Luruh
Hujan. Aku tak menyukai
hujan. Bukan..bukan karena aku jatuh cinta di saat hujan. Kebanyakan wanita
menyukai atau membenci hujan karena mereka jatuh cinta saat hujan. Sehingga
saat tetes-tetes air itu menghujam bumi, meraka akan terkenang masa-masa jatuh
cinta itu. Saat cinta itu masih bersemi dan tumbuh, yang terkenang adalah
sebuah memory indah, tapi saat cinta itu tak lagi ada, maka yang tertinggal
hanya memory menyakitkan yang tak terperikan. Ya, hujan memang memiliki makna
tersendiri bagi masing-masing orang. Pun hujan bagiku memiliki makna yang lain.
Aku tak menyukai hujan, karena hujan selalu mengingatkanku pada wanita
itu...dan segala kenangan tentang wanita itu bersama pria yang sangat kucintai.
Hujan. Jika boleh aku
meminta, aku tak ingin menyaksikannya lagi.
"intan, kami akan
menikah Senin depan. Maafkan kakak, kakak tau akan menyakitkan memberitahumu
kabar ini. maafkan kakak, intan. Tapi bukankah akan lebih menyakitkan saat
kakak menikah tanpa memberi tahu sepatah katapun? Intan biar bagaimanapun kamu
adalah wanita paling berharga yang pernah kakak kenal. Karena itu kakak memberi
tahumu kabar ini. Datanglah intan, kebahagiaan kami takkan lengkap tanpa doa
dan restu darimu."
Begitu bunyi pesan
singkat terakhir yang dia kirimkan padaku selama 24 jam terakhir.
Hujan. Sore ini pun
langit muram, sepertinya akan hujan. Aku masih belum memutuskan akan menghadiri
upacara sakral itu atau tidak. Minggu-minggu ini masih disibukkan dengan
tesisku. Sudah memasuki fase akhir. Pun jika aku tak datang tak apa bukan?
Mendatangi upacara sakral itu hanya akan menambah sesak di hati ini. Tapi pria
paling berharga dalam hidupku akan mengikrarkan janji sucinya..aku sangat ingin
menyaksikannya meski itu akan menjadi terakhir kalinya aku memandang wajah itu.
Wajah yang telah mengajariku banyak hal.
Cerita ini entah berawal
dari mana. Hingga kini aku pun tak tahu. Dan biarlah menjadi misteri..toh di
dunia ini selalu ada hal yang menjadi misteri tak terpecahkan bukan? Biarlah,
toh inti cerita ini bukan di sana. Ingatan pertamaku tentangnya adalah ketika
sahabat dekat SMA ku mengatakan bahwa dia tengah dekat dengan seorang pria.
Kala itu kami baru berusia 17 tahun. cinta? bahkan kami belum sepenuhnya tau
tentang kata itu. Farhan namanya. terdengar indah bukan?
"Tan, kamu tau
ga?", seru Diyan dengan hebohnya.
"Enggak tau lah
yan,kamu kan belum ngomong apa-apa",jawabku tak peduli. Masih sibuk
menghafal kata demi kata dalam kitab kecil. Ya, sore nanti ada setoran hafalan
nadzoman di pondok.
"kemarin aku jalan
sama kak Farhan!", serunya lagi.
"farhan? siapa
itu?", jawabku. Masih tak peduli. Paling lagi-lagi, diyan, sohibku yang
paling cantik itu deket lagi sama seorang cowo. Dan itu bukan menjadi hal yang
aneh lagi. 10 tahun duduk di bangku yang sama bersamanya, membuatku tau all
about her. Bahkan saking taunya sampe aku tau kalo tiap pagi dia nongkrong di
WC 15 menit, ga kurang dan ga lebih.
"iih...nih ya tan,
liat aku dong. Aku lagi ngomong sama kamu. Kamu tau kan aku paling ga suka kalo
di cuekin", serunya sebal.
"iya iya. Gimana
Diyan? Kamu jalan kemana sama kak Farhan? Dan sebelumnya tolong ceritakan siapa
kak Farhan itu?" kataku sambil menarik nafas dalam-dalam. Yah, sepertinya
sebagai sahabat yang baik aku memang harus mendengarkan ceritanya dulu dengan
seksama. Hafalan? Baiklah, lupakan itu sejenak.
"masa kamu ga tau
kak Farhan? Itu loh kakak kelas kita...tepatnya dua tahun di atas kita. Dia itu
cakep banget. Dia lagi kuliah di salah satu perguruan tinggi bergengsi di negri
kita. Aku seneng banget bisa kenal dia", kata diyan dengan begitu
antusias.
"masa? Cakep? Lebih
cakep dari Niko kelas XII IPS 2 incaran kamu 3 bulan terakhir? Lebih cakep dari
Andi kelas XI IPA 3 yang membuatmu tak bisa berkata apa-apa di
hadapannya?", tanyaku kemudian.
"intan, kak Farhan
itu beda yah. Dia itu selain cakep, dewasa juga."
"dulu kamu juga
bilang gitu pas pertama kenal Niko, tapi buktinya sekarang kamu udah
biasa-biasa aja tuh. Yan, menurutku yah perasaan yang kamu rasakan sekarang itu
bukan cinta. Hanya ketertarikan sesaat ajah. Jadi saranku jangan terburu-buru
bilang cinta dulu. Oke?"
"kamu salah tan.
Cinta itu ada bermacam-macam bentuknya ko, dan jenis cinta yang kurasakan pada
kak farhan sekarang adalah cinta pada pandangan pertama".
"hah? Cinta pada
pandangan pertama? Duh, perutku mendadak mules nih yan. Haha...lucu
banget"
"nyebelin banget
sih kamu tan, temenmu lagi jatuh cinta malah kamu ledekin begitu. Harusnya kamu
turut bahagia tau. Oh aku tau, kamu Cuma iri doang kan? Karena kamu belum
pernah merasakan jatuh cinta lagi, karena kamu belum bisa move on dari si Ahmad
itu, pacar pertama kamu. Iya kan? Iyalah gimana bisa jatuh cinta, sedangkan
yang ngedeketin kamu itu bapak-bapak yang udah ubanan semua", seru Diyan
jengkel.
Demi mendengar
kalimat-kalimat itu, tawaku pun terhenti. Kalimat yang menyakitkan.
"yan, maaf. Aku
udah keterlaluan ngetawain kamu. Tapi sebagai sahabatmu selama 10 tahun ini,
aku memang ingin mengingatkan kamu. Kamu gampang banget bilang cinta, tapi
setelah kamu deket sama cowo itu kamu tinggalin begitu ajah. Menurutku itu ga
baik yan, karena kamu nyakitin perasaan cowo-cowo itu." setelah mendengar
kalimatku barusan, diyan terdiam untuk beberapa saat, mungkin dia akhirnya
berfikir..memikirkan kalimatku barusan
"udah deh, ga usah
sok menasihatin begitu. Kaya kamu udah ngerasain cinta ajah. Ohya, kemarin kak
Farhan ngeliat foto kamu juga, kamu tau dia bilang apa pas liat foto kamu? Dia
bilang kasian banget, cantik-cantik tapi nanti jadi istri kedua" ucap
diyan kemudian.
"hah?"
tiba-tiba syok dengan kalimat diyan barusan.
"iya, kata orang,
kak Farhan memang punya indra keenam. Entah dengan maksud apa dia bilang
begitu, tapi aku rasa kamu perlu tau. Kamu tadi udah nasehatin aku, oke aku
terima. Sekarang aku juga mau ngasih kamu nasihat, gratis. Kamu sebaiknya juga
jangan mau dideketin lagi sama bapak-bapak itu."
Dan untuk kedua kalinya
terdiam gegara kalimat Diyan. Kali ini bukan diam karena tak ada kata-kata yang
hendak terucap, tapi justru saking banyaknya kata dan seribu tanya
berlomba-lomba hendak keluar dari mulutku. Saking banyaknya sampai lidahku
bingung kalimat mana yang akan kuucapkan dulu. Siapa sebenarnya manusia dengan
nama Farhan ini? Kenapa dia berani-beraninya berkata begitu? Jangankan kenal,
melihat batang hidungnya pun belum pernah.
Tapi faktanya, obrolan kami
siang itu terhenti sampai disitu saja, bahkan besoknya, besok lusanya, minggu
depannya, bulan depannya, bahkan hingga kami lulus pun, kami tak pernah
membahas obrolan itu lagi. Malas. Enggan. Pun kedekatan Diyan dengan Kak Farhan
tak berlangsung lama. Katanya kak Farhan lebih memilih mba Linda, satu tingkat
di atas kami, untuk menjadikan kekasihnya. Darimana aku tau? Diyan yang
sukarela menceritakannya. Apa urusanku? Tak ada urusan, hanya sekadar tau.
Ingatan menyebalkan tetang istri kedua itu pun perlahan menguap, memudar,
tertinggal jauh seiring kakiku yang terus menjejak.
Aku hidup dengan
mengikuti jejak langkah kakiku. Langkahku membawaku ke kota Semarang, kota yang
kemudian berubah menjadi kota sejuta kenangan untukku. kota paling romantis,
karena di kota ini kisahku dengan pria itu berawal dan berakhir.
Tetes pertama hujan sore
ini telah sampai di permukaan bumi. Orang-orang disekitarku pun mulai beranjak
mencari tempat berteduh. Tapi kakiku enggan beranjak dari tempatku duduk
sekarang. Tempat ini memang tak indah. Sama sekali tak indah. Hanya saja hatiku
masih ingin memandangi tempat ini lebih lama lagi, mengenang masa indah
bersamanya. Tempat-tempat yang kami kunjungi dulu memang tak indah, kebersamaan
dengannya yang membuat segalanya indah. Tak masuk akal bukan? Tapi bagi orang
yang sedang jatuh cinta, hal paling tidak masuk akalpun akan masuk akal bukan?
Bingung? Ya sudah, lupakan saja.
Ingatan keduaku
tentangnya datang beberapa tahun setalah kejadian itu. Kala itu aku masih
menempuh pendidikan S1 ku, semester 5.
"assalamu'alaykum
intan, ada yang minta pin kamu. Boleh ga?" tanya vira, sohibku di pramuka,
via BBM.
"siapa vir?",
balasku kemudian
"kak Farhan,
kebetulan tadi kita ke Semarang bareng. Terus dia tanya kenal intan ga? Aku
jawab kenal, terus minta pin kamu." jawab vira
"iya vir gapapa di
kasih ajah" jawabku lagi. Kupikir tidak ada salahnya bukan? Anggap saja
menjalin tali silaturahmi.
Sejak itu kami berteman
di BBM, beberapa kali bercakap-cakap, dan sejak saat itu pula dia memang
bekerja di Semarang. Aku memanggilnya kaka, dan dia memanggilku ade. Klasik
sekali bukan? Hingga suatu ketika dia bilang yang dia temukan di sholat
istikharah nya adalah namaku.
"beneran, beberapa
kali kaka istikharah yang muncul itu nama ade, intan." begitu kira-kira
kalimatnya.
Sempat merasa syok juga
ketika dia berkata begitu. Tapi tak lama, aku hanya menganggap itu gombal,
kata-kata tak penting bukan? Pun aku yang saat itu masih bergabung dengan
orang-orang tarbiyah. Aku dan idealismeku saat itu tak mengijinkanku untuk
merespon lebih. Tidak pantas.
Hanya beberapa minggu
saja kami menjalin kontak via bbm, setelah itu androidku rusak. Entah, mungkin
memang aku tak memanfaatkannya dengan baik, jadinya rusak. Atau memang aku tak
bisa berkembang baik dengan android, sehingga Allah menakdirkan untuk rusak.
Entahlah... Al hasil obrolan kami tak
pernah berlanjut lagi. Segera setelah itu aku mulai disibukkan dengan
agenda-agenda PPL dan KKN. Ingatan tentang istikharah itu pun tertinggal di belakang.
Tetes-tetes hujan di
tempatku duduk sekarang kian deras. Orang-orang yang tadi bergegas mencari
tempat berteduh, kini semakin bergegas..berlarian ke emperan toko, halte bus,
atau gazebo terdekat. Aku? Masih duduk, enggan beranjak. Hujan kali ini memang
lebih menyakitkan, tapi aku takkan menghindarinya. Aku akan membiarkannya
luruh...membiarkan ingatan ini luruh bersamanya..
Ingatan ketiga
tentangnya datang beberapa bulan setelah itu. Ingatan tentang istikharah itu
memang tertinggal, tapi aku masih jelas mengingatnya. Entah mengapa aku
mengingatnya, mungkin karena itu adalah kali pertamanya seorang pria berkata
begitu padaku. Kejadian itu tertinggal jauh? Memang, tapi kejadian itu masih
ada di benakku. Karena kejadian itu masih ada di benakku, beberapa bulan
kemudian, saat androidku hidup lagi, yah meskipun kemudian mati lagi, saat itu
aku menghubunginya. Dan ternyata di luar dugaanku, dia heran mengapa aku
menghubunginya lagi. Saat itulah aku menyadari beberapa hal, tentang istri
kedua yang di katakan ketika aku SMA itu dia tak pernah mengingatnya lagi,
tentang istikharah itu pun begitu, tak ingat lagi, gombal belaka. Tapi meskipun
begitu, kami memang benar-benar dekat setelah itu.
"ade, nanti sore
kaka main ke tempat ade..", katanya via pesan singkat dia suatu sabtu.
"iya ka. Kaka main
jam berapa?", tanyaku kemudian.
"jam 2an
yah,"jawabnya.
Dan dia memang
benar-benar datang jam 2. Pelajaran penting yang kupelajari darinya yaitu dia
selalu tepat waktu. Sejak itu aku belajar selalu tepat waktu seperti dia.
Sore itu dia mengajakku
turun, nonton. Itu kali keduanya kami nonton bersama. Sejujurnya film yang kami
tonton tak pernah menarik, keberadaannya disisiku yang selalu membuatnya
menarik. Perlahan, aku merasa bahagia saat bisa mendengar suaranya yang berat..merasa
selalu ingin mendengar suaranya setiap saat, merasa tenang saat mendengar
suaranya, belajar banyak hal dari cerita-ceritanya. Entah perasaan apa itu,
itukah cinta? Pun semakin hari aku selalu merasa ingin melihat sosoknya yang
hangat, ingin lebih lama disisinya. Perasaan apa itu? Kala itu usiaku 21 tahun, tapi belum sepenuhnya mengerti
perasaan apa yang sedang kurasakan.
Usai nonton, kami
melangkahkan kaki kami ke lawang sewu. Kejadian itu selalu spesial. Pertama
karena itu kali pertamanya aku main ke lawang sewu, kedua itu kali pertamanya
aku pergi main dengan cowo yang kucintai, ketiga itu kali pertamanya aku pergi
sampe malem sama cowo, keempat itu kali pertamanya aku pergi di malam minggu
sama cowo. Dia selalu jadi yang pertama.. Karena itulah tempatku duduk ini
spesial sekarang. Setelah kami berkeliling di lawang sewu, kami pergi ke
seberang lawang sewu, tugu muda. Kami menghabiskan malam minggu disana,
membicarakan banyak hal. Tugu muda, tempatku duduk sekarang ini menjadi saksi
malam minggu pertama yang kami lalui bersama. Tempat ini memang tak indah,
kebersamaan dengannya yang membuatnya indah. Selalu begitu.
"ade mau nikah
kapan?" tanyanya kala itu.
"2 tahun lagi ka,
insyaAllah."jawabku.
"kaka akan menunggu
ade".
"kaka yakin? Apa
itu tak terlalu lama? Apa kaka tidak apa-apa menunggu selama itu?"
"tidak, 2 tahun itu
tak lama. Kaka pun akan melanjutkan studi kaka ke jenjang D3. kaka ga mau di
bea cukai terus, kaka mau jadi auditor. Itu mimpi kaka."
"semangat. Semoga
mimpi-mimpi kaka terwujud."
"tapi ade tau?
Mimpi terbesar kaka adalah menikahi ade"
Demi mendengar
kalimatnya barusan, aku merasa seperti terkena arus listrik jutaan volt.
Gosong? Iya, aku benar-benar gosong, bahkan rasanya kakiku tak lagi menjejak
bumi. Antara percaya dan tak percaya mendengar kalimat itu dari pria yang
paling kucintai. Rasa bahagia membuncah di dadaku.
Sejak hari itu, rasa
cinta ini, jika memang benar rasa ini bernama cinta, semakin besar. Dan hati
ini mulai mengukir mimpi, mimpi masa depan bersamanya, mimpi menghabiskan sisa
usia bersamanya.
Sejak hari itu, setiap
hari rasanya indah. Mengukir hari-hari bersamanya. Mengukir mimpi-mimpi indah
bersamanya. Belajar banyak darinya..dan aku berkembang positif di sisinya. Dia
sosok yang luar biasa. Semakin hari rasa hormatku padanya semakin besar. Aku
mencintainya dengan segala rasa hormatku padanya. Minggu, bulan, tahun berlalu
begitu saja tanpa terasa. Aku semakin nyaman disisinya. Hingga suatu ketika
badai itu datang. kala itu aku baru memasuki semester 4 pendidikan S2ku.
Ah, cerita ini dan bahkan semua cerita takkan indah tanpa badai bukan? Aku tau,
meski badai dalam cerita ini membuat cerita ini jauh lebih menarik dan lebih
indah untuk dibaca, tapi aku takkan pernah mengharapkan badai itu datang.
Bahkan jika aku bisa memilih, aku takkan membiarkan badai itu datang. Tapi aku
tak bisa memilih, dan aku tak bisa lari, satu-satunya pilihanku adalah
menghadapinya dan melewatinya.
Hari itu hari Jumat,
hari yang penuh berkah. Hari itu aku tau bahwa dia, kaka,pria yang paling
kucintai, masih menyimpan foto mba linda. Sakit, terasa menyakitkan di hati.
Dadaku sesak saat melihat foto itu dibuat dengan ekspresi paling imut dan
menggemaskan...membuat gemas setiap pasang mata yang melihatnya. Dadaku semakin
sesak saat mengetahui kenyataan bahwa mba linda tak mengenakan kerudung. menunjukkan
auratnya di hadapan kaka tercintaku. Hatiku rasanya remuk dan tak berbentuk
lagi. Demi melihat foto itu, aku tau bahwa pria yang kucintai belum mampu
meninggalkan wanita itu. Wanita yang hebat dan kuhormati. Wanita sholihah yang
menjadi mas'ulah keputrian di SMA dulu. Pasangan yang serasi bukan? Pasangan
yang hebat bukan? Keduanya orang-orang yang kuhormati. Tapi hatiku justru sesak
mengetahui kenyataan itu.
Hujan. Hujan di tempatku
duduk sekarang semakin deras menghujam bumi. Langit hanya menyisakan warna
kelabu, tak ada petir, hanya kilat yang sesekali menyambar, matahari hanya
berdiam diri dibalik awan. Membiarkan setiap tetes air di langit sana
jatuh..luruh ke bumi. Membiarkan semuanya luruh. Pun aku disini, akan
membiarkan kenangan itu luruh bersama hujan sore ini. Dan saat semua
tetes-tetes air di langit itu habis akan menyisakan langit yang kembali biru bukan?
Pun sakit di hati ini, saat semuanya luruh... habis, akan menyisakan hati yang
baru bukan? Hati yang siap menghadapi hari yang baru, hati yang siap bertemu
orang-orang baru, hati yang siap tersenyum menghadapi hari meski dengan
kemungkinan terburuk.
Sesaat setelah melihat
foto itulah, aku baru tahu cerita tentangnya dan mba Linda. Darimana? Pria itu
menceritakannya tanpa harus kutanya lagi. Aku tau, dia merasa bersalah. Sebuah
guratan jelas terukir di wajahnya. Dia merasa bersalah.
"kaka pernah mengalami
masa-masa sulit. Dulu. Bahkan saat itu kaka tak tau lagi apa yang harus kaka
lakukan. Kaka tak bisa apa-apa."katanya lirih
Aku hanya terdiam,
antara menahan tangis dan menunggu kelanjutan cerita itu.
"setelah kelulusan
SMA, kaka mendaftar di sebuah stikes tempat asal kita, Cilacap. Kaka hanya
bertahan 1 semester. Ade tau? Mengetahui kenyataan kaka akan menjadi perawat,
membuat kaka tak tahan. Kaka tak pernah ingin menjadi seorang perawat. Kaka
memutuskan keluar. Kaka tak pernah menyesal mengambil keputusan itu, karena
kaka memang tak ingin disana. Keputusan yang membuat orang tua kaka kecewa.
Kaka tau keputusan itu sangat memukul orang tua kaka."katanya kemudian
dengan suara yang mulai parau.
Aku hanya terdiam masih
belum mengerti kemana arah pembicaraan itu.
"setelah keputusan
itu diambil, kaka menganggur. Tidak sedang melanjutkan studi, juga tidak
memiliki pekerjaan dan penghasilan yang jelas. Beberapa bulan. Kaka merasa
hidup kaka hancur, kaka mengecewakan kedua orang tua kaka. Pun semakin hari
bisik-bisik tetangga semakin menyakitkan. hingga kemudian suatu hari, Rendi,
teman kaka mengenalkan kaka pada mba Linda." dia berhenti sejenak dan
menarik nafas panjang.
"mba linda, ade
kenal mba linda bukan?"tanyanya kemudian.
Aku tak kuasa menjawab,
hanya mampu mengangguk kecil. Entah dia menyadari anggukanku kala itu atau
tidak. Kemudian dia melanjutkan ceritanya,
"mba linda gadis
yang baik, penuh dengan semangat, penuh dengan optimis, penuh dengan ambisi dan
mimpi-mimpi, selalu ceria. Kaka yang kala itu kehilangan semangat, demi
menghadapi gadis seperti itu kaka perlahan-lahan mulai bangkit. Ade tau
rasanya?" tanyanya lagi.
Lagi-lagi aku tak kuasa
menjawab. Hanya menggeleng pelan.
"ahya, ade tak tau
rasanya. Karena ade tak pernah mengalaminya bukan? Dan kaka harap ade memang
tak pernah mengalaminya. Rasanya seperti menemukan oase di padang pasir, atau
seperti matahari yang muncul setelah seharian hujan, atau seperti sinar mentari
pagi yang cerah untuk mengawali hari. Harapan baru. Kaka merasa menemukan
harapan baru, semangat baru. Kaka yang kala itu tak punya apa-apa, kaka yang
kala itu tak tau harus bagaimana ditantang oleh mba Linda. Ditantang untuk
berubah menjadi lebih baik. Kaka menerima tantangan itu. Dan dengan dukungan,
semangat, dan doa dari mba Linda, kaka bisa seperti sekarang ini. Dia, gadis
yang sangat berjasa di hidup kaka. Itulah mba Linda."
"Lalu kenapa kaka
putus dengan mba Linda?" tanyaku kemudian. Tanpa kusadari sebutir air
lancang menerobos keluar dari kelopak mataku. Rasanya mataku panas, menahan air
mata yang kian tak tertahankan.
"ade tau? Kaka dan
mba Linda menjalin hubungan jarak jauh. Saat itu kaka tau ternyata mba linda
dekat dengan pria lain..pacaran dengan pria lain. Saat kaka tau hal itu dan
menanyakan padanya, dia bilang dia memang pacaran dengan pria itu, tapi dia
hanya akan menikah dengan kaka."jawabnya.
Aku hanya terdiam
mendengar jawabannya.
"kaka tau apa yang
ada dipikiran ade. Egois bukan? Iya, mba linda itu gadis kaka yang paling
egois. Dan kaka tak bisa apa-apa menghadapi keegoisannya, karena gadis itu, mba
Linda, adalah oase dalam hidup kaka, adalah matahari di hari kaka. Ade tau,
bahkan tanpa semangat dari mba Linda, mungkin kaka ga ada disini
sekarang." dia terdiam sejenak menarik nafas panjang, lagi.
"ini semua salah
kaka, menyakiti hati ade. Maaf. Saat mba Linda masih bersama lelaki itu, kaka
pikir mba Linda akan terus bersama lelaki itu. Itulah kenapa kaka mau dekat
dengan ade. Berusaha mencintai ade, dan memang rasa sayang pada ade memang
benar-benar tumbuh di hati kaka. Tapi dugaan kaka ternyata salah. Foto itu,
foto yang tadi ade lihat, dikirimkan mba linda kemarin lusa. Awalnya kaka tak
mengerti dengan maksudnya mengirimkan foto itu, tapi kemudian kaka menyadari
bahwa mba linda ingin kaka kembali padanya."dia kembali terhenti, menarik
nafas panjang, lagi.
"hidup kaka
sebenarnya sudah berakhir hari itu, hari dimana kaka hancur dan tak bisa
apa-apa. Ade tau? Hidup kaka sekarang bukan milik kaka lagi, tapi milik gadis
yang membangkitkan kaka dari keterpurukan tak berujung itu. Kaka hidup,
bertahan sampai sekarang untuk gadis itu, mba Linda." obrolan kami saat
itu sempat terhenti saat kami mendengar adzan ashar berkumandang.
"jika memang kaka
masih mencintainya, kembalilah padanya ka. Berbahagialah disisinya. Intan tak
apa." kataku sambil terisak.
"intan, urusan ini
memang sulit. Intan tau? Kaka sangat menyayangi intan tapi mba Linda? Dialah
matahari di hidup kaka. Maafkan kaka. Kaka bisa saja egois dengan menikahi
kalian berdua, tapi hati nurani kaka tak mengizinkannya. Karena kaka tau saat
kaka egois menikahi kalian berdua, itu justru akan semakin menyakiti hati
kalian."
"ya sudah, intan
tak apa ka. Kaka kembalilah padanya. Sudah adzan, sebaiknya kaka bergegas ka
masjid atau kaka akan ketinggalan jamaah" kataku seraya beranjak pergi
dari sisinya sebelum dia menyadari bahwa air mataku kian menderas.
Pembicaraan sore itu
berakhir begitu saja. Sakit memang. Itulah pembicaraan terakhir kami. Besoknya,
besok lusanya, minggu depannya, bulan depannya, tak ada lagi pembicaraan
dengannya.
Hingga enam bulan
berikutnya, saat tesisku memasuki fase akhir, dan tugas akhir untuk mendapat
gelar D3nya selesai, kabar itu datang. Kabar pernikahannya. Aku tau itu
keputusan yang sangat sulit baginya, dan aku bahagia dia tetap memilih oasenya,
mataharinya, untuk menemani di sisa hidupnya. Ahya, bukan hidupnya, karena
hidupnya sudah menjadi milik oasenya. Bingung? Ya sudah, lupakan. Aku bahagia,
kurasa itu keputusan terbaik. Aku bahagia, meski hatiku sakit.
"intan, kami akan
menikah Senin depan. Maafkan kakak, kakak tau akan menyakitkan memberitahumu
kabar ini. maafkan kakak, intan. Tapi bukankah akan lebih menyakitkan saat
kakak menikah tanpa memberi tahu sepatah katapun? Intan biar bagaimanapun kamu
adalah wanita paling berharga yang pernah kakak kenal. Karena itu kakak memberi
tahumu kabar ini. Datanglah intan, kebahagiaan kami takkan lengkap tanpa doa
dan restu darimu." begitu bunyi pesan itu.
Perlahan tapi pasti
hujan mulai berhenti mengguyur tempatku berdiam selama 2 jam terakhir. Matahari
malu-malu mulai menampakkan dirinya, membagikan kehangatannya pada setiap
makhluk di alam semesta.
Aku akan menghadiri
upacara sakral itu. Urusanku dengan tesis? Ah, lupakan itu sejenak. Lelaki yang
paling kucintai akan menikah, itu lebih penting dari apapun sekarang. Hujan
telah reda, pun sakit dengan segala kesedihan itu pun telah luruh. Hatiku kini
bukanlah hati yang kemarin, hatiku kini hati yang baru, hati yang siap
menghadapi hari meski dengan kemungkinan terburuk. :)
Komentar
Posting Komentar