makalah sintaksis





MAKALAH
Penggunaan Kata : adverbia, konjungsi dan preposisi
Muqoddimah fii Ilmi Nahwi
Pendidikan Bahasa Arab


Disusun Oleh:
Endah Suprihatin
(2303412014)

Bahasa dan Sastra Asing
Fakultas Bahasa dan Seni
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
Kata pengantar
                                                                                   
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan resume ini. Shalawat serta salam tak lupa penyusun panjatkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para umatnya yang insyaAllah setia sampai akhir jaman. Makalah ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Muqoddimah fii ilmi nahwi. Makalah ini disusun dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak. Penyusun telah berusaha untuk dapat memberikan serta mencapai hasil yang semaksimal mungkin dan sesuai dengan harapan, walaupun di dalam pembuatannya penyusun menghadapi berbagai kesulitan karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang penyusun miliki.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan dan pembuatan makalah ini, masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis butuhkan untuk dapat menyempurnakannya di masa yang akan datang. Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan teman-teman maupun pihak lain yang berkepentingan.

                                                                                                                                                        Semarang,  9 April  2013                                                                                                                                                                                                                                                    
                                                                                                                                                            Hormat Kami,
Penyusun


Daftar Isi
Halaman sampul.........................................................................................................................1
Kata pengantar............................................................................................................................2
Daftar isi.....................................................................................................................................3
Bab 1 Pendahuluan
A.  Latar belakang..............................................................................................................4
B.  Rumusan masalah.........................................................................................................4
C.  Tujuan..........................................................................................................................4
Bab 2 Pembahasan
A.    Adverbia
A.1 Pengertian adverbia.............................................................................................5
A.2 Penggunaan adverbia berdasarkan makna inhern...............................................5
B.  Konjungsi
B.1 Pengertian konjungsi.........................................................................................13
B.2 Penggunaan konjungsi koordinatif....................................................................13
B.3 Penggunaan konjungsi subordinatif..................................................................16
C.  Preposisi
C.1 pengertian preposisi..........................................................................................18
C.2 Penggunaan preposisi........................................................................................19
Bab 3 Penutup
Kesimpulan.....................................................................................................................21
Kritik dan saran...............................................................................................................21
Daftar pustaka..........................................................................................................................22


BAB I
Pendahuluan
A.    Latar belakang
       Dalam kajian morfologi lazim dibedakan adanya dua macam kelas kata yaitu kata-kata dari kelas terbuka dan kata-kata dari kelas tertutup. Disebut kelas terbuka karena anggota kelas ini dapat bertambah atau berkurang sewaktu-waktu  sesuai dengan perkembngan budaya dan kemasyarakatan, sebaliknya kelas tertutup cenderung untuk tidak bertambah. Anggota kelas terbuka yaitu kata-kata yang berkategori nomina, verba dan ajektifa. Sedangkan anggota kelas tertutup yaitu adverbia, konjungsi, preposisi dsb.
       Dalam makalah ini penyusun mencoba mengidentifikasikan penggunaan kata-kata anggota kelas tertutup yaitu adverbia, konjungsi dan preposisi karena penyusun memandang ketiganya cukup bermasalah dalam proses penyusunan satuan-satuan sintaksis.
B.     Rumusan masalah
1.      Bagaimana penggunaan kata adverbia?
2.      Bagaimana penggunaan kata konjungsi?
3.      Bagaimana penggunaan kata preposisi?
C.     Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai dengan dibuatnya makalah ini yaitu untuk mengetahui penggunaan kata adverbia, konjungsi dan preposisi.
BAB II
Pembahasan
A.    Adverbia
a.       Pengertian Adverbia
Adverbia adalah ketegori yang mendampingi nomina, verba, dan ajektifa dalam pembentukan frase; atau dalam pembentukan sebuah klausa.
b.      Pembagian adverbia
Berdasarkan makna inhern yang dikandungnya, adverbia terbagi menjadi 15 kelas yaitu sangkalan (negasi), jumlah (kuantitas), pembatasan, penambahan, keseringan (frekuensi), kualitas, waktu (kala), keselesaian, kepastian, keharusan, derajat, kesanggupan, harapan, keinginan, dan kesungguhan.
1.      Adverbia sangkalan
Yaitu averbia yang menyatakan ingkaran atau menyangkal akan ketegori yang didampinginya. Yang termasuk kategori ini yaitu kata bukan, tidak, tak, tanpa, dan tiada.
·         Adverbia bukan digunakan dengan aturan:
1)      Untuk menyangkal kebenaran sesuatu.
Contoh: ini bukan bukuku.
2)      Untuk mengngkari sesuetu dengan disertai koreksinya
Contoh: ini bukan bukuku, melainkan buku mayya.

·         Adverbia tidak atau bentuk singkatnya tak. Digunakan untuk menyangkal sesuatu
Contoh: Saya yakin dia tidak akan gagal.
Catatan: sangkalan tidak dapat mendampingi nomina yang berlaku sebagai keterangan obyek dalam klausa yang predikatnya memiliki sangkalan tidak. Contoh: “beliau tidak memberikan apa-apa, tidak uang , tidak barang.” Hal ini terjadi karena sebenarnya di depannomina itu ada verba memberikan yang di lesapkan.
·         Adverbia tanpa. Kata tanpa memiliki arti tidak.
Contoh: kita takkan berhasil tanpa seizin Tuhan Yang Maha Kuasa.
·         Adverbia tiada. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
1)      Untuk menyatakan “tidak ada”.
Contoh: Tiada Tuhan selain Alloh
2)      Untuk menyatakan “tidak pernah”
Contoh: aku tiada mencintaimu.
2.      Adverbia penjumlahan
Yaitu adverbia yang menyatakan banyak atau kuantitas terhadap kategori yang didampingi. Yang termasuk kategori ini yaitu kata banyak, sedikit, beberapa, semua, seluruh, sejumlah, separuh, setengah, kira-kira, sekitar, dan kurang lebih.
·         Adverbia banyak menunjukan jumlah yang lebih.
Contoh: Dia memiliki banyak saudara di Medan
·         Adverbia sedikit menunjukan jumlah yang kurang.
Contoh: tambahkan garam sedikit lagi
·         Adverbia beberapa menunjukan jumlah yang tidak banyak.
Contoh: apinya menjalar keluar hingga menghanguskan beberapa rumah.
Catatan: untuk nomina tak terhitung seperti air harus disertai dengan ukuran atau satuan nomina itu. Contoh: beberapa gelas air.
·         Adverbia semua menunjukan “tiada terkecuali”.
Contoh: semua mahasiswa wajib menaati tata tertib kampus.
Catatan: nomina tak terhitung seperti air tidak bisa diberi adverbia semua.
·         Adverbia seluruh menunjukan arti “tiada terkecuali” dalam arti satu kesatuan.
Contoh: seluruh alam semesta ini tunduk pada kekuasaan Alloh.
Catatan: perbedaan adverbia semua dengan seluruh adalah adverbia semua menyatakan satu kesatuan dari banyak benda atau hal, sedangkan seluruh menyatakan keseluruhan dari semua benda atau hal.
·         Adverbia sejumlah menunjukan bunyak yang tidak tentu.
Contoh: dia dikeroyok sejumlah orang yang tidak dikenal.
·         Adverbia separuh atau setengah menunjukan jumlah seperdua dari jumlah keseluruhan.
Contoh: air di bak mandi tinggal setengah.
·         Adverbia kira-kira atau sekitar menunjukan jumlah tak tentu dari suatu bilangan benda.
Contoh: minyak yang kita butuhkan kira-kira 5 liter.
Catatan: adverbia kira-kira dan sekitar tidak dapat berposisi di muka bilangan bukan pembulatan.
·         Adverbia kurang lebih. Penggunaannya sama dengan adverbia kira-kira.
3.      Adverbia pembatasan
Yaitu adverbia yang menyatakan batas dari suatu hal. Yang termasuk adverbia ini yaitu hanya, Cuma, saja, dan belaka.
·         Adverbia hanya digunakan untuk menyatakan pembatasan terhadap kategori yang didampingi.
Contoh: hanya ada kamu dihatiku.
·         Adverbia Cuma. Pengguanaanya sama dengan ketegori adverbia hanya.
·         Adverbia saja. Diletakkan disebelah kanan nomina atau verba.
Contoh: dia saja bisa, kenapa aku tidak?
·      Adverbia belaka. Penggunaannya sama dengan adverbia saja.
Contoh: kata-katanya hanya sekedar basa-basi saja.
4.      Adverbia derajat
Yaitu adverbia yang menyatakan tingkatan mutu keadaan atau kegiatan. Yang termasuk adverbia ini yaitu sangat, amat, sekali, paling, lebih, cukup, kurang, agak, hampir, rada, maha, nian, dan terlalu.
·      Adverbia sangat. Adverbia ini memiliki tiga fungsi yaitu
(1)   menyatakan keadaan yang  tidak ada yang melebihi tarafnya atau derajatnya, diletakkan di sebelah kiri ajektiva. Contoh : saya sangat bahagia dapat bertemu dengan anda.
(2)   Menyatakan suatu taraf tindakan yang tidak ada yang melebihi, diletakkan di sebelah kiri verba yang berkategori ajektiva. Contoh: nilai ujianmu sangat mengecewakan.
(3)   Menyatakan taraf tidak ada yang melebihi, diletakkan di sebelah kiri verba. Contoh: uang pemberianmu itu sangat berguna bagi kehidupan kami.
·           Adverbia amat. Adverbia ini menyatakan tingkatan tertinggi atau utama. Contoh: rumahnya amat besar.
·           Adverbia sekali. Hampir sama dengan adverbia sangat. Perbedaanya terlatak pada penempatannya yaitu di kanan kategori yang di dampinginya. Contoh: saya bahagia sekali dapat bertemu dengan anda.
Catatan: kata sekali yang berposisi di kiri verba bukanlah adverbia melainkan numeralia. Contoh: sekali melihatmu, aku langsung jatuh cinta.
·           Adverbia paling. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)   Untuk menyatakan keadaan yang tertinggi derajatnya, diletakkan di sebelah kiri ajektiva. Contoh: kamu memang yang paling cantik dimataku.
(2)   Untuk menyatakan keadaan yang tertinggi derajatnya, diletakkan di sebelah kiri verba. Contoh: hal yang paling menyenangkan dalam hidupku adalah saat berdua bersama kamu.
Catatan: kata pali dapat di reduplikasi menjadi paling-paling untuk menyatakan tindakan tertinggi yang akan terjadi. Contoh: kalo aku menyatakan cinta padanya, paling-paling dia menolak.
·           Adverbia lebih. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)   Untuk menyatakan keadaan yang lebih tinggi derajatnya dari yang lain, diletakkan disebelah kiri ajektifa. Contoh: wajahnya lebih cantik dari wajahmu.
(2)   Untuk menyatakan keadaan yang lebih tinggi derajatnya dari yang lain, diletakkan disebelah kanan verba. Contoh: badminton lebih disukai daripada pingpong.
Catatan: adverbia lebih bisa juga mengisi fungsi predikat dengan makna berada diatas seharusnya. Contoh: uang yang anda berikan sudah lebih.
·           Adverbia cukup. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)   Untuk menyatakan tindakan yang memedai derajatnya, diletakkan di sebelah kiri ajektiva. Contoh: saya cukup bangga dapat mengenalmu
(2)   Untuk menyatakan tindakan yang memedai derajatnya, diletakkan di sebelah kiri verba. Contoh: prestasimu cukup membanggakan.
Catatan: adverbia cukup dapat juga mengisi fungsi predikat dengan makna memadai. Contoh: penghasilan kami sudah cukup.
·           Adverbia kurang. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)   Untuk menyatakan keadaan dibawah derajat memadai, ditempatkan disebelah kiri ajektifa. Contoh: anak itu memang kuarang rajin.
(2)   Untuk menyatakan keadaan dibawah derajat memadai, ditempatkan disebelah kiri verba. Contoh: mereka kurang memperhatikan nasehat guru.
(3)   Untuk menyatakan keadaan dibawah derajat memadai, ditempatkan disebelah kiri nomina. Contoh: ban mobil itu kurang angin.
Catatan: adverbia kurang dapat mengisi fungsi predikat yang menyatakan jumlah yang tidak memadai. Contoh: perhatian orang itu memang kurang.
·           Adverbia agak. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)   Untuk menyatakan mendekati keadaan sebenarnya, ditempatkan di sebelah kiri ajektiva. Contoh: tanki itu hampir penuh.
(2)   Untuk menyatakan tindakan atau kelakuan yang sebenarnya, ditempatkan di sebelah kiri verba. Contoh: maaf, sya hampir lupa dengan janji itu.
·           Adverbia rada. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan keadaan yang hampir sebenarnya, secara terbatas dapat menggantikan posisi agak. Contoh: anak itu memang rada nakal.
·           Adverbia maha. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan keadaan yang sangat, lazim digunakan untuk menyebut sifat Alloh. Contoh: Alloh Yang Maha Kuasa.
·           Adverbia nian. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan keadaan yang lebih, ditempatkan disebelah kanan ajektifa dan dapat menggantikan posisi adverbia sekali. Contoh: cantik nian gadis itu.
·           Adverbia terlalu. Adverbia ini diguanakan untuk menyatakan keadaan melebihi yang seharusnya. Contoh: bagiku harganya terlalu mahal.
5.      Adverbia kala
Yaitu adverbia yang menyatakan waktu tindakan dilakukan. Yang termasuk adverbia ini yaitu sudah, telah, sedang, lagi, tengah, akan, bakal, dan mau.
·         Adverbia sudah. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)   Untuk meyatakan tindakan atau kejadian yang terjadi pada waktu yang lalu. Contoh:kami sudah makan.
(2)   Untuk menyatakan suatu keadaan telah dan masih berlangsung. Contoh: nenekku sudah tua.
·         Adverbia telah. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan atau perbuatan yang terjadi pada waktu yang lalu;dan untuk menyatakan keadaan sudah berlalu (dan masih berlangsung). Contoh: nenekku telah tua.
·         Adverbia sedang, lagi dan tengah. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan atau kejadian yang masih berlangsung. Contoh: kakek (sedang/tengah/lagi) mandi di kamar mandi umum.
Catatan: adverbia lagidapat berposisi disebelah kanan kate berkategori verba atau ajektiva dengan makna kembali atau berulang. Contoh: kakek makan lagi

·      Adverbia akan. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)   Untuk menyatakan suatu tindakan atau kejadian bakal terjadi, diletakkan di sebelah kiri verba. Contoh: saya akan melamarya besok
(2)   Untuk menyatakan suatu keadaan bakal terjadi, diletakkan di sebelah kiri ajektiva. Contoh: sebentar lagi dia akan sembuh.
Catatan: antara adverbia akan dengan ajektifa yang didampinginya lazim disisipkan verba menjadi. Contoh: akan menjadi sukses.
·      Adverbia bakal. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan sesuatu akan dilakukan atau suatu keadaan akan terjadi, dapat digunakan secara terbatas untuk menggantikan adverbia akan. Contoh: saya (akan/bakal) membayarnya besok.
·      Adverbia hendak. Adverbi ini digunakan untuk menyatakan suatu tindakan akan dilakukan. Contoh: beliau hendak menikah bulan depan.
·      Adverbia mau. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan suatu tindakan akan dilakukan. Contoh: rumah ini akan dijual.
6.      Adverbia keselesaian
Yaitu adverbia yang menyatakan tindakan atau perbuatan (dalam fungsi predikat) apakah sudah selesai, belum selesai atau sedng dilakukan.. yang termasuk adverbia ini yaitu belum, baru, mulai, sedang, lagi, tengah, masih, sudah, telah, sempat, dan pernah.
·         Adverbia belum. Adverbia ini digunakan dengan aturan:
(1)   Untuk menyatakan tindakan belum dilakukan atau belum terjadi, diletakkan disebelah kiri verba. Contoh: saya belum makan dari tadi pagi.
(2)   Untuk menyatakan keadaan belum terjadi, diletakkan disebelah kiri ajektiva. Contoh: rambutnya belum panjang.
·         Adverbia baru. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan atau perbuatan belum lma berlangsung. Contoh: ibu baru menelpon saya.
·         Adverbia mulai. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan yang baru saja berlangsung. Contoh: para tamu undanganmulai berdatangan.
·         Adverbia sedang, lagi dan tengah. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan masih berlnagsung. Contoh: aku sedang/lagi/tengah mengerjakan tugas.
·         adverbia masih. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan yang belum selesai. Contoh: beliau masih beristirahat.
·         Adverbia sudah dan telah. Adverbi ini digunakan untuk menyatakan tindakan selesai. Contoh: saya sudah/telah membaca novel Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin.
·         Adverbia pernah. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan sudah terjadi. Contoh: beliau pernah memarahi saya.
·         Adverbia sempat. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan:
(1)   Suatu tindakan sudah selesai. Contoh: beliau sempat singgah ke rumah kami.
(2)   Suatu keadaan telah berlalu. Contoh: harga munyak sempat naik.
7.      Adverbia kepastian
Yaitu adverbia yang menyatakan tindakan yang pasti terjadi maupun yang diragukan kejadiannya. Yang termasuk adverbia ini yaitu pasti, tentu, memang, mungkin, agaknya, kiranya, barang kali, rasanya dan rupanya.
·         Adverbia pasti dan tentu. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan kepastian, ditempatkan di awal klausa, disebelah kanan subjek, atau pada akhir klausa. Contoh: pasti/tentu dia datang.
·         Adverbia memang. Adverbia ini digunakan untuk menyatakn kepastian yang disertai penegasan. Contoh: dia memang belum bayar.
·         Adverbia barangkali. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan ketidakpastian.
·         Adverbia mungkin. Adverbia ini digunakan untuk menyetakan kemungkinan atau kebelumpastian. Contoh: mungkin dia datang terlambat.
·         Adverbia kiranya. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan kemungkinan yang diperkirakan. Contoh: kita kiranya datang lebih cepat.
·         Adverbia rasanya, agaknya dan rupanya. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan ketidak pastian secara bebas. Adverbia ini dapat menggantikan adverbia kiranya. Contoh: mereka kiranya/rasanya/agaknya/rupanya belum sarapan.
8.      Adverbia menyungguhkan.
Yaitu adverbia yang menyatakan keungguhan atau menguatkan. Yang termasuk adverbia ini yaitu sesungguhnya, sebenarnya, sebetulnya, dan memang.
·           Adverbia sesungguhnya. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan kesungguhan, diletakkan pada awal klausa atau antara subjek dan predikat. Contoh:saya sesungguhnya tahu persis.
·           Adverbia sebenarnya dan sebetulnya. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan kesungguhan dan membenarkan, diletakkan pada awal klausa atau diantara subjek dan predikat. Contoh: sebenarnya saya tidk suka dengan beliau.
·           Adverbia memang. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan kepastian atau kesungguhan. Contoh: dia memang suami saya.
9.      Adverbia keharusan
Yaitu adverbia yang menyatakan keharusan atau ketidakharusan dilakukannya sesuatu. Yang termasuk adverbia ini yaitu harus, wajib, mesti, boleh dan jangan.
·         Adverbia harus, wajib dan mesti. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan suatu tindakan harus dilakukan. Contoh: kamu harus/wajib/mesti datang dalam resepsi pernikahan saya besok.
·          Adverbia boleh. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan berkenan atau keizinan. Contoh: kalian boleh duduk di sini.
·         Adverbia jangan. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan larangan untuk melakukan sesuatu. Contoh: anda jangan duduk di sini.
10.  Adverbia keinginan
Yaitu adverbia yang menyatakan keinginan. Yang termasuk adverbia ini yaitu ingin, mau, hendak, suka dan segan.
·         Adverbia ingin, mau dan hendak. Adverbia ini digunakn untuk menyatakn rasa ingin. Contoh: saya ingin/mau/hendak makan sate.
·         Adverbia suka. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan keinginan terhadap sesuatu. Contoh: ibu sangat suka minum teh.
·         Adverbia segan. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan ketidakinginan. Contoh: saya segan menemui beliau.
11.  Adverbia frekuensi
Yaitu adverbia yang menyatakan berapa kali suatu tindakan atau perbuatan dilakukan atau terjadi.yang termasuk adverbia ini yaitu sekali, sekali-kali, sesekali,  sekali-sekali, jarang, kadang-kadang, sering, acap, biasa, selalu dan senantiasa.
·         Adverbia sekali. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan dilakukan sekali. Contoh: nasi ini cukup untuk sekali makan.
·         Adverbia sesekali. Adverbia yang digunakan untuk menyatakan tindakan yang terjadi tidak sering. Contoh: kami sesekali menonton bioskop di kota.
·         Adverbia sekali-kali. Adverbia ini biasanya didahului adverbia ingkaran jangan, digunakan untuk menyatakan satu kali saja tidak. Contoh: anda jangan sekali-kali melanggar aturan !
·         Adverbia sekali-sekali. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan akan kejadian yang jarang terjadi. Contoh: sekali-sekalikami diajak ayah menonton bioskop.
·         Adverbia jarang. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan kejadian yang tidak sering terjadi. Contoh: beliau jarang makan diluar.
·         Adverbia kadang-kadang. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan yang terjadi sewaktu-waktu. Contoh: kadang-kadang saya teringat akan beliau.
·         Adverbia sering. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan yang acap terjadi. Contoh: dia sering duduk melamun seorang diri.
·         Adverbia acap atau acapkali. Adverbia ini digunakan untuk menunjukan tindakan yang jarang terjadi. Contoh: kami acapkali masih teringat dia.
·         Adverbia biasa. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan yang lazim terjadi. Contoh: kami biasa makan dulusebelum pergi ke kampus.
·         Adverbia selalu. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan tindakan yang tidak pernah tidak terjadi. Contoh: dia selalu datang terlambat.
·         Adverbia senantiasa. Adverbia yang digunakan untuk menyatakan tindakan yang idak pernah tidak dilakukan. Contoh: kami senantiasa membayar pada setiap awal bulan.
12.  Adverbia penambahan
Yaitu adverbia yang menyatakan penambahan terhadap kategori yang didampingi. Yang termasuk adverbia ini yaitu pula, juga dan jua.
·         Adverbia pula. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan penambahan akan tindakan hal atau keadaan, diletakkan i sebelah kanan verba, nomina atau ajektiva. Contoh:  dia bukan hanya cantik tetapi santun pula.
·         Adverbia juga. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan penambahan terhadap tindakan, hal atau keadaan, diletakkan di sebelah kanan verba, nomina atau ajektiva. Contoh:  disamping menipu, dia sering mencuri juga.
·         Adverbia jua. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan penambahan terhadap tindakan, hal atau keadaan, diletakkan di sebelah kanan kategori yang didampinginya. Contoh:  yang tidak setuju ternyata mereka jua.
13.  Adverbia kesanggupan
Yaitu advebia yang digunakan untuk menyatakan kesanggupan. Yang termasuk adverbia ini yaitu sanggup, dapat dan bisa. Ketiganya digunakan untuk menyatakan kesanggupan. Contoh: saya sanggup/bisa/dapat berfikir dengan normal.
14.  Adverbia harapan
Yaitu adverbia yang menyatakan harapan akan terjadinya sesuatu tindakan, hal atau keadaan. Yang termasuk adverbia ini yaitu moga-moga, semoga, mudah-mudahan, hendaknya, sepatutnya, sebaiknya, seyogianya,, seharusnya dan sepantasnya.
·         Adverbia moga-moga, mudah-mudahan dan semoga. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan  harapan, diletakkan di awal klausa. Contoh: moga-moga/mudah-mudahan/semoga Anda berhasil.
·         Adverbia hendaknya. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan harapan, diletakkan di awal klausa, di sebelah kiri predikat atau pada akhir klausa. Contoh: hendaknya kalian mengikuti jejak beliau.
·         Adverbia sepatutnya, seharusnya, sepantasnya, semestinya dan selayaknya. Adverbia ini digunakan untuk menyatakan harapan, diletakkan pada awal klausa atau di sebelah kiri predikat. Contoh: sepatutnya/seharusnya/sepantasnya/semestinya/selayaknya kamu meminta maaf dulu kepada beliau.
B.     Konjungsi
a.       Pengertian konjungsi
Konjungsi adalah kategori yang menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat atau paragraf dengan paragraf.
b.      Pembagian konjungsi
Ditinjau dari kedudukan konstituen yang dihubungkan, konjungsi dibagi menjadi dua ketegori yaitu konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif.
·         Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua buah konstiuen yang kedudukannya sederajat. Konjungsi ini dibagi menjadi 10 kategori yaitu konjungsi penjumlahan, pemilihan, pertentangan, pembetulan, penegasan, pembatasan, pengurutan, penyamaan, penjelasan dan penyimpulan.
(1)   Konjungsi penjumlahan. Yaitu konjungsi yang menghubungkan menjumlahkan. Yang termasuk konjungsi ini yaitu dan, serta dan dengan.
(a)    Konjungsi dan. Contoh:  ibu dan ayah pergi ke pasar
(b)   Konjungsi serta. Contoh: ibu serta ayah pergi ke lampung
(c)    Konjungsi dengan. Contoh: ibu dengan ayah pergi ke pasar
(2)   Konjungsi pemilihan. Yaitu konjungsi yang menghubungkan memilih salah satu konstituen yang dihubungkan. Yang termasuk konjungsi ini hanyalah kata atau. Contoh:  sarjana teknik atau sarjana sastra sama pentingnya dalam pembangunan.
(3)   Konjungsi pertentangan. Yaitu konjungsi yang menyatakan mempertentangkan. Yang termasuk konjungsi ini yaitu tetapi, namun, sedangkan dan sebaliknya.
(a)    Konjungsi tetapi. Digunakan untuk menyatakan hubungan memepertentangkan. Aturan penggunaannya:
(i)        Diantara dua buah kata berkategori ajektiva yang berkontras dalam sebuah klausa. Contoh: dia memang bodoh tetapi rajin
(ii)      Diantara dua buah klausa yang subjeknya merujuka pada identitas yang sama, sedangkan predikatnya adalah dua buah kata yang berkategori ajektiva yang berkontras. Contoh: pak lurah memang tegas namun berhati baik
(iii)    Diantara dua buah klausa yang ubjeknya bukan identitas yang sama, sedangkan predikatnya berupa dua buah kata berkategori ajektifa yang bertentangan. Contoh: kakaknya pandai tetapi adiknya bodoh sekali.
(iv)    Diantara dua buah klausa yang klausa pertama berupa pernyataan, sedangkan klausa kedua berisi pengingkaran terhadap adverbia tidak. Contoh: Ida sebenarnya ingin melanjutkan sekolah tetapi orang tuanya tidak mampu lagi membiayainya.
(v)      Diantara dua buah klausa yang klausa pertamanya berisi pengingkaran dengan adverbia bukan dan klausa keduanya berisi pernyataan yang membetulkan isi klausa pertama. Contoh: almarhum bukan mati karena gantung diri, tetapi karena digantung orang.
(b)   Konjungsi namun. Konjungsi ini digunakan untuk menyatakan hubungan mempertentangkan, digunakan diantara dua buah kalimat. Contoh: sejak kecil anak itu kami asuh, kami didik dan kami sekolahkan. Namun, setelah dewasa dan jadi oarang besar dia lupa kepada kami.
(c)    Konjungsi sedangkan. Untuk menyatakan pertentangan, digunakan diantara dua buah klausa dalam satu kalimat. Contoh: dua orang pencuri masuk ke rumah itu, sedangkan seorang temannya menunggu diluar.
(d)   Konjugsi sebaliknya. Digunakan untuk menytakan pertentangan, dapatdigunakan diantara dua buah klausa atau diantara dua buah kalimat. Contoh: para perusuh itu bukan dicegah melakukan penjarahan, sebaliknya, seperti dibiarkan olah para petugas.
(4)   Konjungsi pembetulan. Yaitu konjungsi yang menghubungkan dan membetulkan atau meralat kedua konstituen yang dihubungkan. Yang termasukkonjungsi ini yaitu melainkan dan hanya.
(a)      Konjungsi melainkan. Digunakan untuk menghubungkan membetulkan atau meralat, digunakan diantara dua buah klausa. Contoh:  bukan dia yang datang, melainkan temannya.
(b)     Konjungsi hanya. Digunakan untuk menghubungkan membetulkan atau meralat, digunakan diantara dua buah klausa. Klausa pertama barisi pernyataan positif, sedangkan klausa kedua berisi pernyataan yang mengurangi kepositifan. Contoh: dia tidak apa-apa, hanya kelelahan.
(5)   Konjungsi penegasan. Yaitu konjungsi yang menghubungkan menegaskan atau menguatkan. Yang termasuk konjungsi ini yaitu bahkan, apalagi, lagipula, hanya, maupun, begitu juga dan demikian pula.
(i)      Konjungsi bahkan. Digunakan untuk menghubungkan menegaskan atau menguatkan, digunakan diantara dua buah kalimat atau klausa. Contoh: anak itu memang sangat nakal. Bahkan ibunya sendiri sering ditipunya.
(ii)    Konjungsi apalagi. Digunakan untuk menghubungkan menegaskan atau menguatkan, digunakan diantara dua buah kalimat atau klausa. Contoh: anak itu memang nakal sekalu. Apalagi kalaujauh dari ibunya.
(iii)  Konjungsi lagipula. Digunakan untuk menghubungkan menegaskan atau menguatkan, digunakan diantara dua buah kalimat atau klausa. Contoh: mari kita makan di kedai itu; masakannya enak; harganya murah; lagipula pelayanannya sangat baik
(iv)  Konjungsi hanya. Digunkan untuk menghubungkan menegaskan, digunakan pada awal klausa kedua untuk menegaskan bahwa kaedaan pada klausa pertama tidak seberapa. Contoh: sakitya tidak parah; hanya batuk-batuk dan masuk angin.
(v)    Konjungsi itupun. Digunakan untuk menghubungkan menegaskan, diletakkan pada awal klausa. Contoh: dari 100 siswa yang ikut hanya 15 orang yang lulus. Itupun setelah kriteria kelulusan diturunkan.
(vi)  Konjungsi begitu juga. Yaitu konjungsi antar kalimat. Digunakan untuk menghubungkan menegaskan, ditempatkan pada awal kalimat kedua. Contoh: anak itu bukan main nakalnya. Begitu juga dengan kakaknya.
(6)   Konjungsi pembatasan. Yaitu konjungsi yang menghubungkan membatasi. Yang termasuk konjungsi ini yaitu kacuali dan hanya.
(i)      Konjungsi kecuali. Digunakan untuk menghubungkan membatasi, diletakkan di awal kalimat kedua. Contoh: saya akan datang memenuhi undanganmu; kecuali kalau hujan lebat.
(ii)    Konjungsi hanya. Penggunaanya sama seperti pada konjungsi penegasan.
(7)   Konjungsi pengurutan. Digunakan untuk menghubungkan klausa dengan klausa dalam urutan beberapa kejadian secara kronologis. Yang termasuk konjungsi ini yaitu sebelum, sesudah, lalu, mula-mula, kmudian, selanjutnya, setelah itu atau kata-kata pertama, kedua, ketiga dst. Contoh: mula-mula kami dipersilahkan masuk, lalu dipersilakan duduk, dan selanjutnya ditanya apa keperluan kami kepadanya.
(8)   Konjungsi penyamaan. Yaitu konjungsi yang menghubungkan menyamakan antara dua klausa dengan bagian klausa yang termasukkonjungsi ini yaitu adalah, ialah, yaitu dan yakni.
(i)      Konjungsi adalah. Digunakan untuk menghubungkan dua bagia kalimat dimana bagian pertama merupakan maujud yang sama dengan bagian kedua. Contoh: mereka yang belum membayar SPP adalah ali dn siti.
(ii)    Konjungsi ialah. Untuk menghubungkan menyamakan secara terbatas dapat digunakan sebagai varian dari konjungsi adalah. Contoh: Soekarno ialah presiden pertama republikindonesia.
(iii)  Konjungsi yaitu. Untuk menghubungkan menyamakan digunakan antara dua bagian kalimat yang maujudnya sama. Contoh: yang belum menyerahkan ugas akhir yaitu ali dan siti.
(iv)  Konjungsi yakni. Secara bebas dapat digunakan untuk menggantikan konjungsi yaitu. Contoh: anak beliau ada dua orang yakni ali dan siti.
(9)   Konjungsi penjelasan
Yaitu konjungsi yang menghubungkan menjelaskan, dimana klausa kedua berlaku sebagai penjelas dari keadaan, peristiwa atau hal pada klausa pertama. Satu-satunya konjungsi penjelasan yaitu kata bahwa. Contoh: kabar bahwa mereka akan menikah bulan depan saya sudah tahu.
(10)   Konjungsi penyimpulan. Yaitu konjungsi yang menghubungka menyimpulkan. Yang termasuk konjungsi ini yaitu maka, maka itu, jadi, karena itu, oleh karena itu, sebab itu, oleh sebab itu, dengan demikian dan dengan begitu. Semua kata ini memiliki fungsi yang sama yaitu untuk menghubungkan menyimpulkan terhadap isi kalimat-kalimat yang disebutkan di depannya. Contoh:ibunya meninggal ketika dia berumur dua tahun. Ayahnya meninggal ketika usianya empat tahun. Maka, sejak kecil dia sudah yatim piatu.
·         Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua buah konstituen yang kedudukannya tidak sederajat. Konjungsi ini dibagi menjadi 7 kategori yaitu konjungsi penyebaban, persyaratan, tujuan, penyungguhan, kesewaktuan, pengakibatan dan perbandingan.
(1)   Konjungsi penyebaban. Yaitu konjungasi yang menghubungkan menyatakan sebab terjadinya keadaan pada klausa utama. Yang termasuk konjungsi ini yaitu karena, sebab dan lantaran.
(i)      Konjungsi karena digunakan untuk menghubungkan menyatakan sebab, ditempatkan pada awal klausa bawahan. Contoh: mereka terlambat karena jalan macet.
(ii)    Konjungsi sebab diguakan untuk menghubungkan menyatakan sebab, secara umum dapat menggantikan posisi konjungsi karena. Contoh: mereka terlambat sebab jalan macet.
(iii)  Konjungsi lantaran dihubungkan untuk menghubungkan menyatakan sebab, dapat digunakan untuk mengggantikan konjungsi karena. Namun, konjungsi ini hanya digunakan dalam bahasa indonesia ragam non baku.
(2)   Konjungsi persyaratan. Yaitu konjungsi yang menghubungan menyatakan syarat untuk keadaan yang terjadi pada klausa utama dalam sebuah kalimat majemuk subordinatif.yang termasuk konjungsi ini yaitu kalau, jika, jikalau, bila, bilamana, apabila dan asal.
(i)      Konjungsi kalau digunakan untuk menghubungkan menyatakan syarat ditempatkan pada awal klausa bawahan. Contoh: saya akan datang kalau diberi ongkos.
(ii)    Konjungsi jika digunakan untuk menghubungkan menyatakan syarat, dapat digunakan menggantikan konjungsi kalau. Contoh: saya akan datang jika diberi ongkos.
(iii)  Konjungsi jikalau digunakan untuk menghubungkan menyatakan syarat, dapat digunakan menggantikan konjungsi jika.
(iv)  Konjungsi bila, apabila dan bilamana digunakan untuk menghubungkan menyatakan syarat. Contoh: saya akan datang bila/bilamana/apabila diberi ongkos.
(v)    Konjungsi asal digunakan untuk menghubungkan menyatakan syarat, lazim digunakan dalam bahasa ragam non formal. Contoh: saya akan datang asal diberi ongkos.
(3)   Konjungsi tujuan
Yaitu konjungsi yang menghubungkan menyatakan tujuan dilakukannya tindakan pada klausa pertama. Yang termasuk konjungsi ini adalah agar, supaya, guna dan untuk.
(i)      Konjungsi agar digunakan untuk menghubungkan menyatakan tujuan, ditempatkan pada awal klausa kedua. Contoh: jalan layang dibangun di beberapa persimpangan agar lalu lintas menjadi lancar.
(ii)    Konjungsi supaya digunakan untuk menghubungkan menyatakan tujuan, dapat digunakan untuk menggantikan konjungsi agar. Contoh: supaya tidak terlambat kita harus segera berangkat.
(iii)  Konjungsi untuk digunakan untuk menghubungkan tujuan, digunakan pada awal klausa bawahan pada sebuah kalimat mejemuk subordinatif. Contoh: jalan layang dibangun untuk melancarkan arus lalu lintas.
(iv)  Konjungsi guna digunakan untuk menghubungkan menyatakan tujuan, dapat digunakan sebagai pengganti konjungsi untuk. Contoh: jalan layang dibangun guna melancarkan arus lalu lintas.
(4)   Konjungsi penyungguhan. Yaitu konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan menyuguhkan tindakan yang terjadi pada klausa utama pada sebuah kalimat majemuk subordinatif. Yang termasuk konjungsi ini yaitu meskipun (meski), biarpun (biar), walaupun (walau), sekalipun, sungguhpun, kendatipun dan kalaupun. Semua kata ini dapat dipertukarkan. Contoh: dia hadir juga meskipun (meski)/ biarpun (biar)/ walaupun (walau)/ sekalipun/ sungguhpun/ kendatipun/ kalaupun tidak diundang.
(5)   Konjungsi kesewaktuan yaitu konjungsi yang mnghubungkan menyatakan waktu antara dua buah peristiwa. Yang termasuk konjungsi ini adalah ketika itu, waktu itu, saat itu, tatkala itu, sebelum itu, sesudah itu, sejak itu,semenjak itu dan sementara itu.
(i)      Konjungsi ketika digunakan untuk menghubungkan menyatakan saat waktu yang sama antara kejadian yang terjadi pada klausa pertama denga klausa lainnya pada sebuah kalimat majemuk subordinatif. Contoh: beliau datang ketika kami sedang makan.
(ii)    Konjungsi waktu itu, saat itu dan tatkala itu secara umum dapat digunakan untuk menggantikan posisi ketika. Contoh: beliau datang waktu/saat/tatkala kami sedang makan.
(iii)  Konjungsi selagi digunakan untuk menguhubungkan menyatakan durasi waktu yang sama yang terjadi antara dua buah klausadalam sebuah kalimat majemuk subordinatif. Contoh: selagi kami makan dia menunggu diluar.
(iv)  Konjungsi sementara secara umum dapat digunakan untuk menggantikan konjungsi selagi. Contoh: sementara kami makan dia menunggu diluar.
(v)    Konjungsi sebelum digunakan untuk menghubungkan menyatakan waktu kejadian pada klausa utama terjadi. Contoh: dia mandi dulu sebelum sarapan.
(vi)  Konjungsi setelah digunakan untuk menghubungkan menyatakan waktu kejadian pada klausa utama terjadi. Contoh: ejak ayah meninggal, anak itu berhenti sekolah.
(6)   Konjungsi pengakibatan yaitu konjungsi yang menghubungkan menyatakan akibat atas terjadinya peristwa yang terjadi pada klausa utama terhadap kejadian yang terjadi pada klausa bawahan. Yang termasuk konjungsi ini yaitu sampai, hingga dan sehingga. Contoh: pencuri naas itu dipulkuli orang banyak sampai mukanya babak belur.
(7)   Konjungsi perbandingan yaitu konjungsi yang menghuungkan menyatakan bahwa kajadian yang terjadi pada klausa utama mirip sperti yang terjadi pada klausa bawahan. Yang termasuk konjungsi ini yaitu seperti, sebagai, laksana dan seumpama. Contoh: dimakannya nasi itu dengan lahap seperti orang tiga hari belum makan.
C.     Preposisi
a.       Pengertian preposisi
Preposisi adalah kategori yang terletak di sebelah kiri nomina sehingga terbentuk sebuah frase aksosentrik untuk mengisi fungsi keterangan dalam sebuah klausa.


b.      Pembagian preposisi
Preposisi dibagi menjadi 13 kategori yaitu preposisi tempat berada, tempat asal, tempat tujuan, asal bahan, asal waktu, waktu tertentu, tempat tertentu, perbandingan, pelaku, alat, hal, pembatasan dan tujuan.
·         Preposisi tempat berada. Preposisi ini menyatakan tempat terjadinya peristiwa terajadi. Yang termasuk preposisi ini adalah di, pada, dalam dan antara.
(1)   Preposisi di digunakan untuk menyatakan tempat berada. Contoh: saya tidur di kamar kakak.
(2)   Preposisi pada juga digunakan untuk menyatakan tempat berada. Contoh: ibunya menjadi guru pada sebuah SD terkemuka di Semarang.
(3)   Preposisi dalam digunakan untuk menyatakan tempat berada. Contoh: dalam perjalanan ke Yogyakarta kami singgah di Semarang.
(4)   Preposisi antara dignakan untuk manyatakan empat berada. Contoh: rumahnya trletak antara masjid dan kantor polisi.
·         Preposisi tempat asal. Preposisi ini menyatakan tempat berasalnya nomina yang diikuti. Yang termasuk preposisi ini yaitu kata dari. Contoh: Buku itu diambilnya dari laci.
·         Preposisi tempat tujuan. Preposisi ini menyatakan tempat yang dituju dari perbuatan yang dilakukan. Yang termasuk preposisi ini yaitu ke dan kepada.
(1)   Preposisi ke. Preposisi ini menyatakan tempat geografis. Contoh: kami melompat ke tengah panggung.
(2)   Preposisi kepada. Contoh: saya bertanya kepada beliau mengenai kontrak perkuliahan.
·           Preposisi asal bahan. Yaitu preposisi yang menyatakan asal bahan pembuat sesuatu. Yang termasuk preposisi ini yaitu kata dari. Contoh: kue ini terbuat dari gula dan terigu.
·           Preposisi asal waktu. Yaitu preposisi yang menyatakan waktu mulai suatu kejadian. Yang termasuk preposisi ini adalah dari dan sejak. Contoh: sejak/dari kemarin saya belum makan.
·           Preposisi waktu tertentu yaitu preposisi yang menyatakan awal dan akhir dari suatu kejadian. Yang termsuk kategori ini yaitu dari dan sejak yang diikuti preposisi sampai. Contoh: mereka pergi dari pagi sampai sore.
·           Preposisi tempat tertentu yaitu preposisi yang menyatakan awal tempat kejadian hingga akhir tempat kejadian. Yang termasuk kategori ini yaitu kata dari yang diikutin preposisi sampai. Contoh: kami berjalan kaki dari rumah sampai kampus
·           Preposisi perbandingan yaitu preposisi yang menyatakan perbandingan antara dua tindakan. Yang termasuk ketegori ini yaitu daripada. Contoh: belajar lebih baik daripada duduk melamun.
·           Preposisi pelaku yaitu preposisi yang menyatakan pelaku perbuatan yang disebutkan dalam predikat klausa. Yang termasuk kategori ini yaitu oleh. Contoh: kakek dilarang oleh dokter untuk merokok lagi.
·           Preposisi alat yaitu preposisi yang menyatakan alat untuk melakukan perbuatan yang dinyatakan oleh predikat klausa yang bersangkutan. Yeng termasuk dalam kategori ini yaitu dengan dan berkat. Contoh: kakek menulis dengan pensil.
·           Preposisi hal yaitu preposisi yang menyatakan hal yang akan disebutkan dalam predikat klausanya. Yang termasuk dalam kategori ini yaitu perihal, tentang dan mengenai. Contoh: mengenai nasib anak iu terserah kepada anda-lah.
·           Preposisi pembatasan yaitu preposisi yang menyatakan batas akhir dari suatu tindakan yang disebutkan dalam predikat klausanya. Yang termasuk kategori ini yaitu sampai dan hingga. Contoh: pencopet naas itu digebuki orang ramai sampai/hingga babak belur.
·           Preposisi tujuan yaitu preposisi yang menyatakan tujuan dari tindakan yang disebutkan dalam predikat klausanya. Yang termauk kategori ini yaitu agar dan supaya. Contoh: setiap pagi berolahraga agar/supaya sehat.


BAB III
Penutup
A.    Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut, penyususn mengambil kesimpulan bahwa:
1.       Berdasarkan makna yang dikandungnya, adverbia terbagi menjadi 15 kelas yaitu sangkalan (negasi), jumlah (kuantitas), pembatasan, penambahan, keseringan (frekuensi), kualitas, waktu (kala), keselesaian, kepastian, keharusan, derajat, kesanggupan, harapan, keinginan, dan kesungguhan.
2.      Berdasarkan kedudukan konstituen yang dihubungkan, konjungsi dibagi menjadi dua ketegori yaitu konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif. Konjungsi koordinatif dibagi menjadi 10 kategori yaitu konjungsi penjumlahan, pemilihan, pertentangan, pembetulan, penegasan, pembatasan, pengurutan, penyamaan, penjelasan dan penyimpulan. Sedangkan, konjungsi subordinatif dibagi menjadi 7 kategori yaitu konjungsi penyebaban, persyaratan, tujuan, penyungguhan, kesewaktuan, pengakibatan dan perbandingan.
3.      Preposisi dibagi menjadi 13 kategori yaitu preposisi tempat berada, tempat asal, tempat tujuan, asal bahan, asal waktu, waktu tertentu, tempat tertentu, perbandingan, pelaku, alat, hal, pembatasan dan tujuan.
B.     Kritik dan Saran
Penyusun menyadari dalam penyusunan makalah ini pastilah sangat jauh dari kesempurnaan. Informasi yang masih sedikit, sumber yang mungkin kurang valid, penyusunan yang kurang sistematis hingga penulisan yang mungkin masih banyak kesalahan. Maka dari itu, penyusun sangat mengharapkan kiranya pembaca berkenan menyampaikan kritik dan sarannya untuk perbaikan pada makalah yang akan datang.




Daftar Pustaka
Chaer, Abdul.2009. Sintaksis Bahasa Indonesia (pendekatan proses). Jakarta: Rineka Cipta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikolinguistik: Penyimpanan dan Retrieval Kata

Psikolinguistik: Produksi kalimat

analisis novel Memoar Dokter Perempuan karya Nawal El Sadawi dengan pendekatan sosiologi sastra