Rasionalitas Cinta
Zidna anfi'atul ilma.
Ibu bapakku menyematkan nama itu padaku 25 tahun yang lalu. Kamu tau, aku
beruntung mendapatkan nama itu. Nama yang cantik. Zidna: perpaduan fi'il amr
zid yang artinya tambahkanlah dan dzamir muttasil na yang berarti kami.
Anfi'atul ilma: perpaduan kata anfi'atun yang berarti bermanfaat dan kata al
ilma yang berarti ilmu. Zidna anfi'atul ilma secara keseluruhan berarti
tambahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. Nama yang indah bukan? Ya, aku
tau apa yang kalian pikirkan, aku sangat beruntung bisa mendapatkan nama itu.
"mba, besok aku mau
pake kemeja biru muda ke kantor. Tolong disiapkan yah.." kata seorang pria
berperawakan tinggi putih ganteng dan ... sixpack.
"iya dek, nanti mba
siapkan. Besok mau bawa bekal apa?" sahutku kemudian.
"apapun tak apa
mba. Aku selalu suka masakan mba. Selalu enak. mba hari ini gimana pekerjaan
mba di sekolah?" tanyanya lagi.
"alhamdulillah
lancar dek. Masih sibuk mempersiapkan UTS." jawabku
"mbak baik-baik
saja kan? Kalo mba lelah, mba bisa berhenti dari pekerjaan mba. Istirahat saja.
insyaAllah gajiku lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Mba jangan
memaksakan diri." katanya lagi. Kalimat itu sudah kali kedua diucapkannya
dalam dua minggu terakhir ini.
"ah, leluconmu
itu tak lucu dek. Kamu berbicara
seolah-olah aku sudah tua renta dan berpenyakitan. Lelah? Bagaimana aku bisa
lelah, sedangkan wajah-wajah polos mereka selalu menghiasi dan menceriakan
hari-hariku. Dan itu semua membuatku lupa sejenak dengan orang itu, lupa
sejenak bahwa hatiku terluka, lupa sejenak..." aku terdiam..merenung.
" Dek, apa kamu
tidak ridha dengan pekerjaan mba sekarang? Jika memang tak ridha, biar mba
tinggalkan. Ridhamu lebih dari segalanya, ridhamu adalah pintu syurga untukku
karena kamu suamiku".
"suami? Benarkah
aku ini suami mba? Bahkan untuk sekadar menyentuh mba saja, aku tak bisa
bukan?" katanya dengan ekspresi putus asa.
Aku tak kuasa berkata
apa pun lagi. Semua urusan ini menjadi rumit karena kesalahanku.
"sudah malam mba,
mba istirahatlah.." katanya kemudian...mengalah.
Kami sudah menikah sejak
1 tahun yang lalu. Kala itu hari jum'at saat dia mengikrarkan janji sucinya
untuk menjadi suamiku. Ah, dia sudah berkorban banyak.
Sejak 6 bulan pernikahan
kami, pembicaraan kami berkutat seputar hak dan kewajiban suami istri. Entah
apapun perbincangan kami, selalu berakhir begitu. Tapi kami tak pernah mampu
menyelesaikan perbincangan itu. Semuanya berakhir saat dia bilang dia tak bisa
menyentuhku. Selalu begitu. Awalnya pembicaraan itu jarang, tapi semakin hari
intensitas perbincangan itu semakin sering. Aku tahu kami tak bisa begini
terus, hasrat biologisnya harus dipenuhi, aku tahu kasabarannya menungguku
siap, semakin menipis. Dan aku tau jika begini terus cepat atau lambat
pernikahan kami akan kandas. Aku tau, kuncinya ada padaku, jika saja aku mau
disentuh olehnya, takkan jadi begini. Tapi aku terlalu lemah untuk melupakan
pria itu. Menyedihkan bukan?
Aku mamang beruntung
mendapat tambahan ilmu, seperti doa orang tuaku yang tersemat dalam namaku. Dan
karena tambahan ilmu itulah, aku mengabdikan diriku di bidang pendidikan.
Menyebarkan ilmu yang ditambahkan padaku. Tapi keberuntungan itu tak berpihak
padaku dalam hal percintaan. Tak pernah beruntung...
Aku beranjak naik ke
tempat tidurku. Lelah. Ah, tempat yang selalu dingin...alhamdulillah, satu hari
yang berat terlewati lagi.
Tok...tok
..tok...kuketuk pintu kamar suamiku. Kami memang tidur di kamar yang berbeda.
Seingatku sejak kami menikah kami hanya sekali tidur dalam satu kamar, saat
malam pertama kami. Di rumah ibu mertuaku. Selebihnya, saat kami tinggal di
rumah kami sendiri, kami tidur terpisah. Dia tak keberatan, dia menghargaiku
yang belum bisa disentuhnya.
"aku akan selalu
setia menunggu mba, aku takkan melakukannya hingga mba siap lahir batin untuk
melakukannya", kira-kira begitu kata-katanya. Ah, dia pria yang sangat
baik. Hanya saja betapa bodohnya aku yang belum juga siap.
Tak ada respon dari
dalam kamarnya. Dia pasti kelelahan. Kubuka pintu kamarnya, tak dikunci. Benar
saja, dia masih tertidur lelap.
"dek,...dek Raihan,
sudah jam 3. sholat tahajjud yuk." Wajahnya terlihat polos saat tertidur
lelap begitu. Ah, lelaki yang tampan. Andai aku bertemu dengannya lebih dulu
dari kakaknya, mungkin aku akan mencintainya. Tapi takdir mempertemukanku dengan
kakaknya dua tahun lebih awal darinya. Menyemai bibit-bibit cinta pada kakaknya
yang pada akhirnya sangat sulit untuk kubasmi.
Dek Raihan menggeliat
sejenak dan tersadar. "jam berapa sekarang mba?"tanyanya dengan
kesadaran yang belum sempurna.
"sudah jam 3
dek" jawabku lagi. "sholat yuk.."
" iya mba, makasih
sudah setia membangunkan. Aku mencintaimu mba" katanya kemudian seraya
tersenyum. Ah, senyum yang manis dan tulus. Aku tau dia jujur mengatakan itu.
" terima kasih
sudah mencintaiku dek." sahutku dengan senyum getir. Ah, bagaimana bisa
aku menyia-nyiakan cintanya yang begitu tulus darinya.
Keseharian kami selalu
diawali ritual, ritual tahajjud kami. Usai tahajjud, aku selalu bersimpuh di
hadapannya, mencium tanggannya dan meminta maaf atas segala kekuranganku hingga
subuh. Selalu begitu. Dan saat itu..saat aku terisak dalam tangis.. dia selalu
mengelus kepalaku, manghiburku dan membesarkan hatiku. Dia mau menerima
kekuranganku..menerimaku apa adanya. Dia memang 2 tahun lebih muda dariku, tapi
dia jauh lebih dewasa dariku.
Selepas shubuh, aku
mulai tenggelam dalam rutinitas harianku sebagai ibu rumah tangga mulai dari
mencuci, memasak,mempersiapkan seragam dek Raihan, mempersiapkan bekal makan
siangnya, bersih-bersih rumah, dan banyak lagi. Sedangkan dek Raihan, selepas
shubuh dia murojaah hafalanya, 1 juz tiap pagi. Setelah itu dia akan duduk di
ruang tengah, terkadang membaca koran, terkadang termenung manyaksikan
kesibukanku, dan terkadang pula memaksa membantuku menyelesaikan tugasku, meski
sering kali kularang. Pamali, seorang suami sampai turun tangan mengerjakan
pekerjaan rumah tangga, martabatku sebagai seorang ibu rumah tangga akan
tercoreng. Setiap pagi, dek Raihan selalu minta di buatkan kopi, dia selalu
menghabiskan segelas kopi tiap pagi sebelum berangkat ke kantor, kopi dengan
satu setengah sendok gula, tak boleh kurang dan tak boleh lebih.
Setiap pagi, pukul 06.45
am, aku dan dek Raihan siap berangkat ke tempat kerja kami masing-masing. Menjemput
Berkah Allah yang berceceran di muka bumi. Kami berangkat bersama, sekolah
tempatku mengajar dan kantor dek Raihan memang searah, jadi dia mengantarku
terlebih dahulu ke sekolah, setelah itu dia berangkat ke kantornya. Sebenarnya
alasan kami berangkat bersama bukan hanya karena tempat kerja kami searah, tapi
lebih karena dek Raihan yang sangat menyayangiku, dan selalu melindungiku
kemanapun aku pergi. Ah, begitu indah bukan?
"semangat mba,
semoga setiap nafas yang mba gunakan untuk mengajar anak-anak bernilai
ibadah." dia selalu mendoakanku begitu ketika kami berpisah di depan
gerbang sekolah.
"aamiin. Kamu juga
dek." jawabku dengan seulas senyuman tipis.
Begitulah, setelah
perpisahan di gerbang sekolah itu kami menekuni pekerjaan kami masing-masing.
Aku pulang dari sekolah sekitar pukul 02.00 pm, dan dek Raihan pulang dari
kantornya pukul 05.00 pm. Pukul 04.30 pm, aku selalu menyiapkan pakaian
gantinya, menyiapkan air hangat untuknya mandi nanti sepulang dari kantor.
Pukul 05.30 pm, setelah dek Raihan selesai mandi dan berganti pakaian, kami
duduk di teras belakang. Memandangi bunga-bunga flamboyan yang mulai
berbunga..juga memandangi mentari yang mulai kembali ke peraduannya. Saat adzan
maghrib berkumandang, kami beranjak dari
teras belakang, mengambil wudhu dan berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat
maghrib berjamaah. Sepulang berjamaah, kami mengaji bersama di ruang tengah.
Dia menyimak bacaanku seraya membenarkan disana sini. Dia sangat sabar...dan
selalu sabar di segala hal. Setengah jam kemudian kami makan malam
bersama..berdua...hanya berdua...selalu berdua. Romantis? Bukan. Itu menyedihkan.
Sesekali dia menyinggung betapa sepinya makan malam kami...tidak, bahkan
hari-hari kami selalu sepi. Aku tahu apa yang dia maksudkan. Dia merindukan
kehadiran seorang anak. Tapi bagaimana kami akan memiliki seorang anak,
sedangkan aku belum bersedia disentuh. Usai makan malam, kami sholat Isya
berjamaah di rumah, kemudian dilanjutkan bercengkrama di ruang tengah.
Membicarakan banyak hal. Mulai dari sosial, politik, ekonomi, agama, negara,
surga, neraka, bahkan filsafat. Topik pembicaraan kami memang selalu berat.
Entah mengapa, tapi kami selalu nyambung. Usai berbincang kami mempersiapkan
pekerjaan kami besok, terkadang aku membantunya mempersiapkan berkas-berkasnya
untuk meeting besok, kadang pula dia yang membantuku mengoreksi hasil ulangan
siswa-siswaku. Aku tak pernah keberatan membantunya, dan kurasa diapun begitu.
Kami senang melakukannya. Meski kami tak pernah berhubungan biologis, jangan
dikira kami kaku satu sama lain dan tak akrab. Kami tak begitu, kami akrab satu
sama lain. Aku selalu mengerjakan tugas-tugas ibu rumah tangga, dek raihanpun
selalu mengerjakan tugasnya sebagai kepala rumah tangga. Masalahnya hanya satu,
aku belum siap berhubungan biologis dengannya. Itu saja. Karena bagiku, untuk
berhubungan secara biologis itu harus dilandasi cinta. Dan cintaku padanya tak
juga tumbuh. Tumbuh? Entahlah, sepertinya aku takkan bisa jatuh cinta lagi. Aku
belum bisa melupakan mas farhan.
"mba, tadi siang
mas farhan sms aku. Mba dapat smsnya juga?"tanyanya di suatu sore saat
memandangi sunset di teras belakang.
Aku hanya mengangguk
pelan. Tadi siang saat di kelas, ada sms masuk dari mas farhan. Isinya
pemberitahuan, undangan sekaligus permohonan untuk menghadiri ritual aqiqahan
putranya yang kedua. Acaranya hari Minggu besok, 3 hari lagi.
"mba mau
datangkan?"tanyanya cemas.
"entahlah dek.
Rasanya masih berat untuk menatap wajah mas mu itu." jawabku lirih.
Dia terdiam, terdengar
menarik nafas panjang.
"mba, aku mohon
datanglah. Rasanya akan sangat ganjil jika hanya aku yang menghadiri acara itu.
Apa kata kelurga besar kita nanti?" dia terdiam lagi.
"apa mba bermaksud
mengumumkan pada ibu, pada ayah, pada keluarga besar kita, pada tetangga, pada
dunia bahwa mba masih sangat mencintai mas Farhan?mba, jika mba bersikap begitu
semua orang akan tersakiti mba. Bukan hanya aku, suamimu, tapi mas Farhan dan
juga mba Linda, istri mas Farhan, bahkan ibu dan ayah pun akan terluka. Mba,
jika mba begini, keluarga kita, bukan..bukan hanya keluarga kita tapi keluarga
besar kita akan hancur mba"
"mba, jika mba
masih menganggapku sebagai suamimu, masih menghormatiku dan mengharapkan
ridhaku..datanglah bersamaku mba. Ini perintah dariku sebagai suamimu"
katanya kemudian dan beranjak bersiap ke masjid. Ah, anak itu mengeluarkan
jurus pamungkasnya..perintah suami. Aku bisa apa menghadapi "perintah
suami", pilihanku hanya satu bukan? Menurutinya, hanya itu. Tak ada yang
lain. Jika tidak, aku akan jadi istri yang durhaka yang bahkan takkan mampu
mencium wanginya syurga.
Aku masih terdiam..sesak
sekaligus tak tau harus bagaimana. Pembicaraan kami sore itu terhenti sampai
disitu. Aku tau...aku sadar bahwa aku salah jika bersikap begitu. Perasaan ini,
rasa sakit ini hanya dek Raihan yang tau. Ibu, ayah, semua keluarga besar kami,
bahkan mas Farhan pun tak tau bahwa aku masih sangat mencintainya.
"dek, kita pake
baju batik sarimbit warna coklat yah...",kata ku di minggu paginya.
Dek raihan, demi
mendengar kalimatku barusan segera melipat koran mingguan yang tengah di
bacanya, lantas mengeryitkan dahi.
"mba mau menghadiri
aqiqahan anaknya mas farhan?"tanyanya kemudian.
Aku mengangguk pelan.
"terima kasih
mba..."katanya dengan seulas senyum di bibirnya.
"tak usah berterima
kasih dek, aku hanya melakukan perintah darimu"
"ya sudah, aku tak
mandi dulu mba. Mba juga siap-siap. nanti kita berangkat bareng jam setengah 8
yah.." katanya lagi dan beranjak mengambil handuk. Dia bersenandung riang,
sepertinya dia bahagia.
Semua kesedihan ini
berawal dua tahun lalu saat aku masih di Semarang, kabar itu datang. Kabar yang
merenggut semua harapan masa depanku. Kabar pernikahan mas Farhan dan mba
Linda. Ahya, mas Farhan itu kakak kelasku waktu SMA, dua tingkat diatasku.
Awalnya kami seperti orang asing, tak mengenal satu sama lain. Tapi karena kami
terdampar di kota yang sama, membuat kami dekat satu sama lain. Aku
memanggilnya mas, dan dia memanggilku ade. Klasik. Kami dekat, di akhir pekan
kami menghabiskan waktu bersama..refreshing..melepas penat setelah seminggu
bekerja. Kami kemana-mana bersama,..seharian mengeksplore semarang...makan
bersama...atau sekadar duduk berbincang bersama seharian menghabiskan secangkir
kopi atau coklat. Bahkan ketika kami pulang ke tempat asal kami juga bersama.
Dia sering main ke rumahku, aku pun begitu, sehingga kami mengenal keluarga
masing-masing dengan baik. Aku yang memang tak punya kakak laki-laki sungguh
merasa bahagia bisa mengenal mas Farhan. Aku merasa seperti punya kakak
laki-laki sungguhan. Tapi tidak hanya sampai disitu ternyata, kebersamaan kami
menumbuhkan perasaan lain di hatiku. Perasaan yang membuatku canggung di depan
mas Farhan, perasaan yang membuatku lebih
suka dandan dan ingin tampil cantik di depan mas Farhan..kata orang,
perasaan itu namanya cinta. Aku tak pernah mengatakan perasaan ini pada mas
Farhan..tak pernah. Rasanya malu untuk mengatakannya terlebih dahulu. Menyemai
perasaan itu sendiri, menyiramnya sendiri, memupuknya sendiri hingga tumbuh
besar..mulai mengukir harapan-harapan masa depan bersama mas Farhan. Ku pikir
kebersamaan kami sudah cukup. Tapi ternyata tidak. Mas Farhan hanya
menganggapku sebagai adik, tak kurang dan tak lebih. Hingga dua tahun kemudian
mas Farhan memutuskan untuk menikah dengan mba Linda, wanita yang dikenalnya
melalui proses ta'aruf.
Demi mendengar kabar
itu, aku hancur. Aku hanya mengurung diri di kamar, mendengarkan semua
lagu-lagu patah hati, saat lagu itu habis aku memutarnya lagi dan lagi, absen
mengajar berminggu-minggu, tak merespon semua orang yang berusaha
menghubungiku, menangis dan hanya menangis. Tak ada yang tau tentangku,
sempurna hilang bagai di telan bumi. Pun mas Farhan juga melupakanku, sudah
sibuk mempersiapkan pernikahannya. Di hari H mas farhan mengikrarkan janji
sucinya aku tak datang. Sempurna mengisolasi diri.
Hingga sepuluh bulan
kemudian, dek raihan mengunjungiku. Saat itu dia tengah bertugas selama
seminggu di Semarang. Katanya dia memperoleh alamatku dari mas Farhan. Saat aku
menemui dek raihan aku hanya memakai kaos panjang belel, rok panjang kusut, dan
kerudung awut-awutan. Aku sudah lama lupa caranya berdandan, aku sudah lama
lupa caranya merawat diri. Komedo dan jerawat banyak bersarang diwajahku
membuat wajahku bopeng-bopeng, benjol-benjol, ah entahlah. Wajah putih mulus
tak bernoda? Ah, lupakan itu..hanya bintang iklan yang punya wajah seperti itu.
Aku lebih mirip monster ketimbang manusia bernama wanita. Kami duduk di teras
kontrakanku.
"apa kabar
mba?" tanyanya mengawali pembicaraan.
"seperti yang kamu
lihat dek. Apa lagi yang harus mba jawab.." kataku lirih.
"mba sudah
makan?"tanyanya lagi. Ah, hanya pertanyaan pengalih saja, bukan itu
tujuannya kesini.
"makan katamu? Buat
apa makan dek? hanya menimbun kotoran dalam perut bukan?" jawabku ketus.
"satu bulan yang
lalu mba Linda melahirkan seorang anak perempuan dengan bobot 3 kg. Cantik.
Mirip kamu mba. Mas farhan sehat, sekarang tambah sibuk.. tiga bulan lalu naik
jabatan. Mas Farhan menitipkan salam untukmu mba saat dia tau aku akan
mengunjungimu. Kata mas farhan, dia merindukanmu mba, merindukan adik tercantiknya"
katanya lagi.
Aku hanya terdiam,
menarik nafas panjang. Apa urusanku? Seruku dalam hati. Sebal..adik tercantik? Omong
kosong. Jika aku adik tercantiknya, kenapa dia malah menikahi wanita lain? Bukannya
aku..
"mba, sudah sepuluh
bulan sejak mas farhan menikah. Apa mba masih belum bisa memaafkan kejadian
itu? Sampai kapan mba akan begini terus?"
"entahlah dek, mba
bahkan sudah kehilangan hidup mba, harapan masa depan mba sepuluh bulan yang
lalu, saat kabar itu datang"
"mba, mba tidak
boleh begitu mba. Mba masih hidup. Mba berhak mendapatkan masa depan yang lebih
baik mba."
"dek, tidakkah kamu
tau? Aku sudah kehilangan harapan dek.." kataku putus asa.
"mba, mungkin
harapan masa depan mba dengan mas farhan memang sudah hilang, tapi mba berhak
mempunyai harapan baru mba, kehidupan yang baru, kehidupan yang lebih baik.
Bukan malah begini mba. Aku tak pernah rela mba seperti ini. Mba sudah kuanggap
sebagai kakak perempuanku sendiri. Aku tak tega melihat mba menghancurkan hidup
mba sendiri. Mba berhak bahagia dalam hidup mba!"
"harapan baru?
Bahagia? Harapan apa lagi yang mba punya? Kebahagiaan seperti apa yang bisa mba
punya?!"tanyaku lagi.
Dia hanya terdiam.
"Jawab dek!".
Kemudian kami terdiam,
tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.
"mba, menikahlah
denganku. Aku sekarang memang tak tau bagaimana mengembalikan kebahagiaan mba,
harapan baru mba, tapi izinkan aku mencoba untuk membuatmu bahagia mba.."
Demi mendengar
kalimatnya barusan, aku hanya terdiam.
"kamu gila dek.
Bagaimana bisa aku menikahi adik orang yang paling kucintai?". Anak ini
sudah kehilangan sifat warasnya, seruku dalam hati.
"iya aku gila mba,
aku tahu permintaanku gila. Tapi akan lebih tidak waras lagi jika aku
membiarkanmu seperti ini terus mba. Aku takkan rela membiarkanmu jatuh dalam
lubang kesengsaraan tak berujung.." katanya bersungguh-sungguh.
"kenapa kamu harus
peduli denganku dek?aku bukan siapa-siapamu. Hanya orang asing yang hanya kebetulan
kenal mas farhan. Itu saja. Tak lebih. Menikahiku katamu? Kamu gila. Menikahlah
dengan wanita yang kamu cintai, berbahagialah bersamanya, habiskan sisa hidupmu
bersamanya. Bukan menikahi wanita sepertiku yang bahkan sudah lupa bagaimana
cara berdandan"
"cinta?menurut mba
cinta itu apa? Apa cinta yang membuatmu mengisolasi diri berbulan-bulan, tak
makan, tak minum, tak menjalankan amanahmu sebagai guru berbulan-bulan,
mengabaikan hak murid-muridmu untuk mendapatkan ilmu darimu? Apa itu cinta? Apa
cinta yang menghancurkan hidupmu? Membiarkan diri tak terurus, mengabaikan
hak-hakmu atas dirimu sendiri? Apa itu cinta? Bukan! Itu nafsu mba. Nafsu yang
telah membutakanmu. Nafsu ingin memiliki mas Farhan! Cinta itu membangun, tak
pernah menghancurkan..cinta tak pernah sekalipun menghancurkan. Nafsu yang
selalu menghancurkan", terdengar dia menarik nafas dalam...dalam sekali.
"mba, cinta itu
indah. Jika memang mba mencintai mas Farhan, seharusnya mba datang di hari mas
Farhan mengikrarkan janji sucinya. Menerima semua keputusannya meminang mba
Linda. Berbahagia..berbahagia dan mendoakannya. Berbahagia...bukan berbahagia
atas kebahagiaan diri sendiri tapi berbahagia karena orang yang kita cintai
telah bahagia. Mencintai dengan ikhlas. Karena cinta itu sepenuhnya tentang
memberi, bukan meminta."
"jadi menurutmu
cintaku salah?"
"bukan. Hanya saja
mba salah mengartikan cinta."
"jika memang cinta
itu indah...seperti ceramahmu tadi. Ajari aku cinta yang seperti itu"
"iya mba. Menikahlah
denganku.."
"kenapa kamu mau
menikahiku dek? Apa kamu mencintaiku?"
"iya, aku
mencintaimu. Tapi bukan mencintaimu seperti mba mencintai mas farhan. Bukan cinta
seperti itu, tapi mencintaimu sebagai manusia. Bagiku cinta itu rasionalitas
sempurna"
"sejak kapan kamu
mencintaiku?" tanyaku lagi.
"sejak setengah jam
yang lalu, sejak pertama kali melihatmu berantakan, tak terurus, dan tak punya
semangat hidup. Sejak itu naluriku sebagai manusia tercabik-cabik, dan aku memutuskan
untuk mencintaimu, berjanji pada diriku sendiri untuk membawamu ke kehidupan
yang lebih baik."
Aku terdiam lagi...lima
menit kemudian telah kuputuskan.
"aku menghargai
semangatmu dek. Ah, semangat anak muda memang mengerikan. aku sampai muak.
Baiklah jika kamu memang bersungguh-sungguh dengan kata-katamu tadi, mari kita
menikah. Tapi izinkan aku meminta mahar darimu...mahar yang kuminta darimu
hafalan Al Qur'an 30 juz." Ah, mahar yang berat. Memang kusengaja begitu,
agar dia menyerah.
Dek Raihan terdiam
lama...mungkin dia akhirnya menyerah. Ibarat api unggun yang terguyur
hujan..padam seketika. Mungkin semangatnya padam juga. Tapi ternyata di luar
dugaanku.
"jika itu yang mba
minta, aku terima mba. Tunggu aku 2 bulan lagi." katanya dengan nada
mantap. Kemudian beranjak pergi.
Aku hanya diam
memandangi kepergiannya. Anak ini memang sudah kehilangan akal sehatnya,
gumamku dalam hati.
Pembicaraan kami
terhenti sampa disitu. Tak ada lagi pembicaraan lainnya. Hingga tepat 2 bulan
sejak hari itu, pintu kontrakanku di ketuk. Ternyata dek raihan benar-benar
datang.
"mba, aku sudah
siap dengan mahar yang mba minta, minggu depan aku beserta keluargaku akan
meminangmu", katanya kala itu.
Aku hanya terdiam.
Baiklah, aku tak mungkin mengingkari apa yang telah kuucapkan bukan? Hanya saja
aku tak habis pikir, kenapa anak itu begitu bersungguh-sungguh?
Seminggu sejak hari itu
acara khitbah di gelar, sebulan kemudian kami menikah. Hari jumat, saat dia
mengikrarkan janji sucinya.
"mba, mba sudah
siap?kita berangkat ke rumah mas Farhan sekarang" kata dek Raihan
membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk.
Lima belas menit
perjalanan dari rumah kami ke rumah mas farhan. Disana sudah banyak yang hadir,
ayah dan ibu juga sudah disana. Aku menyalami mereka.
"assalamu'alaykum
mah, sudah lama?" tanyaku sambil mengecup pipi ibu mertuaku
"wa'alaykumussalam
zidna. mamah sudah disini sejak kemarin sore. Mamah ga sabar menimang dede
bayinya. Hehe", jawab ibu mertuaku.
Kemudian ibu memelukku
dan mengelus perutku." kamu kapan punya dede bayi juga sayang? Mamah
perhatikan perutmu ko sama terus?"
Aku hanya tersenyum
canggung, bingung harus menjawab apa.
"oh, apa Raihan
selalu mengacuhkanmu ya sayang?jarang memuliakan istrinya yah? Hem, biar mamah
omelin dia nanti" katanya lagi.
"oh eh, enggak ko
mah. Mas raihan baik, baik banget malah" kataku sambil menyikut dek
Raihan. Ahya, di hadapan keluarga besarku memang aku tak memanggilnya dek
raihan, tapi Mas raihan.
"iya mah, mamah
yang sabar. Suatu saat nanti juga di kasih dedek bayi, insyaAllah" kata
dek Raihan.
"ohya, dede bayinya
mana mah?" tanyaku kemudian.
"di kamar sama
mamahnya, tadi abis dimandiin terus mimik ASI.." jawab ibu mertuaku.
"mas, ayo liat dede
bayinya.." kataku sambil menggandeng dek Raihan.
Sepulang dari rumah mas
Farhan, kami mampir ke warung yang menjual es kelapa muda. Mendinginkan pikiran
sejenak. Yah, hampir seharian di tanya kapan punya anak membuat otak penat
juga. Hampir semua orang di keluarga besar kami menanyakan pertanyaan yang
sama. Pertanyaan yang selalu ditanyakan pada pasangan yang belum punya anak.
Huft, menyebalkan, seruku dalam hati.
"mba, apa mba ingat
yang di tanyakan mamah tadi di rumah mas farhan?" tanya dek Raihan.
"ya, mamah bertanya
kapan kita punya anak." jawabku.
"mba, tidak hanya mamah
yang bertanya begitu. apa mba tidak
lelah ditanya begitu terus?" tanyanya lagi.
" lantas mba harus
bagaimana?" tanyaku balik.
Setelah itu kami
terdiam, lagi-lagi tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.
Aku menarik nafas
panjang. Aku tau dek raihan berkata begitu bukan hanya karena terganggu dengan
pertanyaan-pertanyaan itu, tapi juga karena dia tak bisa menahan hasrat itu
lebih lama lagi. Satu tahun dia menungguku...satu tahun, bukanlah waktu yang
singkat. Sudah kuputuskan aku akan melakukannya malam ini. Aku tau, akan sangat
menyakitkan melakukannya bersama pria yang tak kucintai..takkan bahagia.
Bahagia? Ah, kebahagiaanku tak penting lagi sekarang. Toh aku memang sudah
kehilangan rasa bahagia itu dua tahun lalu, saat kabar itu datang. Sekarang
kebahagiaan dek raihan, kebahagiaan ibu, lebih penting dari kebahagiaanku. Ya,
aku akan melakukannya malam ini. Aku akan melakukannya bukan atas nama cinta,
tapi atas nama kewajibanku sebagai seorang istri.
Malam hari, saat dek
Raihan beranjak ke kamarnya, akupun beranjak ke kamarku, mengambil bantal dan
selimutku. Membawanya ke kamar dek Raihan. Aku mengetuk pintu kamarnya.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka.
"ada apa
mba?"tanyanya dari balik pintu.
"mas, izinkan aku
tidur di kamarmu malam ini.." jawabku dan menghambur ke pelukannya.
Aku akan melakukannya
malam ini...ya, bukan atas nama cinta, tapi atas nama kewajibanku sebagai
seorang istri. Aku berjanji pada diriku sendiri, takkan memanggilnya dek Raihan
lagi. Aku berjanji pada diriku sendiri akan membuat suamiku bahagia.
Kira-kira sebulan sejak
malam itu, aku mulai merasakan ada yang aneh dengan diriku sendiri. Mual-mual,
muntah, bolak-balik ke kamar mandi, kadang pula demam. Awalnya kukira hanya
demam biasa, jadi kuputuskan untuk istirahat di rumah beberapa hari. Tapi
hal-hal yang kurasakan itu tak juga menghilang. Demi melihatku terbaring lemas
di atas kasur, membuat mas Raihan panik. Di hari keempat, mas Raihan membawaku
ke klinik dekat rumah kami. Dan terukir jelas di wajah mas Raihan betapa
bahagianya dia saat dokter menyatakan bahwa aku hamil. Usia janin kami sudah 2
minggu. Saat itu, aku berjanji akan hidup lebih baik. Hidup bukan untuk diriku.
Tapi hidup untuk membuat anakku, suamiku, dan orang-orang disekitarku bahagia.
Aku tau, aku masih
sangat mencintai mas Farhan, ah cinta yang tak pernah masuk akal... dan entah
sampai kapan cinta ini ada. Biarlah cinta itu ada apa adanya..cukup disimpan
dalam hati. cintaku pada mas farhan memang tak pernah masuk akal, biarlah
begitu. Tak perlu bersikeras menghapusnya, karena saat aku bersikeras
menghapusnya yang ada aku hanya akan semakin gila dan kehilangan akal sehatku.
Maka biarlah begitu apa adanya. Cukup disimpan dalam hati, cukup hidup dalam
hati, tapi tidak di dunia nyata.
Yang ku tau sekarang aku
akan mengabdikan diriku pada mas Raihan, membahagiakan mas Raihan, karena kebahagiaan
mas Raihanlah satu-satunya kebahagiaan yang kupunya. Yang ku tau sekarang, aku
akan mencintai mas Raihan, cinta dengan rasionalitas sempurna. J
I like this so much
BalasHapus