makalah sintaksis
MAKALAH
Penggunaan Kata : adverbia, konjungsi dan preposisi
Muqoddimah fii Ilmi Nahwi
Pendidikan Bahasa Arab
Disusun Oleh:
Endah Suprihatin
(2303412014)
Bahasa dan Sastra Asing
Fakultas Bahasa dan Seni
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
Kata pengantar
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan resume ini. Shalawat serta
salam tak lupa penyusun panjatkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW
beserta para keluarga, sahabat dan para umatnya yang insyaAllah setia sampai
akhir jaman. Makalah ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Muqoddimah
fii ilmi nahwi. Makalah ini disusun dengan kerja keras dan dukungan dari
berbagai pihak. Penyusun telah berusaha untuk dapat memberikan serta mencapai
hasil yang semaksimal mungkin dan sesuai dengan harapan, walaupun di dalam
pembuatannya penyusun menghadapi berbagai kesulitan karena keterbatasan ilmu
pengetahuan dan keterampilan yang penyusun miliki.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan dan pembuatan makalah ini,
masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu saran dan kritik yang
membangun sangat penulis butuhkan untuk dapat menyempurnakannya di masa yang
akan datang. Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
dan teman-teman maupun pihak lain yang berkepentingan.
Semarang, 9 April 2013
Hormat Kami,
Penyusun
Daftar Isi
Halaman sampul.........................................................................................................................1
Kata pengantar............................................................................................................................2
Daftar isi.....................................................................................................................................3
Bab 1 Pendahuluan
A.
Latar
belakang..............................................................................................................4
B.
Rumusan
masalah.........................................................................................................4
C.
Tujuan..........................................................................................................................4
Bab 2 Pembahasan
A.
Adverbia
A.1 Pengertian adverbia.............................................................................................5
A.2 Penggunaan adverbia berdasarkan makna inhern...............................................5
B. Konjungsi
B.1 Pengertian
konjungsi.........................................................................................13
B.2 Penggunaan
konjungsi koordinatif....................................................................13
B.3 Penggunaan konjungsi
subordinatif..................................................................16
C. Preposisi
C.1 pengertian
preposisi..........................................................................................18
C.2 Penggunaan
preposisi........................................................................................19
Bab 3 Penutup
Kesimpulan.....................................................................................................................21
Kritik dan saran...............................................................................................................21
Daftar pustaka..........................................................................................................................22
BAB I
Pendahuluan
A.
Latar
belakang
Dalam kajian morfologi
lazim dibedakan adanya dua macam kelas kata yaitu kata-kata dari kelas terbuka
dan kata-kata dari kelas tertutup. Disebut kelas terbuka karena anggota kelas
ini dapat bertambah atau berkurang sewaktu-waktu sesuai dengan perkembngan budaya dan
kemasyarakatan, sebaliknya kelas tertutup cenderung untuk tidak bertambah.
Anggota kelas terbuka yaitu kata-kata yang berkategori nomina, verba dan
ajektifa. Sedangkan anggota kelas tertutup yaitu adverbia, konjungsi, preposisi
dsb.
Dalam makalah ini
penyusun mencoba mengidentifikasikan penggunaan kata-kata anggota kelas
tertutup yaitu adverbia, konjungsi dan preposisi karena penyusun memandang
ketiganya cukup bermasalah dalam proses penyusunan satuan-satuan sintaksis.
B.
Rumusan
masalah
1.
Bagaimana
penggunaan kata adverbia?
2.
Bagaimana
penggunaan kata konjungsi?
3.
Bagaimana
penggunaan kata preposisi?
C.
Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai dengan dibuatnya makalah ini yaitu untuk
mengetahui penggunaan kata adverbia, konjungsi dan preposisi.
BAB
II
Pembahasan
A.
Adverbia
a.
Pengertian
Adverbia
Adverbia
adalah ketegori yang mendampingi nomina, verba, dan ajektifa dalam pembentukan
frase; atau dalam pembentukan sebuah klausa.
b.
Pembagian
adverbia
Berdasarkan
makna inhern yang dikandungnya, adverbia terbagi menjadi 15 kelas yaitu
sangkalan (negasi), jumlah (kuantitas), pembatasan, penambahan, keseringan
(frekuensi), kualitas, waktu (kala), keselesaian, kepastian, keharusan,
derajat, kesanggupan, harapan, keinginan, dan kesungguhan.
1.
Adverbia
sangkalan
Yaitu
averbia yang menyatakan ingkaran atau menyangkal akan ketegori yang
didampinginya. Yang termasuk kategori ini yaitu kata bukan, tidak, tak, tanpa,
dan tiada.
·
Adverbia
bukan digunakan dengan aturan:
1)
Untuk
menyangkal kebenaran sesuatu.
Contoh:
ini bukan bukuku.
2)
Untuk
mengngkari sesuetu dengan disertai koreksinya
Contoh:
ini bukan bukuku, melainkan buku mayya.
·
Adverbia
tidak atau bentuk singkatnya tak. Digunakan untuk menyangkal sesuatu
Contoh:
Saya yakin dia tidak akan gagal.
Catatan:
sangkalan tidak dapat mendampingi nomina yang berlaku sebagai keterangan obyek
dalam klausa yang predikatnya memiliki sangkalan tidak. Contoh: “beliau tidak
memberikan apa-apa, tidak uang , tidak barang.” Hal ini terjadi karena
sebenarnya di depannomina itu ada verba memberikan yang di lesapkan.
·
Adverbia
tanpa. Kata tanpa memiliki arti tidak.
Contoh:
kita takkan berhasil tanpa seizin Tuhan Yang Maha Kuasa.
·
Adverbia
tiada. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
1)
Untuk
menyatakan “tidak ada”.
Contoh:
Tiada Tuhan selain Alloh
2)
Untuk
menyatakan “tidak pernah”
Contoh:
aku tiada mencintaimu.
2.
Adverbia
penjumlahan
Yaitu
adverbia yang menyatakan banyak atau kuantitas terhadap kategori yang
didampingi. Yang termasuk kategori ini yaitu kata banyak, sedikit, beberapa,
semua, seluruh, sejumlah, separuh, setengah, kira-kira, sekitar, dan kurang
lebih.
·
Adverbia
banyak menunjukan jumlah yang lebih.
Contoh:
Dia memiliki banyak saudara di Medan
·
Adverbia
sedikit menunjukan jumlah yang kurang.
Contoh:
tambahkan garam sedikit lagi
·
Adverbia
beberapa menunjukan jumlah yang tidak banyak.
Contoh:
apinya menjalar keluar hingga menghanguskan beberapa rumah.
Catatan:
untuk nomina tak terhitung seperti air harus disertai dengan ukuran atau satuan
nomina itu. Contoh: beberapa gelas air.
·
Adverbia
semua menunjukan “tiada terkecuali”.
Contoh:
semua mahasiswa wajib menaati tata tertib kampus.
Catatan:
nomina tak terhitung seperti air tidak bisa diberi adverbia semua.
·
Adverbia
seluruh menunjukan arti “tiada terkecuali” dalam arti satu kesatuan.
Contoh:
seluruh alam semesta ini tunduk pada kekuasaan Alloh.
Catatan:
perbedaan adverbia semua dengan seluruh adalah adverbia semua menyatakan satu
kesatuan dari banyak benda atau hal, sedangkan seluruh menyatakan keseluruhan
dari semua benda atau hal.
·
Adverbia
sejumlah menunjukan bunyak yang tidak tentu.
Contoh:
dia dikeroyok sejumlah orang yang tidak dikenal.
·
Adverbia
separuh atau setengah menunjukan jumlah seperdua dari jumlah keseluruhan.
Contoh:
air di bak mandi tinggal setengah.
·
Adverbia
kira-kira atau sekitar menunjukan jumlah tak tentu dari suatu bilangan benda.
Contoh:
minyak yang kita butuhkan kira-kira 5 liter.
Catatan:
adverbia kira-kira dan sekitar tidak dapat berposisi di muka bilangan bukan
pembulatan.
·
Adverbia
kurang lebih. Penggunaannya sama dengan adverbia kira-kira.
3.
Adverbia
pembatasan
Yaitu
adverbia yang menyatakan batas dari suatu hal. Yang termasuk adverbia ini yaitu
hanya, Cuma, saja, dan belaka.
·
Adverbia
hanya digunakan untuk menyatakan pembatasan terhadap kategori yang didampingi.
Contoh:
hanya ada kamu dihatiku.
·
Adverbia
Cuma. Pengguanaanya sama dengan ketegori adverbia hanya.
·
Adverbia
saja. Diletakkan disebelah kanan nomina atau verba.
Contoh:
dia saja bisa, kenapa aku tidak?
·
Adverbia
belaka. Penggunaannya sama dengan adverbia saja.
Contoh:
kata-katanya hanya sekedar basa-basi saja.
4.
Adverbia
derajat
Yaitu
adverbia yang menyatakan tingkatan mutu keadaan atau kegiatan. Yang termasuk
adverbia ini yaitu sangat, amat, sekali, paling, lebih, cukup, kurang, agak,
hampir, rada, maha, nian, dan terlalu.
·
Adverbia
sangat. Adverbia ini memiliki tiga fungsi yaitu
(1)
menyatakan
keadaan yang tidak ada yang melebihi
tarafnya atau derajatnya, diletakkan di sebelah kiri ajektiva. Contoh : saya
sangat bahagia dapat bertemu dengan anda.
(2)
Menyatakan
suatu taraf tindakan yang tidak ada yang melebihi, diletakkan di sebelah kiri
verba yang berkategori ajektiva. Contoh: nilai ujianmu sangat mengecewakan.
(3)
Menyatakan
taraf tidak ada yang melebihi, diletakkan di sebelah kiri verba. Contoh: uang
pemberianmu itu sangat berguna bagi kehidupan kami.
·
Adverbia
amat. Adverbia ini menyatakan tingkatan tertinggi atau utama. Contoh: rumahnya
amat besar.
·
Adverbia
sekali. Hampir sama dengan adverbia sangat. Perbedaanya terlatak pada
penempatannya yaitu di kanan kategori yang di dampinginya. Contoh: saya bahagia
sekali dapat bertemu dengan anda.
Catatan:
kata sekali yang berposisi di kiri verba bukanlah adverbia melainkan numeralia.
Contoh: sekali melihatmu, aku langsung jatuh cinta.
·
Adverbia
paling. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)
Untuk
menyatakan keadaan yang tertinggi derajatnya, diletakkan di sebelah kiri
ajektiva. Contoh: kamu memang yang paling cantik dimataku.
(2)
Untuk
menyatakan keadaan yang tertinggi derajatnya, diletakkan di sebelah kiri verba.
Contoh: hal yang paling menyenangkan dalam hidupku adalah saat berdua bersama
kamu.
Catatan:
kata pali dapat di reduplikasi menjadi paling-paling untuk menyatakan tindakan
tertinggi yang akan terjadi. Contoh: kalo aku menyatakan cinta padanya, paling-paling
dia menolak.
·
Adverbia
lebih. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)
Untuk
menyatakan keadaan yang lebih tinggi derajatnya dari yang lain, diletakkan
disebelah kiri ajektifa. Contoh: wajahnya lebih cantik dari wajahmu.
(2)
Untuk
menyatakan keadaan yang lebih tinggi derajatnya dari yang lain, diletakkan
disebelah kanan verba. Contoh: badminton lebih disukai daripada pingpong.
Catatan:
adverbia lebih bisa juga mengisi fungsi predikat dengan makna berada diatas
seharusnya. Contoh: uang yang anda berikan sudah lebih.
·
Adverbia
cukup. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)
Untuk
menyatakan tindakan yang memedai derajatnya, diletakkan di sebelah kiri
ajektiva. Contoh: saya cukup bangga dapat mengenalmu
(2)
Untuk
menyatakan tindakan yang memedai derajatnya, diletakkan di sebelah kiri verba.
Contoh: prestasimu cukup membanggakan.
Catatan:
adverbia cukup dapat juga mengisi fungsi predikat dengan makna memadai. Contoh:
penghasilan kami sudah cukup.
·
Adverbia
kurang. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)
Untuk
menyatakan keadaan dibawah derajat memadai, ditempatkan disebelah kiri
ajektifa. Contoh: anak itu memang kuarang rajin.
(2)
Untuk
menyatakan keadaan dibawah derajat memadai, ditempatkan disebelah kiri verba.
Contoh: mereka kurang memperhatikan nasehat guru.
(3)
Untuk
menyatakan keadaan dibawah derajat memadai, ditempatkan disebelah kiri nomina.
Contoh: ban mobil itu kurang angin.
Catatan:
adverbia kurang dapat mengisi fungsi predikat yang menyatakan jumlah yang tidak
memadai. Contoh: perhatian orang itu memang kurang.
·
Adverbia
agak. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)
Untuk
menyatakan mendekati keadaan sebenarnya, ditempatkan di sebelah kiri ajektiva.
Contoh: tanki itu hampir penuh.
(2)
Untuk
menyatakan tindakan atau kelakuan yang sebenarnya, ditempatkan di sebelah kiri
verba. Contoh: maaf, sya hampir lupa dengan janji itu.
·
Adverbia
rada. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan keadaan yang hampir sebenarnya,
secara terbatas dapat menggantikan posisi agak. Contoh: anak itu memang rada
nakal.
·
Adverbia
maha. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan keadaan yang sangat, lazim
digunakan untuk menyebut sifat Alloh. Contoh: Alloh Yang Maha Kuasa.
·
Adverbia
nian. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan keadaan yang lebih, ditempatkan
disebelah kanan ajektifa dan dapat menggantikan posisi adverbia sekali. Contoh:
cantik nian gadis itu.
·
Adverbia
terlalu. Adverbia ini diguanakan untuk menyatakan keadaan melebihi yang
seharusnya. Contoh: bagiku harganya terlalu mahal.
5.
Adverbia
kala
Yaitu
adverbia yang menyatakan waktu tindakan dilakukan. Yang termasuk adverbia ini
yaitu sudah, telah, sedang, lagi, tengah, akan, bakal, dan mau.
·
Adverbia
sudah. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)
Untuk
meyatakan tindakan atau kejadian yang terjadi pada waktu yang lalu. Contoh:kami
sudah makan.
(2)
Untuk
menyatakan suatu keadaan telah dan masih berlangsung. Contoh: nenekku sudah
tua.
·
Adverbia
telah. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan atau perbuatan yang
terjadi pada waktu yang lalu;dan untuk menyatakan keadaan sudah berlalu (dan
masih berlangsung). Contoh: nenekku telah tua.
·
Adverbia
sedang, lagi dan tengah. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan atau
kejadian yang masih berlangsung. Contoh: kakek (sedang/tengah/lagi) mandi di
kamar mandi umum.
Catatan:
adverbia lagidapat berposisi disebelah kanan kate berkategori verba atau
ajektiva dengan makna kembali atau berulang. Contoh: kakek makan lagi
·
Adverbia
akan. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)
Untuk
menyatakan suatu tindakan atau kejadian bakal terjadi, diletakkan di sebelah
kiri verba. Contoh: saya akan melamarya besok
(2)
Untuk
menyatakan suatu keadaan bakal terjadi, diletakkan di sebelah kiri ajektiva.
Contoh: sebentar lagi dia akan sembuh.
Catatan:
antara adverbia akan dengan ajektifa yang didampinginya lazim disisipkan verba
menjadi. Contoh: akan menjadi sukses.
·
Adverbia
bakal. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan sesuatu akan dilakukan atau
suatu keadaan akan terjadi, dapat digunakan secara terbatas untuk menggantikan
adverbia akan. Contoh: saya (akan/bakal) membayarnya besok.
·
Adverbia
hendak. Adverbi ini digunakan untuk menyatakan suatu tindakan akan dilakukan.
Contoh: beliau hendak menikah bulan depan.
·
Adverbia
mau. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan suatu tindakan akan dilakukan.
Contoh: rumah ini akan dijual.
6.
Adverbia
keselesaian
Yaitu
adverbia yang menyatakan tindakan atau perbuatan (dalam fungsi predikat) apakah
sudah selesai, belum selesai atau sedng dilakukan.. yang termasuk adverbia ini
yaitu belum, baru, mulai, sedang, lagi, tengah, masih, sudah, telah, sempat,
dan pernah.
·
Adverbia
belum. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)
Untuk
menyatakan tindakan belum dilakukan atau belum terjadi, diletakkan disebelah
kiri verba. Contoh: saya belum makan dari tadi pagi.
(2)
Untuk
menyatakan keadaan belum terjadi, diletakkan disebelah kiri ajektiva. Contoh:
rambutnya belum panjang.
·
Adverbia
baru. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan atau perbuatan belum lma
berlangsung. Contoh: ibu baru menelpon saya.
·
Adverbia
mulai. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan yang baru saja
berlangsung. Contoh: para tamu undanganmulai berdatangan.
·
Adverbia
sedang, lagi dan tengah. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan masih
berlnagsung. Contoh: aku sedang/lagi/tengah mengerjakan tugas.
·
adverbia
masih. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan yang belum selesai.
Contoh: beliau masih beristirahat.
·
Adverbia
sudah dan telah. Adverbi ini digunakan untuk menyatakan tindakan selesai.
Contoh: saya sudah/telah membaca novel Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci
Angin.
·
Adverbia
pernah. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan sudah terjadi. Contoh:
beliau pernah memarahi saya.
·
Adverbia
sempat. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan:
(1)
Suatu
tindakan sudah selesai. Contoh: beliau sempat singgah ke rumah kami.
(2)
Suatu
keadaan telah berlalu. Contoh: harga munyak sempat naik.
7.
Adverbia
kepastian
Yaitu
adverbia yang menyatakan tindakan yang pasti terjadi maupun yang diragukan
kejadiannya. Yang termasuk adverbia ini yaitu pasti, tentu, memang, mungkin,
agaknya, kiranya, barang kali, rasanya dan rupanya.
·
Adverbia
pasti dan tentu. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan kepastian, ditempatkan
di awal klausa, disebelah kanan subjek, atau pada akhir klausa. Contoh:
pasti/tentu dia datang.
·
Adverbia
memang. Adverbia ini digunakan untuk menyatakn kepastian yang disertai
penegasan. Contoh: dia memang belum bayar.
·
Adverbia
barangkali. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan ketidakpastian.
·
Adverbia
mungkin. Adverbia ini digunakan untuk menyetakan kemungkinan atau
kebelumpastian. Contoh: mungkin dia datang terlambat.
·
Adverbia
kiranya. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan kemungkinan yang diperkirakan.
Contoh: kita kiranya datang lebih cepat.
·
Adverbia
rasanya, agaknya dan rupanya. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan ketidak
pastian secara bebas. Adverbia ini dapat menggantikan adverbia kiranya. Contoh:
mereka kiranya/rasanya/agaknya/rupanya belum sarapan.
8.
Adverbia
menyungguhkan.
Yaitu
adverbia yang menyatakan keungguhan atau menguatkan. Yang termasuk adverbia ini
yaitu sesungguhnya, sebenarnya, sebetulnya, dan memang.
·
Adverbia
sesungguhnya. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan kesungguhan, diletakkan
pada awal klausa atau antara subjek dan predikat. Contoh:saya sesungguhnya tahu
persis.
·
Adverbia
sebenarnya dan sebetulnya. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan kesungguhan
dan membenarkan, diletakkan pada awal klausa atau diantara subjek dan predikat.
Contoh: sebenarnya saya tidk suka dengan beliau.
·
Adverbia
memang. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan kepastian atau kesungguhan.
Contoh: dia memang suami saya.
9.
Adverbia
keharusan
Yaitu
adverbia yang menyatakan keharusan atau ketidakharusan dilakukannya sesuatu.
Yang termasuk adverbia ini yaitu harus, wajib, mesti, boleh dan jangan.
·
Adverbia
harus, wajib dan mesti. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan suatu tindakan
harus dilakukan. Contoh: kamu harus/wajib/mesti datang dalam resepsi pernikahan
saya besok.
·
Adverbia boleh. Adverbia ini digunakan untuk
menyatakan berkenan atau keizinan. Contoh: kalian boleh duduk di sini.
·
Adverbia
jangan. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan larangan untuk melakukan
sesuatu. Contoh: anda jangan duduk di sini.
10. Adverbia keinginan
Yaitu
adverbia yang menyatakan keinginan. Yang termasuk adverbia ini yaitu ingin,
mau, hendak, suka dan segan.
·
Adverbia
ingin, mau dan hendak. Adverbia ini digunakn untuk menyatakn rasa ingin.
Contoh: saya ingin/mau/hendak makan sate.
·
Adverbia
suka. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan keinginan terhadap sesuatu.
Contoh: ibu sangat suka minum teh.
·
Adverbia
segan. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan ketidakinginan. Contoh: saya
segan menemui beliau.
11. Adverbia frekuensi
Yaitu
adverbia yang menyatakan berapa kali suatu tindakan atau perbuatan dilakukan
atau terjadi.yang termasuk adverbia ini yaitu sekali, sekali-kali, sesekali, sekali-sekali, jarang, kadang-kadang, sering,
acap, biasa, selalu dan senantiasa.
·
Adverbia
sekali. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan dilakukan sekali.
Contoh: nasi ini cukup untuk sekali makan.
·
Adverbia
sesekali. Adverbia yang digunakan untuk menyatakan tindakan yang terjadi tidak
sering. Contoh: kami sesekali menonton bioskop di kota.
·
Adverbia
sekali-kali. Adverbia ini biasanya didahului adverbia ingkaran jangan,
digunakan untuk menyatakan satu kali saja tidak. Contoh: anda jangan
sekali-kali melanggar aturan !
·
Adverbia
sekali-sekali. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan akan kejadian
yang jarang terjadi. Contoh: sekali-sekalikami diajak ayah menonton bioskop.
·
Adverbia
jarang. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan kejadian yang tidak
sering terjadi. Contoh: beliau jarang makan diluar.
·
Adverbia
kadang-kadang. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan yang terjadi
sewaktu-waktu. Contoh: kadang-kadang saya teringat akan beliau.
·
Adverbia
sering. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan yang acap terjadi.
Contoh: dia sering duduk melamun seorang diri.
·
Adverbia
acap atau acapkali. Adverbia ini digunakan untuk menunjukan tindakan yang
jarang terjadi. Contoh: kami acapkali masih teringat dia.
·
Adverbia
biasa. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan yang lazim terjadi.
Contoh: kami biasa makan dulusebelum pergi ke kampus.
·
Adverbia
selalu. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan yang tidak pernah
tidak terjadi. Contoh: dia selalu datang terlambat.
·
Adverbia
senantiasa. Adverbia yang digunakan untuk menyatakan tindakan yang idak pernah
tidak dilakukan. Contoh: kami senantiasa membayar pada setiap awal bulan.
12. Adverbia penambahan
Yaitu
adverbia yang menyatakan penambahan terhadap kategori yang didampingi. Yang
termasuk adverbia ini yaitu pula, juga dan jua.
·
Adverbia
pula. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan penambahan akan tindakan hal atau
keadaan, diletakkan i sebelah kanan verba, nomina atau ajektiva. Contoh: dia bukan hanya cantik tetapi santun pula.
·
Adverbia
juga. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan penambahan terhadap tindakan, hal
atau keadaan, diletakkan di sebelah kanan verba, nomina atau ajektiva.
Contoh: disamping menipu, dia sering
mencuri juga.
·
Adverbia
jua. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan penambahan terhadap tindakan, hal
atau keadaan, diletakkan di sebelah kanan kategori yang didampinginya.
Contoh: yang tidak setuju ternyata
mereka jua.
13. Adverbia kesanggupan
Yaitu
advebia yang digunakan untuk menyatakan kesanggupan. Yang termasuk adverbia ini
yaitu sanggup, dapat dan bisa. Ketiganya digunakan untuk menyatakan
kesanggupan. Contoh: saya sanggup/bisa/dapat berfikir dengan normal.
14. Adverbia harapan
Yaitu
adverbia yang menyatakan harapan akan terjadinya sesuatu tindakan, hal atau
keadaan. Yang termasuk adverbia ini yaitu moga-moga, semoga, mudah-mudahan,
hendaknya, sepatutnya, sebaiknya, seyogianya,, seharusnya dan sepantasnya.
·
Adverbia
moga-moga, mudah-mudahan dan semoga. Adverbia ini digunakan untuk
menyatakan harapan, diletakkan di awal
klausa. Contoh: moga-moga/mudah-mudahan/semoga Anda berhasil.
·
Adverbia
hendaknya. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan harapan, diletakkan di awal
klausa, di sebelah kiri predikat atau pada akhir klausa. Contoh: hendaknya
kalian mengikuti jejak beliau.
·
Adverbia
sepatutnya, seharusnya, sepantasnya, semestinya dan selayaknya. Adverbia ini
digunakan untuk menyatakan harapan, diletakkan pada awal klausa atau di sebelah
kiri predikat. Contoh: sepatutnya/seharusnya/sepantasnya/semestinya/selayaknya
kamu meminta maaf dulu kepada beliau.
B.
Konjungsi
a.
Pengertian
konjungsi
Konjungsi
adalah kategori yang menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa,
kalimat dengan kalimat atau paragraf dengan paragraf.
b.
Pembagian
konjungsi
Ditinjau
dari kedudukan konstituen yang dihubungkan, konjungsi dibagi menjadi dua
ketegori yaitu konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif.
·
Konjungsi
koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua buah konstiuen yang
kedudukannya sederajat. Konjungsi ini dibagi menjadi 10 kategori yaitu
konjungsi penjumlahan, pemilihan, pertentangan, pembetulan, penegasan,
pembatasan, pengurutan, penyamaan, penjelasan dan penyimpulan.
(1)
Konjungsi
penjumlahan. Yaitu konjungsi yang menghubungkan menjumlahkan. Yang termasuk
konjungsi ini yaitu dan, serta dan dengan.
(a)
Konjungsi
dan. Contoh: ibu dan ayah pergi ke pasar
(b)
Konjungsi
serta. Contoh: ibu serta ayah pergi ke lampung
(c)
Konjungsi
dengan. Contoh: ibu dengan ayah pergi ke pasar
(2)
Konjungsi
pemilihan. Yaitu konjungsi yang menghubungkan memilih salah satu konstituen
yang dihubungkan. Yang termasuk konjungsi ini hanyalah kata atau. Contoh: sarjana teknik atau sarjana sastra sama
pentingnya dalam pembangunan.
(3)
Konjungsi
pertentangan. Yaitu konjungsi yang menyatakan mempertentangkan. Yang termasuk
konjungsi ini yaitu tetapi, namun, sedangkan dan sebaliknya.
(a)
Konjungsi
tetapi. Digunakan untuk menyatakan hubungan memepertentangkan. Aturan
penggunaannya:
(i)
Diantara
dua buah kata berkategori ajektiva yang berkontras dalam sebuah klausa. Contoh:
dia memang bodoh tetapi rajin
(ii)
Diantara
dua buah klausa yang subjeknya merujuka pada identitas yang sama, sedangkan
predikatnya adalah dua buah kata yang berkategori ajektiva yang berkontras.
Contoh: pak lurah memang tegas namun berhati baik
(iii)
Diantara
dua buah klausa yang ubjeknya bukan identitas yang sama, sedangkan predikatnya
berupa dua buah kata berkategori ajektifa yang bertentangan. Contoh: kakaknya
pandai tetapi adiknya bodoh sekali.
(iv)
Diantara
dua buah klausa yang klausa pertama berupa pernyataan, sedangkan klausa kedua
berisi pengingkaran terhadap adverbia tidak. Contoh: Ida sebenarnya ingin
melanjutkan sekolah tetapi orang tuanya tidak mampu lagi membiayainya.
(v)
Diantara
dua buah klausa yang klausa pertamanya berisi pengingkaran dengan adverbia
bukan dan klausa keduanya berisi pernyataan yang membetulkan isi klausa
pertama. Contoh: almarhum bukan mati karena gantung diri, tetapi karena
digantung orang.
(b)
Konjungsi
namun. Konjungsi ini digunakan untuk menyatakan hubungan mempertentangkan,
digunakan diantara dua buah kalimat. Contoh: sejak kecil anak itu kami asuh,
kami didik dan kami sekolahkan. Namun, setelah dewasa dan jadi oarang besar dia
lupa kepada kami.
(c)
Konjungsi
sedangkan. Untuk menyatakan pertentangan, digunakan diantara dua buah klausa
dalam satu kalimat. Contoh: dua orang pencuri masuk ke rumah itu, sedangkan
seorang temannya menunggu diluar.
(d)
Konjugsi
sebaliknya. Digunakan untuk menytakan pertentangan, dapatdigunakan diantara dua
buah klausa atau diantara dua buah kalimat. Contoh: para perusuh itu bukan
dicegah melakukan penjarahan, sebaliknya, seperti dibiarkan olah para petugas.
(4)
Konjungsi
pembetulan. Yaitu konjungsi yang menghubungkan dan membetulkan atau meralat
kedua konstituen yang dihubungkan. Yang termasukkonjungsi ini yaitu melainkan
dan hanya.
(a)
Konjungsi
melainkan. Digunakan untuk menghubungkan membetulkan atau meralat, digunakan
diantara dua buah klausa. Contoh: bukan
dia yang datang, melainkan temannya.
(b)
Konjungsi
hanya. Digunakan untuk menghubungkan membetulkan atau meralat, digunakan diantara
dua buah klausa. Klausa pertama barisi pernyataan positif, sedangkan klausa
kedua berisi pernyataan yang mengurangi kepositifan. Contoh: dia tidak apa-apa,
hanya kelelahan.
(5)
Konjungsi
penegasan. Yaitu konjungsi yang menghubungkan menegaskan atau menguatkan. Yang
termasuk konjungsi ini yaitu bahkan, apalagi, lagipula, hanya, maupun, begitu
juga dan demikian pula.
(i)
Konjungsi
bahkan. Digunakan untuk menghubungkan menegaskan atau menguatkan, digunakan
diantara dua buah kalimat atau klausa. Contoh: anak itu memang sangat nakal.
Bahkan ibunya sendiri sering ditipunya.
(ii)
Konjungsi
apalagi. Digunakan untuk menghubungkan menegaskan atau menguatkan, digunakan
diantara dua buah kalimat atau klausa. Contoh: anak itu memang nakal sekalu.
Apalagi kalaujauh dari ibunya.
(iii) Konjungsi lagipula. Digunakan untuk menghubungkan menegaskan atau
menguatkan, digunakan diantara dua buah kalimat atau klausa. Contoh: mari kita
makan di kedai itu; masakannya enak; harganya murah; lagipula pelayanannya
sangat baik
(iv) Konjungsi hanya. Digunkan untuk menghubungkan menegaskan, digunakan
pada awal klausa kedua untuk menegaskan bahwa kaedaan pada klausa pertama tidak
seberapa. Contoh: sakitya tidak parah; hanya batuk-batuk dan masuk angin.
(v)
Konjungsi
itupun. Digunakan untuk menghubungkan menegaskan, diletakkan pada awal klausa.
Contoh: dari 100 siswa yang ikut hanya 15 orang yang lulus. Itupun setelah
kriteria kelulusan diturunkan.
(vi) Konjungsi begitu juga. Yaitu konjungsi antar kalimat. Digunakan
untuk menghubungkan menegaskan, ditempatkan pada awal kalimat kedua. Contoh:
anak itu bukan main nakalnya. Begitu juga dengan kakaknya.
(6)
Konjungsi
pembatasan. Yaitu konjungsi yang menghubungkan membatasi. Yang termasuk
konjungsi ini yaitu kacuali dan hanya.
(i)
Konjungsi
kecuali. Digunakan untuk menghubungkan membatasi, diletakkan di awal kalimat
kedua. Contoh: saya akan datang memenuhi undanganmu; kecuali kalau hujan lebat.
(ii)
Konjungsi
hanya. Penggunaanya sama seperti pada konjungsi penegasan.
(7)
Konjungsi
pengurutan. Digunakan untuk menghubungkan klausa dengan klausa dalam urutan
beberapa kejadian secara kronologis. Yang termasuk konjungsi ini yaitu sebelum,
sesudah, lalu, mula-mula, kmudian, selanjutnya, setelah itu atau kata-kata
pertama, kedua, ketiga dst. Contoh: mula-mula kami dipersilahkan masuk, lalu
dipersilakan duduk, dan selanjutnya ditanya apa keperluan kami kepadanya.
(8)
Konjungsi
penyamaan. Yaitu konjungsi yang menghubungkan menyamakan antara dua klausa
dengan bagian klausa yang termasukkonjungsi ini yaitu adalah, ialah, yaitu dan
yakni.
(i)
Konjungsi
adalah. Digunakan untuk menghubungkan dua bagia kalimat dimana bagian pertama
merupakan maujud yang sama dengan bagian kedua. Contoh: mereka yang belum
membayar SPP adalah ali dn siti.
(ii)
Konjungsi
ialah. Untuk menghubungkan menyamakan secara terbatas dapat digunakan sebagai
varian dari konjungsi adalah. Contoh: Soekarno ialah presiden pertama
republikindonesia.
(iii) Konjungsi yaitu. Untuk menghubungkan menyamakan digunakan antara
dua bagian kalimat yang maujudnya sama. Contoh: yang belum menyerahkan ugas
akhir yaitu ali dan siti.
(iv) Konjungsi yakni. Secara bebas dapat digunakan untuk menggantikan
konjungsi yaitu. Contoh: anak beliau ada dua orang yakni ali dan siti.
(9)
Konjungsi
penjelasan
Yaitu
konjungsi yang menghubungkan menjelaskan, dimana klausa kedua berlaku sebagai
penjelas dari keadaan, peristiwa atau hal pada klausa pertama. Satu-satunya
konjungsi penjelasan yaitu kata bahwa. Contoh: kabar bahwa mereka akan menikah
bulan depan saya sudah tahu.
(10)
Konjungsi
penyimpulan. Yaitu konjungsi yang menghubungka menyimpulkan. Yang termasuk
konjungsi ini yaitu maka, maka itu, jadi, karena itu, oleh karena itu, sebab
itu, oleh sebab itu, dengan demikian dan dengan begitu. Semua kata ini memiliki
fungsi yang sama yaitu untuk menghubungkan menyimpulkan terhadap isi
kalimat-kalimat yang disebutkan di depannya. Contoh:ibunya meninggal ketika dia
berumur dua tahun. Ayahnya meninggal ketika usianya empat tahun. Maka, sejak
kecil dia sudah yatim piatu.
·
Konjungsi
subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua buah konstituen yang
kedudukannya tidak sederajat. Konjungsi ini dibagi menjadi 7 kategori yaitu
konjungsi penyebaban, persyaratan, tujuan, penyungguhan, kesewaktuan,
pengakibatan dan perbandingan.
(1)
Konjungsi
penyebaban. Yaitu konjungasi yang menghubungkan menyatakan sebab terjadinya
keadaan pada klausa utama. Yang termasuk konjungsi ini yaitu karena, sebab dan
lantaran.
(i)
Konjungsi
karena digunakan untuk menghubungkan menyatakan sebab, ditempatkan pada awal
klausa bawahan. Contoh: mereka terlambat karena jalan macet.
(ii)
Konjungsi
sebab diguakan untuk menghubungkan menyatakan sebab, secara umum dapat
menggantikan posisi konjungsi karena. Contoh: mereka terlambat sebab jalan
macet.
(iii) Konjungsi lantaran dihubungkan untuk menghubungkan menyatakan
sebab, dapat digunakan untuk mengggantikan konjungsi karena. Namun, konjungsi
ini hanya digunakan dalam bahasa indonesia ragam non baku.
(2)
Konjungsi
persyaratan. Yaitu konjungsi yang menghubungan menyatakan syarat untuk keadaan
yang terjadi pada klausa utama dalam sebuah kalimat majemuk subordinatif.yang
termasuk konjungsi ini yaitu kalau, jika, jikalau, bila, bilamana, apabila dan
asal.
(i)
Konjungsi
kalau digunakan untuk menghubungkan menyatakan syarat ditempatkan pada awal
klausa bawahan. Contoh: saya akan datang kalau diberi ongkos.
(ii)
Konjungsi
jika digunakan untuk menghubungkan menyatakan syarat, dapat digunakan
menggantikan konjungsi kalau. Contoh: saya akan datang jika diberi ongkos.
(iii) Konjungsi jikalau digunakan untuk menghubungkan menyatakan syarat, dapat
digunakan menggantikan konjungsi jika.
(iv) Konjungsi bila, apabila dan bilamana digunakan untuk menghubungkan
menyatakan syarat. Contoh: saya akan datang bila/bilamana/apabila diberi
ongkos.
(v)
Konjungsi
asal digunakan untuk menghubungkan menyatakan syarat, lazim digunakan dalam
bahasa ragam non formal. Contoh: saya akan datang asal diberi ongkos.
(3)
Konjungsi
tujuan
Yaitu
konjungsi yang menghubungkan menyatakan tujuan dilakukannya tindakan pada
klausa pertama. Yang termasuk konjungsi ini adalah agar, supaya, guna dan
untuk.
(i)
Konjungsi
agar digunakan untuk menghubungkan menyatakan tujuan, ditempatkan pada awal
klausa kedua. Contoh: jalan layang dibangun di beberapa persimpangan agar lalu
lintas menjadi lancar.
(ii)
Konjungsi
supaya digunakan untuk menghubungkan menyatakan tujuan, dapat digunakan untuk
menggantikan konjungsi agar. Contoh: supaya tidak terlambat kita harus segera
berangkat.
(iii) Konjungsi untuk digunakan untuk menghubungkan tujuan, digunakan
pada awal klausa bawahan pada sebuah kalimat mejemuk subordinatif. Contoh:
jalan layang dibangun untuk melancarkan arus lalu lintas.
(iv) Konjungsi guna digunakan untuk menghubungkan menyatakan tujuan,
dapat digunakan sebagai pengganti konjungsi untuk. Contoh: jalan layang
dibangun guna melancarkan arus lalu lintas.
(4)
Konjungsi
penyungguhan. Yaitu konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan menyuguhkan
tindakan yang terjadi pada klausa utama pada sebuah kalimat majemuk
subordinatif. Yang termasuk konjungsi ini yaitu meskipun (meski), biarpun
(biar), walaupun (walau), sekalipun, sungguhpun, kendatipun dan kalaupun. Semua
kata ini dapat dipertukarkan. Contoh: dia hadir juga meskipun (meski)/ biarpun
(biar)/ walaupun (walau)/ sekalipun/ sungguhpun/ kendatipun/ kalaupun tidak
diundang.
(5)
Konjungsi
kesewaktuan yaitu konjungsi yang mnghubungkan menyatakan waktu antara dua buah
peristiwa. Yang termasuk konjungsi ini adalah ketika itu, waktu itu, saat itu,
tatkala itu, sebelum itu, sesudah itu, sejak itu,semenjak itu dan sementara
itu.
(i)
Konjungsi
ketika digunakan untuk menghubungkan menyatakan saat waktu yang sama antara
kejadian yang terjadi pada klausa pertama denga klausa lainnya pada sebuah
kalimat majemuk subordinatif. Contoh: beliau datang ketika kami sedang makan.
(ii)
Konjungsi
waktu itu, saat itu dan tatkala itu secara umum dapat digunakan untuk
menggantikan posisi ketika. Contoh: beliau datang waktu/saat/tatkala kami
sedang makan.
(iii) Konjungsi selagi digunakan untuk menguhubungkan menyatakan durasi
waktu yang sama yang terjadi antara dua buah klausadalam sebuah kalimat majemuk
subordinatif. Contoh: selagi kami makan dia menunggu diluar.
(iv) Konjungsi sementara secara umum dapat digunakan untuk menggantikan
konjungsi selagi. Contoh: sementara kami makan dia menunggu diluar.
(v)
Konjungsi
sebelum digunakan untuk menghubungkan menyatakan waktu kejadian pada klausa
utama terjadi. Contoh: dia mandi dulu sebelum sarapan.
(vi) Konjungsi setelah digunakan untuk menghubungkan menyatakan waktu
kejadian pada klausa utama terjadi. Contoh: ejak ayah meninggal, anak itu
berhenti sekolah.
(6)
Konjungsi
pengakibatan yaitu konjungsi yang menghubungkan menyatakan akibat atas
terjadinya peristwa yang terjadi pada klausa utama terhadap kejadian yang
terjadi pada klausa bawahan. Yang termasuk konjungsi ini yaitu sampai, hingga
dan sehingga. Contoh: pencuri naas itu dipulkuli orang banyak sampai mukanya
babak belur.
(7)
Konjungsi
perbandingan yaitu konjungsi yang menghuungkan menyatakan bahwa kajadian yang
terjadi pada klausa utama mirip sperti yang terjadi pada klausa bawahan. Yang
termasuk konjungsi ini yaitu seperti, sebagai, laksana dan seumpama. Contoh:
dimakannya nasi itu dengan lahap seperti orang tiga hari belum makan.
C.
Preposisi
a.
Pengertian
preposisi
Preposisi
adalah kategori yang terletak di sebelah kiri nomina sehingga terbentuk sebuah
frase aksosentrik untuk mengisi fungsi keterangan dalam sebuah klausa.
b.
Pembagian
preposisi
Preposisi
dibagi menjadi 13 kategori yaitu preposisi tempat berada, tempat asal, tempat
tujuan, asal bahan, asal waktu, waktu tertentu, tempat tertentu, perbandingan,
pelaku, alat, hal, pembatasan dan tujuan.
·
Preposisi
tempat berada. Preposisi ini menyatakan tempat terjadinya peristiwa terajadi.
Yang termasuk preposisi ini adalah di, pada, dalam dan antara.
(1)
Preposisi
di digunakan untuk menyatakan tempat berada. Contoh: saya tidur di kamar kakak.
(2)
Preposisi
pada juga digunakan untuk menyatakan tempat berada. Contoh: ibunya menjadi guru
pada sebuah SD terkemuka di Semarang.
(3)
Preposisi
dalam digunakan untuk menyatakan tempat berada. Contoh: dalam perjalanan ke
Yogyakarta kami singgah di Semarang.
(4)
Preposisi
antara dignakan untuk manyatakan empat berada. Contoh: rumahnya trletak antara
masjid dan kantor polisi.
·
Preposisi
tempat asal. Preposisi ini menyatakan tempat berasalnya nomina yang diikuti.
Yang termasuk preposisi ini yaitu kata dari. Contoh: Buku itu diambilnya dari
laci.
·
Preposisi
tempat tujuan. Preposisi ini menyatakan tempat yang dituju dari perbuatan yang
dilakukan. Yang termasuk preposisi ini yaitu ke dan kepada.
(1)
Preposisi
ke. Preposisi ini menyatakan tempat geografis. Contoh: kami melompat ke tengah
panggung.
(2)
Preposisi
kepada. Contoh: saya bertanya kepada beliau mengenai kontrak perkuliahan.
·
Preposisi
asal bahan. Yaitu preposisi yang menyatakan asal bahan pembuat sesuatu. Yang
termasuk preposisi ini yaitu kata dari. Contoh: kue ini terbuat dari gula dan
terigu.
·
Preposisi
asal waktu. Yaitu preposisi yang menyatakan waktu mulai suatu kejadian. Yang
termasuk preposisi ini adalah dari dan sejak. Contoh: sejak/dari kemarin saya
belum makan.
·
Preposisi
waktu tertentu yaitu preposisi yang menyatakan awal dan akhir dari suatu
kejadian. Yang termsuk kategori ini yaitu dari dan sejak yang diikuti preposisi
sampai. Contoh: mereka pergi dari pagi sampai sore.
·
Preposisi
tempat tertentu yaitu preposisi yang menyatakan awal tempat kejadian hingga
akhir tempat kejadian. Yang termasuk kategori ini yaitu kata dari yang diikutin
preposisi sampai. Contoh: kami berjalan kaki dari rumah sampai kampus
·
Preposisi
perbandingan yaitu preposisi yang menyatakan perbandingan antara dua tindakan.
Yang termasuk ketegori ini yaitu daripada. Contoh: belajar lebih baik daripada
duduk melamun.
·
Preposisi
pelaku yaitu preposisi yang menyatakan pelaku perbuatan yang disebutkan dalam
predikat klausa. Yang termasuk kategori ini yaitu oleh. Contoh: kakek dilarang
oleh dokter untuk merokok lagi.
·
Preposisi
alat yaitu preposisi yang menyatakan alat untuk melakukan perbuatan yang
dinyatakan oleh predikat klausa yang bersangkutan. Yeng termasuk dalam kategori
ini yaitu dengan dan berkat. Contoh: kakek menulis dengan pensil.
·
Preposisi
hal yaitu preposisi yang menyatakan hal yang akan disebutkan dalam predikat
klausanya. Yang termasuk dalam kategori ini yaitu perihal, tentang dan
mengenai. Contoh: mengenai nasib anak iu terserah kepada anda-lah.
·
Preposisi
pembatasan yaitu preposisi yang menyatakan batas akhir dari suatu tindakan yang
disebutkan dalam predikat klausanya. Yang termasuk kategori ini yaitu sampai
dan hingga. Contoh: pencopet naas itu digebuki orang ramai sampai/hingga babak
belur.
·
Preposisi
tujuan yaitu preposisi yang menyatakan tujuan dari tindakan yang disebutkan
dalam predikat klausanya. Yang termauk kategori ini yaitu agar dan supaya.
Contoh: setiap pagi berolahraga agar/supaya sehat.
BAB III
Penutup
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut, penyususn mengambil kesimpulan bahwa:
1.
Berdasarkan makna yang dikandungnya, adverbia
terbagi menjadi 15 kelas yaitu sangkalan (negasi), jumlah (kuantitas),
pembatasan, penambahan, keseringan (frekuensi), kualitas, waktu (kala),
keselesaian, kepastian, keharusan, derajat, kesanggupan, harapan, keinginan,
dan kesungguhan.
2.
Berdasarkan
kedudukan konstituen yang dihubungkan, konjungsi dibagi menjadi dua ketegori
yaitu konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif. Konjungsi koordinatif
dibagi menjadi 10 kategori yaitu konjungsi penjumlahan, pemilihan,
pertentangan, pembetulan, penegasan, pembatasan, pengurutan, penyamaan,
penjelasan dan penyimpulan. Sedangkan, konjungsi subordinatif dibagi menjadi 7
kategori yaitu konjungsi penyebaban, persyaratan, tujuan, penyungguhan,
kesewaktuan, pengakibatan dan perbandingan.
3.
Preposisi
dibagi menjadi 13 kategori yaitu preposisi tempat berada, tempat asal, tempat
tujuan, asal bahan, asal waktu, waktu tertentu, tempat tertentu, perbandingan,
pelaku, alat, hal, pembatasan dan tujuan.
B.
Kritik
dan Saran
Penyusun menyadari dalam penyusunan makalah ini pastilah sangat
jauh dari kesempurnaan. Informasi yang masih sedikit, sumber yang mungkin
kurang valid, penyusunan yang kurang sistematis hingga penulisan yang mungkin
masih banyak kesalahan. Maka dari itu, penyusun sangat mengharapkan kiranya
pembaca berkenan menyampaikan kritik dan sarannya untuk perbaikan pada makalah
yang akan datang.
Daftar Pustaka
Chaer, Abdul.2009. Sintaksis
Bahasa Indonesia (pendekatan proses). Jakarta: Rineka Cipta.
Komentar
Posting Komentar