejauh mana sipat pribadi pengarang mempengaruhi gambaran masyarakat yang ingin disampaikannya , dan (c) sejauh mana genre sastra yang digunakan pengarang dapat dianggap mewakili seluruh masyarakat. Fungsi  sosial  sastra  meliputi  (a)  sejauh  mana  sastra  dapat  berfungsi  sebagai perombak masyarakatnya, (b) sejauh mana sastra hanya berfungsi sebagai penghibur saja, dan (c) sejauh mana terjadi sintesis antara kemungkinan (a) dan (b). ;-Goldmann (1981: 55-74 dalam Faruk, 1999) dengan bukunya  The Epistemology of  Sociology  mengemukakan  bahwa  ada  dua  pendapat  mengenai  karya  sastra  pada umumnya,  yaitu  (a)  karya  sastra  merupakan  ekspresi  pandangan  dunia  secara  imajiner, dan  (b)  dalam  mengekspresikan  pandangan  dunia  itu  pengarang  menciptakan  semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasi secara imajiner.



BAB 3
HASIL ANALISIS
3.1 Aspek Sosiologi-mimetis
a. Penokohan
1. Tokoh Aku:
-pandai
"dialah yang terpandai dalam angkatannya di sekolah dasar tahun ini." Demikian ayahku menerangkan. (hal. 9)
Di akhir tahun pelajaran di sekolah menengah atas, aku ternyata berhasil meraih predikat terbaik dari kelompokku... (hal 17)
-cantik dan menarik
Aku tumbuh lebih cepat. Aku menjadi lebih tinggi dibandingkan saudara lelakiku, walau ia jauh lebih tua dariku. Aku memang tumbuh menjadi lebih tinggi dibandingkan anak-anak lain seusiaku. (hal 6.)
-pemberontak
" aku tak mau memakainya," kataku dengan nada marah. (hal 9)
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, suatu ketika kutinggalakn flat tanpa izin pada ibuku. (hal 11)
Kusaksikan betapa untaian rambut yang tebal dan panjang berguguran jatuh ke lantai karena menjadi mangsa jepitan gunting yang tajam itu. ...... demikianlah, aku pulang dengan langkah mantap dan berdiri tapat berhadapan dengan ibuku dengan potongan rambut yang baru. (hal 12)
Apa yang dapat aku lakukan adalah: menolak, menentang dan menentang! Aku hendak menolak kewanitaanku, menentang ciri pembawaanku, menentang semua keinginan-keinginan tubuhku. (hal 18)
-Memiliki semangat belajar yang tinggi
Aku ingin menunjukan kepada ibuku bahwa aku lebih pandai daripada saudara laki-lakiku, daripada lelaki yang menyebabkan ibu berharap aku sudi mengenakan baju berwarna krem. (hal 18)
Pendendam
Aku berniat membuat ibuku gemetar karena ketakutan dan memandang kepadaku dengan tatapan penuh hormat. (hal 20)
-Berani
Aku berdiri di halaman fakultas kedokteran, melihat sekelilingku. Ratusan pasang mata diarahkan kepadaku, mengandung pandangan tajam penuh pertanyaan. Aku hampir tak melihat kembali kepada mereka. Buat apa aku mengalihkan pandangan bila mereka memandang kepaaku,..... (hal 20)
Aku berdiri di ambang pintu kamar bedah mayat: bau tajam menusuk hidung...jenazah manusia berderet-deret di permukaan marmer putih...............hampir saja aku membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu, tetapi tidak, tak akan kulakukan itu! (hal 21)
-kaya raya dan terkenal
 Kamar praktekku dibanjiri lelaki, perempuan dan anak-anak, dan peti-petiku penuh dengan uang dan emas. Namaku menjadi tak kalah tenarnya dari nama bintang film....(hal 87)
2. Tokoh Suami Pertama
-insinyur
".....urusanku adalah bata-batu padat"
"apakah anda insinyur?"
"ya, betul" (hal 54)
-Berpikiran luas
Aku ingin seorang perempuan yang menjadi mitra,bukan pelayanku...........bagaimana mungkin perempuan seperti kamu disekap dalam rumah tanggauntuk sekadar memasak? Atau seorang dengan kepandaian dan ilmu seperti kamu membuang-buang hidupnya hanya untuk menyusui bayi seperti perempuan petani yang buta huruf..... (hal 57)
-sayang pada ibunya.
"kamu sayang pada ibumu?"
Sejenak air matanya menggenang. "sangat sayang",katanya. (hal 59)
-manja
Perkataan "mami" itu sungguh terdengar tak pada tempatnya, dan tak pantas keluar dari seorang berkumis tebal, yang membuat air mukanya tampak seperti wajah seorang anak kecil dengan seekor seranggabmati berwarna hitamditempelkan dibibir atasnya. (hal 59)
"kalau begitu kamu ingin kawin agar ada orang lain yang dapat memberikan segala sesuatu padamu?"
"tidak", katanya, namun kesannya seolah-olah ia berkata "ya". (hal 61)
-sok berkuasa dan egois
" aku adalah orang laki-laki!"
"memangnya kenapa?"
"aku yang bertanggung jawab!"
"bertanggung jawab atas apa?"
"atas rumah ini, berikut semua yang ada di dalamnya, termasuk kamu!" (hal 65)
"tutup saja praktekmu itu!" (hal 65)
-pencemburu
"aku tak mau kamu memeriksa tubuh-tubuh lelaki dan melepaskan bajunya." (hal 65)
"aku ingin memiliki kamu" (hal 67)
-plin-plan
........betapa tidak konsistennya kata-kata yang terlontar dari bibirnya...(hal 67)
3. Tokoh rekan dokter
-perhatian
Kudengar ia berkata kepadaku, "mengapa kamu tampaknya agak kacau pikiran?" (hal 76)
"aku sedang memikirkan kamu"
Ia memberi tekanan pada setiap kata yang diucapkannya, memusatkan pandangannya pada mataku....(hal 76)
-penakut
Ia tak menjawab, dan aku berusaha memaksanya memandang kepadaku. Tetapi matanya terus saja menghindar...(hal 78)
4. tokoh suami kedua.
-berpikiran luas
"aku berpendapat, bagaimanapun moleknya tubuh seorang perempuan, ia tak benar-benar memiliki kewanitaan alami apabila ia bodoh, atau lemah, suka berpura-pura, dan tak bersungguh-sungguh." (hal 101)
b. Status Sosial
-aku: seorang dokter, seorang anak perempuan yang memiliki kakak laki-laki dalam sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, nenek, dan kakak laki-laki
-suami pertama: insinyur, seorang anak yang kehilangan ibunya
-rekan: dokter
-suami kedua: seniman
c. sikap hidup
-aku: menolak tradisi yang berkembang di masyarakat. Tokoh aku ingin mensejajarkan perempuan dengan lelaki. Perempuan harus belajar, tidak hanya di dapur dan melayani suami. Seorang perempuan harus mandiri, tidak bergantung pada lelaki. Perempuan harus berani dan memiliki hak kebebasan dalam hidupnya, tidak hanya tunduk dan patuh dalam tekanan laki-laki. Laki-laki dan perempuan seharusnya dapat hidup berdampingan, sejajar, menjadi mitra untuk menjalani kehidupan dan salah satunya tidak dibenarkan menguasai yang lain.
-suami pertama: sejak kecil hidupnya bergantung pada ibunya. Segala sesuatu yang dibutuhkannya selalu disediakan dan dipenuhi oleh ibunya sehingga tumbuh menjadi pribadi yang manja dan egois. Ketika sosok tempatnya bergantung telah meninggal, dia tak mampu lagi hidup sendirian secara mandiri, sehingga dia harus mencari orang lain yang dapat memenuhi semua kebutuhannya.
-rekan dokter: takut pada perempuan yang memiliki pemikiran untuk sejajar dengan lelaki. Tokoh ini memandang perempuan hanya sebagai pemuas lelaki belaka.
-seniman: memiliki pandangan bahwa kecantikan perempuan tidaklah sempurna tanpa memiliki ilmu pengetahuan. Perempuan seharusnya bersikap tebuka dan tidak perlu berpura-pura.
d. Adat Istiadat
Adat istiadat dalam masyarakat menempatkan derajat perempuan dibawah derajat lelaki. Pendidikan dan pemikiran perempuan tidaklah penting, kerena pengabdian perempuan dalam hidupnya hanya dilakukan di dapur dan di ranjang. bahkan pendidikan tinggi hanya diisi oleh lelaki, hal ini ditunjukkan bahwa di kelas kedokteran hanya berisi mahasiswa laki-laki. Sejak kecil, perempuan dididik sedemikian rupa, dipersiapkan segala sesuatunya seperti fisiknya untuk kemudian memuaskan lelaki.
Adat juga mengajarkan bahwa perempuan seharusnya bergantung pada lelaki, karena perempuan merupakan makhluk lemah, dan sebaliknya lelakilah yang berkuasa. Perempuan tidak dibenarkan meninggalkan suaminya dan hidup mandiri, sehingga perempuan yang seperti itu akan mendapat cemoohan dari masyarakat.
e. perilaku sehari-hari tokoh
-tokoh aku
Sejak kecil tokoh aku rajin belajar, dan senang bermain dengan teman dan kakak laki-lakinya. Namun selalu mendapat tekanan dan paksaan dari ibu dan neneknya sehingga kesehariannyapun digunakan untuk memberontak pada aturan ibunya. Kemudian memasuki bangku kuliah, tokoh aku tumbuh menjadi orang yang kuat dan berani meskipun semua rekan belajarnya semuanya berjenis kelamin laki-laki. Bahkan ketika untuk pertama kalinya membedah mayat, dia tidak lari bergitu saja, tetapi tetap menjalankan pelajarannya untuk membedah mayat laki-laki. Kehidupannya di bangku kuliah digunakannya untuk belajar dan belajar hingga mengantarkannya pada satu titid bahwa ilmu pengetahuan adalah dewa yang mengetahui segalanya. Namun pengalamannya menyembuhkan pasien menyadarkannya bahwa ilmu pengetahuan bukanlah dewa, ada hal lain yang tidak akan pernah dijelasnya dengan ilmu pengetahuan yaitu kematian. Kegiatan tokoh aku selanjutnya adalah menekuni profesinya sebagai seorang dokter.
-suami pertama
Kegiatan sehari-hari suami pertama yaitu bekerja sebagai insinyur. Namun siafatnya yang manja, egois  dan selalu bergantung pada orang lain membuatnya memperlakukan tokoh aku dengan tekanan dan ingin berkuasa.
- rekan dokter
Kegiatan sehari-harinya sebagai dokter. Tidak memiliki sopan santun, bahkan ketika tokoh aku berkunjung dia berani menatap hal-hal yang tidak sopan seperti paha dll.
-seniman
Kegiatan sehari-harinya sebagai seorang seniman. Dia memperlakukan wanita secara terhormat, dan menghargai wanita.
f. Peristiwa
- tokoh aku diperintahkan memakai baju berwarna krem agar menarik hati relasi ayahnya
- tokoh aku memotong rambutnya yang menjadi kebanggan ibunya sebagai bentuk pemberontakannya pada ibunya.
-tokoh aku masuk ke fakultas kedokteran agar bisa sejajar dengan lelaki.
-tokoh aku menangani pasien yang melahirkan dimana anak yang dilahirkan selamat dan sang ibu meninggal.
-tokoh aku memutuskan untuk pergi ke desa dan mengabdikan dirinya.
-tokoh aku menolong pasien yang miskin dan sekarat
-tokoh aku menikah dengan seorang insinyur yang merupakan anak dari pasiennya yang meninggal.
-tokoh aku meninggalkan suaminya yang pertama
-tokoh aku mengenal rekan dokter
-tokoh aku mengenal sosok seniman yang menjadi suaminya yang kedua
3.2 Aspek Sosiologi-ekspresif
a. Curahan rasa pengarang terhadap situasi tertentu
-saat tokoh aku diperlakukan berbeda dari kakak lelakinya
Rambut saudara lelakiku dipotong pendek, lepas begitu saja dan seringkali tak disisir pila, sementara rambutku dibiarkan tumbuh semakin panjang dan ibuku suka menyisirku dua kali sehai, menjalinnya menjadi kepang-kepang yang ujungnya diikat dengan tali aret serta pita.
Saudara lelakiku bangun pada pagi hari dan boleh saja meninggalkan tempat tidurnya kusut sebagaimana adanya, seangkan aku diharuskan membersihkan dan membereskan tempat tidurku dan sekaligus tempat tidurnya.
Saudara lelakiku boleh saja keluar ke jalan untuk bermain-main tanpa harus meminta izin terlebih dahulu pada orang tuaku, lalu bole pulang kapan saja ia mau, sementara aku hanya boleh bepergian jika diizinkan orangtuaku. (hal 1-2)
-saat tokoh aku pertama kali mengalami menstruasi
Aku menyendiri di kamar selama empat hari. Aku tak sanggup bertatap muka dengan saudara laki-lakiku, ayahku, bahkan pembentu lelaki kami. Aku mengira, tentu mereka semua telah mendengar tentang peristiwa memalukan yang telah menimpa diriku.......aku mengunci diri di kamar, berusaha mengatasi gejala baru ini, betulkah cara tidak bersih seperti ini  adalah satu-satunya jalan bagi para gadis untuk memasuki masa kedewasaan?.....(hal 5)
-saat tokoh aku menuju kedewasaan
Aku benci jadi orang peremuan. Aku merasa seperti terbelenggu oleh rantai yang ditempa oleh darahku sendiri, mengikatku erat-erat pada tempat tidurku sehingga aku tak mampu berlari dan meloncat. Rantai yang dibentuk oleh sel-sel tubuhku sendiri, rantai yang membawa rasa malu dan penghinaan. Aku menyembunyikan diri sendiri untuk menutupi kehidupan yang menyedihkan ini.....dst (hal 5)
-saat tokoh aku lulus sekolah
Aku ingin menunjukkan pada ibuku bahwa aku lebih pandai daripada saudara laki-lakiku, daripada lelaki yang menyebabkan ibu berharap agar aku sudi mengenakan baju berwarna krem. Pendek kata, aku harus lebih pandai dari laki-laki manapun dan bahwa aku dapat melakukan tindakan yang dikerjakan oleh ayahku, bahkan masih banyak lagi. (hal 18)
-saat tokoh aku pertama kali membedah mayat laki-laki
Hampir saja aku membalikkan tubuh dan lari meninggalkan tempat itu, tetapi tidak, tak akan kulakukan itu! Disudut yang lain kulihat jenazah seorang perempuan yang telanjang bulat juga, sedang dikerumuni oleh para mahasisa laki-laki yang mengadakan pemeriksaan secara berani dan tanpa malu-malu. Maka, kembali kupandangi sosok tubuh lelaki tadi, lalu kuperiksa dengan tenang dan tanpa berkedip, dengan pisau bedah siap di tanganku.(hal 21)
-saat tokoh aku belajar
Aku sungguh sangat gembira dengan duniaku yang baru ini menempatkan laki-laki, perempuan, dan hewan secara berdampingan, semua itu dapat dibuktikan melalui ilmu pengetahuan yang boleh dikatakan tampil sebagai dewa yang berkuasa, adil, dan mahatahu. Aku menaruh kepercayaan kepada ilmu pengetahuan dan dengan penuh gairah memeluk ajaran-ajarannya. (hal 30-31)
-saat tokoh aku menangani pasien melahirkan dan si pasien meninggal.
Sesungguhnya, orang yang bersikap angkuh, sombong, dan sok kuasa, yang seanantiasa cenderung ingin pamer dan cerewet, yang dapat melahirkan gagasan dan inovasi, didunia ini ditopang oleh sesosok tubuh yang hanya seujung rambut terpisah oleh maut. Dan sekali jiwa terpisah dari tubuh, sesuatu yang tak terelakkan lagi pada suatu hari, tiada kekuasaan di dunia ini yang dapat mempersatukannya kembali.
Bagiku, dengan demikian ilmu pengetahuan jatuh dari singgasananya, tersungkur di kakiku, tanpa busana dan tanpa kekuasaan, sebagaimana sebelumnya lelaki telah tersungkur dihadapanku. (hal 38)
-saat tokoh aku pergi ke desa
Kusadari bahwa alam adalah dewa yang indah dan penuh kekuasaan, yang oleh kemanusiaan yang rapuh dan angkuh dalam kehidupannya yang pendek dikenakan baju yang murah dan buruk, sekadar demi rasa bangga dan kepuasan mencari sesuatu. (hal 41)
-saat tokoh aku menolong pasien miskin dan sekarat di desa
Rasanya sulit dipercaya bahwa kepercayaanku kepada kemanusiaan hidup kembali pada saat aku kehilangan kepercayaanku itu dan memutuskan bahwa hidup manusia kurang berisi dibanding dengan sebuah gelembung udara....juga bahwa aku kehilangan kepercayaan itu justru ditengah gemerlapnya sinar di kota yang penuh dengan gedung-gedung bercahaya, pesawat terbang  serta peralatan persenjataan yang serba canggih. Selanjutnya aku malah menemukan kepercayaanku itu kembali di dalam sebuah gua.... (hal 47)
Penulis hanya mampu menuliskan beberapa curahan pengarang dalam situasi tertentu saja karena keterbatasan waktu. Novel ini sebenarnya banyak mengandung curahan pengarang, karena sebagian besar penggambaran dalam novel menggunakan penggambaran langsung dari pengarang, bukan dari percakapan tokoh.
b.  Keadaan Jiwa Pengarang
NAWAL el Saadawi bukanlah nama yang asing lagi bagi masyarakat sastra di Indonesia. Wanita kelahiran Kafr Tahla-tepi Sungai Nil-Mesir, 72 tahun yang lalu ini selalu membangkitkan emosi pembaca dengan bahasa emotif (emotife language) di dalam setiap karyanya. Sejauh pengamatan sastra Arab yang telah dikaji, dalam setiap karya Nawal el Saadawi selalu menampilkan dan menonjolkan kritik yang cukup pedas sekaligus penggambaran realitas sosial politik dengan menggunakan gaya bahasa harian dalam penceritaannya, natural, dan tanpa embel-embel analitik. Nawal el Saadawi tidak mengikuti aliran al-fanna al-kamil (keindahan) yang kebanyakan digunakan sastrawan Arab.
Bahasa sarkatis yang sering digunakan Nawal ini cukup membuat geram para intelektual dan Pemerintah Mesir. Hal itu harus dibayar mahal olehnya. Pada 6 September 1981 ia dijebloskan ke dalam penjara Barrages di Mesir pada masa pemerintahan Anwar Sadat atas tuduhan perbuatan kriminal melawan pemerintahan yang sah. Namun, di dalam sel Saadawi terus berkarya. Meski dengan kertas toilet dan pensil alis, Saadawi diam-diam tetap menulis. Sekeluarnya dari penjara, tulisan itu menghasilkan esai berjudul Memoar dari Penjara Perempuan. Dalam buku itu, dia mengisahkan bahwa ketimpangan sosial-ekonomi dan jender merupakan penyebab masuknya perempuan ke dalam sel penjara tersebut.
            Dalam novel ini terdapat rentetan frasa dengan nada provokatif, membuat novel ini meninggalkan kesan yang sangat dalam, bahwa penulis menentang kultur sekaligus doktrin dan undang-undang di negaranya. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut:
"...Mengapa kehidupan tak berjalan sebagaimana mestinya ? Mengapa tak terdapat pemahaman yang lebih besar terhadap kebenaran dan keadilan ? Mengapa para ibu tak mengakui bahwa anak perempuan sama saja dengan anak laki-laki atau mengapa lelaki tak mau mengakui perempuan sebagai orang yang sederajat dan sebagai mitra, mengapa masyarakat tak mengakui hak seorang perempuan untuk hidup normal dengan menggunakan otak ataupun tubuhnya."
            Pergolakan jiwa yang dihidangkan Nawal dalam novel ini tidak terlepas dari jiwa Nawal yang berontak dengan aturan-aturan yang mengikatnya sebagai seorang wanita. Karena itu, di dalam novel ini menampilkan sarkasme-sarkasme yang ditujukan pada kaum laki-laki. Hal ini juga menyangkut kritik pragmatik, sebagai pertimbangan pengaruh karya sastra terhadap pembaca. Disadari atau tidak. Nawal telah menciptakan jiwa-jiwa pemberontak dengan bahasanya yang terkesan memprovokasi yang membangkitkan emosi para pembaca.
3.3 Aspek Sosiologi-Represif
a. Keutuhan isi yang layak menjadi tauladan bagi pembaca
1. Seorang perempuan berhak menuntut atas kesetaraan pendidikan
2. Seorang perempuan hendaknya senantiasa bersemangat untuk belajar agar tidak terkungkung dalam kebodohan sehingga mudah ditindas dan dimanfaatkan oleh pihak yang tidak baik.
3. Seorang perempuan berhak menentukan arah hidupnya sendiri
4. Seorang perempuan hendaknya mandiri dan tidak terlalu bergantung pada laki-laki
5. seorang perempuan hendaknya melawan penindasan meskipun itu dilakukan ditingkat keluarga dan menuntut haknya.
6. keharmonisan rumah tangga tokoh aku dan seniman. Hendaknya pasangan suami istri saling menghormati profesi masing-masing. Saling memahami dan menghargai satu sama lain sehingga tercipta kehidupan yang harmonis.
7. ilmu pengetahuan bukanlah dewa yang mengetahui segalanya, ada beberapa hal yang tidak dapat digapai ilmu pengetahuan seperti kematian. Seorang manusia hendaknya tidak mendewakan ilmu pengetahuan, karena secanggih apapun ilmu pengetahuan tetap saja terbatas dan ada hal-hal yang tak mampu dijelaskannya. Akan tetapi mampu dijawab melalui religiusitas. Hendaknya manusia tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan saja, akan tetapi diimbangin dengan religi.
b. Keutuhan isi yang tidak layak menjadi tauladan bagi pembaca
1.  seorang perempuan yang menuntut kesetaraan mutlak antara laki-laki dan perempuan. Hal ini tidak patut di contoh karena dalam kehidupan, laki-laki dan perempuan memiliki perannya masing-masing yang saling melengkapi satu sama lain. Kedua peran ini tidak akan pernah bisa disamakan. Laki-laki dan wanita memiliki kodrat masing-masing.
2. seorang istri yang menentang mutlak suaminya. Hal ini tidak patut diteladani karena hendaknya seorang istri mematuhi suaminya selama perintah suami itu benar dan memiliki manfaat, kalaupun perintah suami itu menyimpang maka hendaknya istri menegurnya dengan baik-baik.
3. seorang suami yang egois dan terlalu mengekang istrinya. Hal ini tidak patut diteladani karena istri bukanlah sebuah barang yang bisa dimiliki seutuhnya dan diperlakukan semena-mena. Istri juga merupakan manusia sehingga perlu diperlakukan secara manusiawi, yang pendapatnya juga harus didengarkan.
4. seorang ibu yang mengekang anak perempuannya sesuai dengan adat istiadat. Hal ini tidak patut diteladani, hendaknya seorang ibu mendidik anak perempuannya dengan penuh kasih sayang, tidak menggunakan pemaksaan yang berlebihan dan tidak pula menggunakan kekerasan. Seorang ibu hendaknya memberikan pemahaman yang baik pada anaknya tentang keperempuanan yang memang secara kodrat berbeda dengan laki-laki seperti menstruasi, sehingga anak tidak mengalami keterkejutan ketika mengalaminya. Ibu juga hendaknya menjalin komunikasi yang baik dengan anak, anak diberi kesempatan untuk menyempaikan apa yang mengganggu pikirannya dan menyampaikan apa yang diinginkannya.
5. seorang saudara laki-laki yang melakukan hal tidak senonoh pada saudara perempuannya dan saudara perempuannya itu tidak menceritakannya pada orang yag lebih dewasa dalam keluarga itu. Hal ini sangat tidak patut dicontoh, hendaknya anak perempuan itu melaporkannya pada orang yang lebih dewasa kemudian orang yang lebih dewasa itu menasihati anak laki-laki tersebut bahwa hal yang dikalukan itu dilarang dilakukan apalagi dilakukan pada saudara perempuan sendiri.
6. adat istiadat masyarakat yang terlalu mengagungkan laki-laki. Hal ini tidak patut dicontoh. Karena hal ini akan memberikan otoritas pada laki-laki yang justru akan menindas perempuan.



BAB 4
PENUTUP
4.1 Simpulan
            Novel ini mengandung pergolakan jiwa pengarang. Pergolakan jiwa yang dihidangkan dalam setiap karya-karya Nawal el Saadawi tidak terlepas dari jiwa Nawal yang berontak dengan aturan-aturan yang mengikatnya sebagai seorang wanita. Karena itu, di dalam karya-karyanya selalu menampilkan sarkasme-sarkasme yang ditujukan pada kaum laki-laki dan penguasa. Hal ini juga menyangkut kritik pragmatik, sebagai pertimbangan pengaruh karya sastra terhadap pembaca. Disadari atau tidak. Nawal telah menciptakan jiwa-jiwa pemberontak dengan bahasanya yang terkesan memprovokasi yang membangkitkan emosi para pembaca. Adapun tema yang diangkat Nawal yang cenderung monoton, terfokus pada kegelisahan hidup
4.2 Saran

Penulisan makalah ini tentulah belum sempurna, mengingat keterbatasan waktu, referensi, dan pengetahuan penyusun sendiri yang masih sangat minim. Oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik konstruktif dari pembaca sekalian. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini, baik bantuan materi maupun non materi. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan khususnya untuk penyusun sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikolinguistik: Penyimpanan dan Retrieval Kata

Psikolinguistik: Produksi kalimat