PROBLEMATIKA UMMAT MUSLIM DI INDONESIA
Nama : Endah Suprihatin
NIM : 2303412014
Jurusan/angkatan:
Bahasa dan sastra asing/ 2012
Problematika Ummat Muslim di Indonesia
Setiap muslim harus dapat memahami dengan benar
nilai-nilai yang terkandung dalam Dinul Islam serta menghayatinya. Selanjutnya,
ia harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut ke dalam seluruh ruang kehidupannya.
Ia harus tunduk dan menyerah kepada Allah SWT, baik lahir maupun batin, dengan
melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian,
ia telah memasuki rumah Islam secara kaaffah (sempurna): tidak ada sisi
kehidupannya yang tidak ia warnai dengan nilai-nilai luhur Islam. Oleh
karenanya, Allah berfirman dalam sebuah ayat-Nya, sebagai berikut.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke
dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah
setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 208)
Di saat seorang Muslim mampu menerapkan syariat
Allah dalam seluruh dimensi kehidupannya: aqidah, ibadah, akhlak, politik,
ekonomi, pendidikan, militer, dan sosial budaya, maka ia menjadi salah satu
dari “khairu ummat”. Ia termasuk golongan “ummatan wasathan” (umat yang selalu
menegakkan nilai kebenaran dan keadilan), dan niscaya ia menjadi salah satu
dari “al-Mu’minuuna haqqan” (manusia-manusia Mukmin yang sebenarnya). Inilah
identitas seorang muslim apabila telah mampu menyerap seluruh nilai-nilai Islam
dalam ruang kehidupannya. Perhatikanlah beberapa ayat Allah di bawah ini.
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu
(umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas
(perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan)
kamu.…” (al-Baqarah: 143)
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan
beriman kepada Allah.…” (Ali ‘Imran: 110)
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta
berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan
memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang
yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang
mulia.” (al-Anfaal: 74)
Di sini, seorang Muslim memiliki izzah
(kemuliaan) dan kekuatan di hadapan manusia-manusia lain. Sebab, izzatul-Islam
dan kemuliaan kaum Muslimin tidak mungkin dicapai kecuali dengan kembali kepada
ajaran Islam itu sendiri, yaitu dengan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam
setiap dimensi kehidupan. Umar bin Khaththab r.a. berkata, “Kami dahulu adalah
kaum yang paling hina, lalu Allah menjadikan kami mulia dengan Islam. Jadi,
manakala kita mencari kemuliaan dengan selainnya, yang Allah menjadikan kita
mulia dengannya, maka Allah tentu akan menjadikan kita hina” (dikeluarkan oleh
al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan disepakati pula oleh adz-Dzahabi dalam
Talkhis-nya).
Namun fenomena indah yang digambarkan ayat-ayat Allah di atas, dewasa ini semakin tidak nampak, cahaya keindahan nilai-nilai Islam dari ke hari semakin redup dan bahkan sirna sama sekali dan menghilang dari ruang kehidupan ummat. Ummat mulai kehilangan arah tujuan hidup dan bahkan sebagian mereka telah menggantikan nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai jahiliah.
Di sisi lain, virus-virus moral, budaya dan tsaqofah islamiah yang pernah diwariskan para orientalis dan penjajah masih tumbuh kuat dalam jiwa ummat ini. Dan nilai-nilai ini terus mengakar dalam kehidupan ummat sampai saat ini. Begitu juga kekuatan-kekuatan musuh Islam skala internasional seperti Fremansory, Lion Club, Rotary Club dan LSM-LSM lain yang memiliki tujuan membrangus nilai-nilai Islam terus bergerak ke jantung ummat. Sementara ummat semakin asing dengan nilai-nilai agamanya sendiri dan tidak berdaya berhadapan dengan tantangan-tantangan global.
Oleh karenanya, untuk mengantisipasi merebaknya virus-virus ummat dan gerakan musuh-musuh Islam, kita bisa memulainya dengan meyakini kembali nilai-nilai kebenaran Islam dan menyerapnya ke dalam seluruh ruang kehidupan. Dengan keyakinan ini, diharapkan dalam diri kita lahir kembali kesadaran penuh tentang agama ini, dan selanjutnya bertebaran buah amal islami di bumi kehidupan kita.
Namun fenomena indah yang digambarkan ayat-ayat Allah di atas, dewasa ini semakin tidak nampak, cahaya keindahan nilai-nilai Islam dari ke hari semakin redup dan bahkan sirna sama sekali dan menghilang dari ruang kehidupan ummat. Ummat mulai kehilangan arah tujuan hidup dan bahkan sebagian mereka telah menggantikan nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai jahiliah.
Di sisi lain, virus-virus moral, budaya dan tsaqofah islamiah yang pernah diwariskan para orientalis dan penjajah masih tumbuh kuat dalam jiwa ummat ini. Dan nilai-nilai ini terus mengakar dalam kehidupan ummat sampai saat ini. Begitu juga kekuatan-kekuatan musuh Islam skala internasional seperti Fremansory, Lion Club, Rotary Club dan LSM-LSM lain yang memiliki tujuan membrangus nilai-nilai Islam terus bergerak ke jantung ummat. Sementara ummat semakin asing dengan nilai-nilai agamanya sendiri dan tidak berdaya berhadapan dengan tantangan-tantangan global.
Oleh karenanya, untuk mengantisipasi merebaknya virus-virus ummat dan gerakan musuh-musuh Islam, kita bisa memulainya dengan meyakini kembali nilai-nilai kebenaran Islam dan menyerapnya ke dalam seluruh ruang kehidupan. Dengan keyakinan ini, diharapkan dalam diri kita lahir kembali kesadaran penuh tentang agama ini, dan selanjutnya bertebaran buah amal islami di bumi kehidupan kita.
II. PERSOALAN INTERNAL UMMAT
Problem yang dihadapi ummat Islam dewasa ini
meliputi seluruh dimensi kehidupan. Persoalan-persoalan inilah yang
mengakibatkan ummat mengalami stagnasi dalam segala bidang dan akhirnya sangat
mudah ummat Islam terjebk dalam jaring-jaring persengkongkolan atau konspirasi
musuh-musuh Islam. Keloyoan, kelemahan dan keterbelakangan yang ada dalam tubuh
ummat Islam dewasa ini menyebabkan mereka tidak merasa memeliki izzah kembali
dengan nilai-nilai luhur yang pernah dipegang oleh Salaf sholeh sebelumnya.
Persoalan dan problematika ummat saat ini bisa kita konklusikan dalam beberapa
point-point berikut ini;
• Iman
Apabila manusia muslim imannya lemah ia tidak
akan pernah merasakan nikmatnya iman tersebut. Ia senantias terombang-ambing
dalam panggung kehidupannya dan ia tidak memiliki jati diri lagi sebagai muslim
yang sebenarnya. Sebaliknya manusia muslim yang memiliki kekuatan iman yang
sebenarnya bukan hanya sebatas keyakinan saja, ia akan mersa ketentraman,
kedamaian, percaya diri dan bahkan mampu melukiskan karya-karya besar dalam
kanvas kehidupannya. Dan inilah hamba-hamba Allah yang dijanjikan mewarisi
bumiNya. Perhatikan ayat-ayat berikut ini;
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang
beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia
benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan
menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan
sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji)
itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(an-Nuur: 55)
(an-Nuur: 55)
“Yang selalu merasakan nikmat iman dalah orang
rela menjadikan Allah sebagai Robb, menjadikan Islam sebagai agama dan Muhamad
sebagai Nabi.” (HR. Muslim)
“Tiga perkara yang dimana seseorang memilikinya
maka ia akan merasakan manisnya iman, Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari
pada yang lain, Seorang yang mencintai orang lain, ia tidak mencintainya
kecuali Allah dan orang yang benci dikembalikan ke dalam kekufuran sebgaimana
ia benci dilemparkan ke dlam api neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
• Ibadah dan Akhlak
Melemahnya ibadah dan akhlak di kalangan ummat
Islam akan mengakibatkan ketidakberdayaan ummat mempertahankan eksistensi
dirinya di dunia ini. Padahal setiap ibadah yang diwajibkan Islam kepada
ummatnya mengandung nilai-nilai filosofis yang tinggi dan nilai-nilai akhlak
yang luhur. Perhatikan beberapa ayat-ayat Allah SWT berikut ini;
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu,
yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat
itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar…” (al-‘Ankabuut: 45)
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu,
sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat
kemenangan.” (al-Hajj: 77)
“Umar bin Khattab ra berkata dalam suratnya
kepada Amr bin al-Ash, “Wahai Amr, sesungguhnya kita hanya dapat menglahkan
orang-orang kafir itu karena ketakwaan kita dan kekafiran mereka. Maka ketika
kita berdosa kepada Allah, tiada lagi sumber kemenangan yang kita miliki, sebab-sebab
orang-orang kafir selalu melebihi kita dalam sarana perang dan jumlah pasukan.
Maka, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.”
Jauhnya generasi muda Islam dari agamanya merupakan cita-cita tinggi yang diimpikan oleh para orientalis yang notabane menjadi musuh-musuh besar Islam. Samuel Zweimer, Direktur organisasi missi pada konferensi para misionaris di kota Al-Quds tahun 1935 berkata, “Misi utama yang dibebankan negara-negara Kristen kepada kita bukanlah menjadikan kaum muslimin sebagai orang Kristen, karena hal itu adalah soal hidayah dan kemuliaan. Misi utama kita ialah mengeluarkan muslim dari ajaran Islam, agar menjadi orang yang tidak memiliki hubungan lagi dengan Allah, sehingga ia tidak mempunyai ikatan akhlak sebagai pegangan hidup umat Islam….”
Yang akhirnya mereka menyaksikan generasi-genarasi muda muslim terombang-ambing dalam dunia maya kemaksiatan, mengekor pada permainan libido yang menguasai seluruh ruang kejiwaannya dan jauh dari akhlak mulia Islam. Allah berfirman;
Jauhnya generasi muda Islam dari agamanya merupakan cita-cita tinggi yang diimpikan oleh para orientalis yang notabane menjadi musuh-musuh besar Islam. Samuel Zweimer, Direktur organisasi missi pada konferensi para misionaris di kota Al-Quds tahun 1935 berkata, “Misi utama yang dibebankan negara-negara Kristen kepada kita bukanlah menjadikan kaum muslimin sebagai orang Kristen, karena hal itu adalah soal hidayah dan kemuliaan. Misi utama kita ialah mengeluarkan muslim dari ajaran Islam, agar menjadi orang yang tidak memiliki hubungan lagi dengan Allah, sehingga ia tidak mempunyai ikatan akhlak sebagai pegangan hidup umat Islam….”
Yang akhirnya mereka menyaksikan generasi-genarasi muda muslim terombang-ambing dalam dunia maya kemaksiatan, mengekor pada permainan libido yang menguasai seluruh ruang kejiwaannya dan jauh dari akhlak mulia Islam. Allah berfirman;
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang
jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka
kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
• Sosial
Beberapa persoalan yang terus terjadi dan
menghantui kehidupan social ummat adalah hilangnya persatuan, masalah seksual,
narkoba, Perdagangan ABG dan kemaksiatan-kemaksiatan lain yang semakin marak
dewasa ini. Perhatikan beberapa peringatan dari ayat-ayat Allah dan hadits
Nabi;
“Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan
janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan
hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar.” (al-Anfaal: 46)
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya
zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”
(al-Israa’: 32)
“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak
menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar
dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka
berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (al-Maaidaah: 91)
عَنْ عَبْدِ اللهِ ْبنِِ
عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ َيقُوْلُ يَا
مَعْشَرَ اْلمُهَاجِرِيْنَ حِصَالٌ خَمْسٌ إِنْ اُبْتُلِيْتُمْ ِبهِنَّ
وَنَزَلْنَ بِكُمْ أَعُوْذُ بِا للهِ أَنْ تُدِْركُوْهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ
فَاحِشَةٌ ِفيْ قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا إِلاَّ فَشَا
فِيْهِمْ اَلأَوْجَاعُ اَلَّتِي لَمْ تَكُنْ فِيْ أَسْلاَفِهِمْ ولَمْ يَنْقُصُوْا
الْمِكْيَالَ وَاْلمِيْزَانَ إِلاَّ أُخِذُوْا بِالِّسِنْينَ وَشِدَّةِ
اْلمُؤْنَةِ وَجَوِْر الُّسلْطَانِ وَلمْ يَنْقُضُوْا عَهْدَ اللهِ وَ عَهْدَ
َرسُوْلِهِ إِلاَّ سُلِّطَ عَلَيْهِمْ اْلعَدُوُّ مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذَ بَعْضَ
مَا فِيْ أَيْدِيْهِمْ ولَمْ يَمْنَُوْا زَكَاةَ أَمْوَاِلهِمْ إِلاَّ مُنِعُوْا القُطْرَ
مِنَ السَّمَاءِ وَلََوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوْا وَمَا لَمْ تَحْكُمْ
أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ إِلاَّ جُعِلَ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ رَوَاهُ
التُرْمُذِيْ وَابْنُ مَاجَةَ وَاْلَبْيَهِقْي
Dari Abdillah ibnu Umar ra. berkata,
“Rasulullah saw. telah bersabda, ‘Wahai, Kaum Muhajiriin, ada lima hal
yang aku khawatirkan jika menimpa serta menguji kalian, dan aku berlindung
kepada Allah semoga kalian tidak mendapatkannya. Tidaklah perzinahan merajalela
pada suatu kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali
akan menyebar penyakit-penyakit yang belum pernah terjadi pada umat
yang sebelumnya, dan tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran, kecuali
akan ditimpa paceklik serta mahalnya harga kehidupan ditambah dengan
pemimpin yang tiran…” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)
• Pendidikan, Pembinaan, dan
Dakwah
Rasulullah saw. diutus ke bumi dengan mengemban
misi khusus yaitu membacakan ayat-ayat, mentazkiah dan mengajarkan Al-Kitab dan
Al-Hikmah kepada ummatnya agar mereka memahami visi dan misi kehidupannya, agar
mereka melek peradaban yang ada di sekitarnya dan agar mereka menjadi
saksi-saksi kebenaran dan kebaikan atas umat yang lain.
Maka ketika ta’lim dan tarbiah (pendidikan dan pembinaan) yang sesuai dengan minhaj salaf sholih tidak dilirik kembali oleh ummat Islam dan bahkan ditinggalkan sama sekali, niscaya akan muncul syubhat pemikiran di tengah-tengah ummat, merajalelanya syahwat yang mendominasi dalam kehidupan dan kebodohan mewarnai masyarakat. Inilah fenomena masyarakat muslim ketika tarbiah, ta’lim dan dakwah tidak berperan lagi dalam masyarakat sebagaimana yang diisyaratkan ayat ini;
Maka ketika ta’lim dan tarbiah (pendidikan dan pembinaan) yang sesuai dengan minhaj salaf sholih tidak dilirik kembali oleh ummat Islam dan bahkan ditinggalkan sama sekali, niscaya akan muncul syubhat pemikiran di tengah-tengah ummat, merajalelanya syahwat yang mendominasi dalam kehidupan dan kebodohan mewarnai masyarakat. Inilah fenomena masyarakat muslim ketika tarbiah, ta’lim dan dakwah tidak berperan lagi dalam masyarakat sebagaimana yang diisyaratkan ayat ini;
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang
jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka
kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
Oleh karenanya, Allah menyeru kepada setiap
mukmin untuk selalu melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat
yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari
yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ’Imran: 104)
• Ilmu Pengetahuan dan Tsaqafah
Islamiyah
Kekuatan yang dimiliki ummat dan kemenangan yang
selalu dijanjikan Allah SWT kepada mereka, bukan hanya bertumpu pada sisi
aqidah atau ibadah saja dan tanpa diiringi dengan ilmu pengetahuan Islam dan
ekspansi kebaikan atau amal islami dalam kehidupannya. Namun, kekutan dan
kemenangan itu tegak kokoh di atas tiga pilar yang satu sama lain tidak boleh
terpisahkan yaitu, iman, ilmu dan amal (ibadah), dan saat ini, ketika ummat
mulai meninggalkan tsaqafah islamiah dan ilmu pengetahuan lainnya yang
bermanfaat, maka kekuatan dan kemenangan tersebut berangsur-angsur akan hilang
dan pada akhirnya digantikan dengan ketidakberdayaan serta kelemahan.
Sebagaimana Allah nyatakan dalam firman-Nya.
“…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang
mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang
berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (az-Zumar: 9)
“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujaadilah: 11)
mengenai hal ini, Imam Syafi’i berkata,
“Sesungguhnya jati diri seorang pemuda—demi Allah—ada dalam ilmu dan
ketakwaannya. Apabila keduanya tidak ada dalam dirinya, maka ia bukanlah pemuda
sebenarnya.”
• Politik dan Hukum
Dalam masalah politik dan hukum, kita bisa
merenungkan beberapa ayat Allah dan hadits nabi, sebagaimana berikut ini.
“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa
yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”
(al-Maa-idah: 44)
“…Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut
apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”
(al-Maa-idaah: 45)
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki,
dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang
yang yakin?” (al-Maa-idaah: 50)
“…Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab
(Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang
yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia,
dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah
tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah: 85)
وَلمْ يَنْقُضُوْا عَهْدَ
اللهِ وَ عَهْدَ َرسُوْلِهِ إِلاَّ سُلِّطَ عَلَيْهِمْ اْلعَدُوُّ مِنْ غَيْرِهِمْ
فَأَخَذَ بَعْضَ مَا فِيْ أَيْدِيْهِمْ ولَمْ يَمْنَُوْا زَكَاةَ أَمْوَاِلهِمْ
إِلاَّ مُنِعُوْا القُطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلََوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ
يُمْطَرُوْا وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ إِلاَّ جُعِلَ
بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ (رواه الترمذي)
“…Tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan
Allah dan rasul-Nya, kecuali mereka akan dikuasai oleh musuh dari
luar yang akan mengambil sebagaian harta yang mereka miliki, dan tidaklah
mereka menahan diri dari menunaikan kewajiban zakat harta mereka, kecuali
mereka akan terhalang dari curah hujan, dan seandainya saja tidak ada binatang
ternak niscaya tidak akan turun hujan kepada mereka. Adapun selama para
pemimpin mereka tidak berhukum dengan Kitab Allah, maka konflik dan pertempuran
akan terjadi diantara mereka.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
• Militer
Ummat Islam dewasa ini tidak memiliki kekuatan
militer yang ditakuti dan diperhitungkan musuh-musuh Islam. Keberadaan kekuatan
militer sangat diperlukan untuk meninggikan kalimat Allah dan menebarkan
nilai-nilai kebenaran dan kebaikan di tengah-tengah manusia, sebagaimana yang
terjadi pada masa-masa kejayaan Islam. Di masa itu, banyak bangsa-bangsa lain
yang sangat merindukan kehadiran militer Islam di tengah-tengah mereka untuk
melindungi dan mengayomi mereka, seperti kisah Sa’ad bin Abu Waqqas yang
menarik pasukannya dari wilayah kekuasaannya. Karena, wilayah itu tidak
mungkin lagi dipertahankan oleh beliau dan ia mengembalikan semua upeti yang
ditarik dari penduduk setempat pada waktu itu. Inilah kesan militer yang damai,
menjunjung nilai keadilan dan menegakkan hak-hak rakyat
Selanjutnya, ummat kehilangan identitasnya sebagai khairu ummat, ummatan wasathan, serta syuhada ‘ala an-naas, dan sebaliknya menjadi ummat yang terbelakang dan kekuatan tidak diperhitungkan lagi oleh musuh-musuh Islam. Kekutan dan kualitas mereka bak “ghutsa” (buih) di lautan. Rasulullah bersabda dalam hadistnya.
Selanjutnya, ummat kehilangan identitasnya sebagai khairu ummat, ummatan wasathan, serta syuhada ‘ala an-naas, dan sebaliknya menjadi ummat yang terbelakang dan kekuatan tidak diperhitungkan lagi oleh musuh-musuh Islam. Kekutan dan kualitas mereka bak “ghutsa” (buih) di lautan. Rasulullah bersabda dalam hadistnya.
“Nanti ummat ini akan dikepung oleh bangsa-bangsa
lain. Sebagaimana orang yang makan itu mengepung nampan nasinya. Sebagian shbat
bertnya: “Apakah jumlah kita sedikit pada waktu itu? Beliau menjawab: “Tidak,
bahkan jumalah kamu banyak sekali pda waktu itu, akan tetapi (kualitas) kamu
seperti buih, buih arus. Dan sungguh Allah akan mencabut dari jiwa musuh-musuh
kamu rasa takut dari kamu. Dan selanjutnya Dia menanamkan penyakit “wahn” pada
hati kamu. Sebagian sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa wahn itu? Beliau
bersabda: “Hubbud dunya (cinta dunia) dan benci kematian.” (HR. Abu Daud dan
Ahmad)
Fenomena di atas bermuara pada kecendrungan
manusia yang suka menyimpang dan berpaling dari kebenaran, watak manusia yang
selalu menentang ayat-ayat Allah kerena kebodohannya dan hawa nafsu yang
mendominasi kehidupannya. Hal ini sebagaimana yang jelaskan ayat-ayat quraniah
berikut ini;
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran),
Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang fasik.” (ash-Shaff: 5)
“Aku akan memalingkan orang-orang yang
menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda
kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku) mereka tidak beriman
kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka
tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus
memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan
ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.” (al-A’raaf: 146)
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami
tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada
duniadan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya
sepertianjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu
membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada
mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. ” (al-A’raaf: 176)
III. PROBLEMATIKA KONTEMPORER
Problematika-problematika ummat, yang sifatnya
kontemporer, bisa diklasifikasikan menjadi tiga bagian.
Ø Penyimpangan-penyimpangan yang
terjadi di tubuh ummat.
Ø Penyakit ummat sebagai dampak dari penjajahan.
Ø Kekuatan musuh dengan gerakan “Ghazwul Fikr”.
Ø Penyakit ummat sebagai dampak dari penjajahan.
Ø Kekuatan musuh dengan gerakan “Ghazwul Fikr”.
• Penyimpangan-penyimpangan
Penyimpangan dan kesewenang-wenangan yang terjadi
dalam tubuh ummat ini, bisa disebabakan oleh kekuasan tangan-tangan besi dan
tiran, bisa muncul dari sebuah kebaikan yang semu, bisa lahir dari kelompok
penyeru dan para du’at yang mempunyai kepentingan-kepentingan pribadi dan bisa
lahir pula dari diri seorang muslim yang telah terjangkit virus-virus iaman dan
moral. Hal ini bisa kita perhatikan dari beberapa Hadits Rasulullah sebagai
berikut;
“Muncul masa kenabian selama masa yang Allah
kehendaki, kemudian berakhir. Kemudian, muncul masa khilafah yang lurus selama
masa yang Allah kehendaki, kemudian berakhir. Selanjutnya muncul raja-raja secara
turun-temurun selama masa yang Allah kehendaki, kemudian berakhir. Lalu muncul
masa kediktatoran selama masa yang Allah kehendaki, kemudian berakhir. Kemudian
akan muncul masa kekhilafahan yang lurus kembali yang tegak di atas minhaj
nubuah yang meliputi seluruh dunia.”
Hudzaifah bin al-Yaman berkata, “Semua manusia
bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kebaikan, sementara aku bertanya kepada
beliau tentang keburukan yang mana aku takut menemuinya. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya kami dulu berda dalam kejahiliaan dan keburukan, lalu Allah
memberikan kepada kami kebenaran ini. Maka apakah setelah kebaikan ini akan
muncul keburukan? Beliau menjawab: “Ya”. Aku bertanya kembali: “Dan apakah
setelah keburukan ini akan ada kebaikan kembali? Beliau menjawa: “Ya, (akan
tetapi) di dalamnya ada kerusakan.” Aku bertanya: “Apa kerusakannya?” Beliau
menjawab: “Kaum yang menunjukkan dengan selain petunjukku, kamu mengenal mereka
dan kamu juga mengingkarinya.” Aku bertanya kembali: “Maka apakah setelah
kebaikan yang demikian ini ada keburukan lagi?” Beliau menjawab: “Ya, para da’I
yang berada di pintu-pintu Jahannam, barang siapa yang meresponnya maka ia akan
terjerumus di dalamnya.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah jelaskan kepada kami
sifat-sifat mereka. Beliau bersabda: “Mereka dari jenis kulit (golongan) kita
dan mereka berkata dengan lisan-lisan kita.” Aku berkata: “Apa yang Engkau
intruksikan kepadaku apabila menemuiku? Beliau bersabda: “Kamu harus bergabung
bersama jamaatul muslimin dan imam mereka.” Aku bertanya kembali: “Kalau
sekiranya tidak ada jamaah dan imam? Beliau berkata: “Jauhilah semua firqoh
yang ada, meskipun kamu menggigit akar pohon sampai datangnya kematian dan kamu
tetap begitu.” (HR. al-Bukhari)
وَمَا لَمْ تَحْكُمْ
أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ إِلاَّ جُعِلَ بَأْسُهُمْ بَيْنَه (رواه الترمذي)
“…ِAdapun selama para pemimpin mereka tidak
berhukum dengan Kitab Allah, maka konflik dan pertempuran akan terjadi diantara
mereka.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Beberapa hadits di atas, menjelaskan kepada kita
tentang fitnah, penyimpangan, dan kesewenangan yang harus dihadapi umat ini ke
depan, sebagaimana disebutkan di bawah ini.
Pertama, Penguasa diktator.
Mereka muncul setelah tumbangnya Khilafah Utsmaniah pada tahun 1924, dan mereka semua menjadi boneka-boneka musuh Islam seperti Musthafa Kamal at-Taturk, yang dengan gerakan westernisasinya, dijuluki Bapak Turki, padahal ia adalah orang yang pertama kali menghancurkan pilar-pilar dan simbol-simbol Islam setelah runtuhnya Khilafah Islamiah di Turki. Selain Musthafa, ada banyak deretan nama dari para penguasa diktator ini, yaitu sebagai berikut: Jamal Abdun Nashr, Husni Mubarak, Hafidz asad, Shaddam Husain, dan beberapa penguasa lain yang saat ini memegang kekuasan di dunia Islam
Pertama, Penguasa diktator.
Mereka muncul setelah tumbangnya Khilafah Utsmaniah pada tahun 1924, dan mereka semua menjadi boneka-boneka musuh Islam seperti Musthafa Kamal at-Taturk, yang dengan gerakan westernisasinya, dijuluki Bapak Turki, padahal ia adalah orang yang pertama kali menghancurkan pilar-pilar dan simbol-simbol Islam setelah runtuhnya Khilafah Islamiah di Turki. Selain Musthafa, ada banyak deretan nama dari para penguasa diktator ini, yaitu sebagai berikut: Jamal Abdun Nashr, Husni Mubarak, Hafidz asad, Shaddam Husain, dan beberapa penguasa lain yang saat ini memegang kekuasan di dunia Islam
Kedua, Kebaikan yang berpenyakit
Manusia-manusia munafik yang menampakkan kebaikan secara lahiriah, tetapi dalam jiwanya bersemayam kebencian, kedengkian, dan keinginan untuk merusak. Manusia-manusia ini banyak kita jumpai di tengah-tengah masyarakat muslim. Ketika mereka melakukan ekspansi kebaikan, mereka melakukannya bukan karena ikhlas untuk Allah SWT, tetapi karena kepentingan-kepentingan pribadi yang disembunyikan. Oleh karenanya, Rasulullah saw.mengomentari mereka dengan sabdanya, “Mereka berjalan tanpa petunjukku, dan tidak pernah menjalankan sunnahku.”
Manusia-manusia munafik yang menampakkan kebaikan secara lahiriah, tetapi dalam jiwanya bersemayam kebencian, kedengkian, dan keinginan untuk merusak. Manusia-manusia ini banyak kita jumpai di tengah-tengah masyarakat muslim. Ketika mereka melakukan ekspansi kebaikan, mereka melakukannya bukan karena ikhlas untuk Allah SWT, tetapi karena kepentingan-kepentingan pribadi yang disembunyikan. Oleh karenanya, Rasulullah saw.mengomentari mereka dengan sabdanya, “Mereka berjalan tanpa petunjukku, dan tidak pernah menjalankan sunnahku.”
Ketiga, Para penyeru Neraka Jahannam
Tantangan berikutnya yang harus dihadapi ummat ini adalah muncul para da’i gadungan, yaitu da’i yang menjerumuskan umat. Mereka bukannya membimbing manusia ke jalan yang benar, jalan kebaikan, jalan persatuan dan jalan kedamaian, tetapi mengajak umat untuk berjuang mempertahankan kepentingan-kepentingan pribadi, menyeru kepada perpecahan, keonaran, dan kerusakan. Rasulullah menjuluki mereka sebagai da’i-da’i yang berada di pintu-pintu Neraka Jahannam, dan manusia-manusia yang berhati iblis, namun berjasad manusia. (Riwayat Abu al-Aswad, Fathul Baary, dan Ibnu Hajar al-Asqalani)
Tantangan berikutnya yang harus dihadapi ummat ini adalah muncul para da’i gadungan, yaitu da’i yang menjerumuskan umat. Mereka bukannya membimbing manusia ke jalan yang benar, jalan kebaikan, jalan persatuan dan jalan kedamaian, tetapi mengajak umat untuk berjuang mempertahankan kepentingan-kepentingan pribadi, menyeru kepada perpecahan, keonaran, dan kerusakan. Rasulullah menjuluki mereka sebagai da’i-da’i yang berada di pintu-pintu Neraka Jahannam, dan manusia-manusia yang berhati iblis, namun berjasad manusia. (Riwayat Abu al-Aswad, Fathul Baary, dan Ibnu Hajar al-Asqalani)
Keempat, Terurainya ikatan Islam
Kelima, Ditinggalkannya hukum Islam
Fenomena umat Islam sekarang ini, sangat jelas bagi kita bahwa banyak umat yang telah meninggalkan nilai-nilai ajaran agamanya baik sengaja maupun karena kebodohannya setelah tumbangnya Khilafah. Para penguasa enggan berpeganteguh pada tali-tali agama dan bahkan merasa bangga ketika menerapkan hokum-hukum produk para penjajah. Lihat hokum kita di Indonesia, bagaimana kita bisa samapai saat ini bangga dengan hokum-hukum Belanda? Logikanya, kalau hokum Belanda bisa dipakai oleh masyarakat yang mayoritas umat Islam, kenapa hokum Allah tidak pernah diuji dan diterapkan dalam kehidupan kita? Padahal para penguasa dan pejabat semenjak merdeka adalah orang-orang muslim. Sementara Allah menegaskan dalam firmanNya tentang kebenaran dan kebaikan hokum-hukumnya;
Fenomena umat Islam sekarang ini, sangat jelas bagi kita bahwa banyak umat yang telah meninggalkan nilai-nilai ajaran agamanya baik sengaja maupun karena kebodohannya setelah tumbangnya Khilafah. Para penguasa enggan berpeganteguh pada tali-tali agama dan bahkan merasa bangga ketika menerapkan hokum-hukum produk para penjajah. Lihat hokum kita di Indonesia, bagaimana kita bisa samapai saat ini bangga dengan hokum-hukum Belanda? Logikanya, kalau hokum Belanda bisa dipakai oleh masyarakat yang mayoritas umat Islam, kenapa hokum Allah tidak pernah diuji dan diterapkan dalam kehidupan kita? Padahal para penguasa dan pejabat semenjak merdeka adalah orang-orang muslim. Sementara Allah menegaskan dalam firmanNya tentang kebenaran dan kebaikan hokum-hukumnya;
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki,
dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang
yang yakin?” (al-Maa-idaah: 50)
• Penyakit umat sebagai dampak
dari penjajahan
Pertama, Adanya LSM dan yayasan-yayasan sebagai
musuh-musuh Islam
Sebenarnya, negara-negara Islam belum sepenuhnya
keluar dari cengkeraman para negara egresor dan penjajah, seperti Indonesia,
Tunisia, Siria, Mesir, dan negeri-negeri yang lainnya. Mereka masih terjajah.
Tidak kah mereka membawa empat slogan yang selalu didengung-dengungkan? Yaitu,
God (Tuhan atau penyebaran agama), Gold (Emas), Gospel (kekayaan), dan Glory
(kejayaan). Empat tujuan ini masih mereka nikamati, meskipun mereka telah
hengkang dari negeri-negeri jajahannya.
Maka meskipun secara fisik dunia Islam tidak terjajah, namun setiap dimensi kejidupan ummat masih dalam cengkeraman konspirasi mereka. Dan konspirasi mereka inilah yang dewasa ini dikerjakan oleh tangan-tangan LSM-LSM dan Yayasan-yayasan yang digerakkan oleh anak-anak muslim yang sudah dicuci otaknya dan yang didanahi oleh mereka, para penjajah. Seperti Freemansory, Rotary Club, Lion Club, LSM sosialis komunis dan yang lainnya. Mereka bergerak sesuai keinginan donatur-donatur mereka yang semuanya ingin memberangus kebenaran Islam.
Maka meskipun secara fisik dunia Islam tidak terjajah, namun setiap dimensi kejidupan ummat masih dalam cengkeraman konspirasi mereka. Dan konspirasi mereka inilah yang dewasa ini dikerjakan oleh tangan-tangan LSM-LSM dan Yayasan-yayasan yang digerakkan oleh anak-anak muslim yang sudah dicuci otaknya dan yang didanahi oleh mereka, para penjajah. Seperti Freemansory, Rotary Club, Lion Club, LSM sosialis komunis dan yang lainnya. Mereka bergerak sesuai keinginan donatur-donatur mereka yang semuanya ingin memberangus kebenaran Islam.
Kedua, Keterbelakangan umat dari IPTEK dan
industri
Setelah peperangan usai dan para penjajah
hengkang dari bumi ummat Islam, namun negara-negara ketiga yang notabane negeri
muslim semakin hari semakin terbelakang dan terpuruk dalam bidang iptek dan
industri. Ini juga merupakan langkah-langkah strategis yang dilakukan pihak
Barat dan musuh-musuh Islam yang tidak pernah ingin melihat ada satu negara
muslim yang berkembang dan mengalami kemajuan. Mari kita renungkan beberapa
komentar dan pernyataan para orientalis berikut ini;
Ø Salah seorang pejabat pada
Kementerian Luar Negeri Perancis pada tahun 1952 mengatakan: “Bahaya yang
sebenarnya mengancam kita adalah Islam. Untuk itu marilah kita beri apa yang
dibutuhkan oleh dunia Islam serta menanamkan pada diri mereka perasaan
ketidakmampuan untuk menjadi negara industri. Apabila kita lemah dalam
pelaksanan strategi tersebut, maka kemungkinan besar ummat Islam mencapai
kemajuan dan menjadi salah satu kekuatan raksasa di dunia untuk ke dua
kalinya.”
Ø Bekas dictator Portugal, Salazar
berkata: “Saya kuwatir akan muncul di tengah umat Islam seorang tokoh yang
mampu menyatukan poyensi mereka dan mengarahkannya kepada kita.”
Mungkin kita bisa bertanya; dimanakah posisi
negara-negara muslim dewasa ini? Di sasat negara-negara modern telah
berbicara tentang berbagai revolusi besar yang hendak dijalankan; revolusi
teknologi, revolusi biologi (geneologi, cloning, penemuan peta gen manusia dan
sejenisnya), revolusi elektronik, revolusi ruang angkasa, revolusi komunikasi,
informasi dan seterusnya. Di mana posisi kita di tengah negara maju ini?
Ketiga, Paradigma berfikir yang salah
Dalam bidang pemikiran, para penjajah melahirkan
antek-antek mereka dari anak-anak negeri untuk mempengerahui ummat Islam
tentang cara berfikir yang benar. Mereka mengajak kembali kepada paradigma yang
dimiliki oleh para penjajah tersebut bukan kembali kepada Islam. Dengan dalih
mereka telah menemukan kemajuan dan sementara dunia Islam dalam kegelapan ilmu
pengetahuan. Jadi mereka menyerukan genarasi-generasi muslim untuk berkiblat
kepada nilai-nilai yang diyakini para penjajah. Dan nilai-nilai ini
bersandarkan kepada keyakinan, filsafat dan adat istiadat yang berkembang di
tengah mereka.
Bahkan kita melihat banyak dari kalangan umat ini yang bangga dengan referensi Barat dalam bidang keilmuan yang seharusnya tidak layak untuk dijadikan sebagai referensi maupun rujukan utama. Seperti dalam bidang psikologi yang mengacu kepada pendapat Sigmun Freud, bidang sosiologi dan moral.
Seharusnya, umat ini ketika menjadikan Islam sebagai referensi utama, mereka harus kembali kepada Al-Quran, Al-hadits, Ijma’, Aqwalu Sahabat, Aqwalu Tabi’in dan dalil-dalil yang dibenarkan dan diakui dalam terminology istinbat dan ijtihad.
Bahkan kita melihat banyak dari kalangan umat ini yang bangga dengan referensi Barat dalam bidang keilmuan yang seharusnya tidak layak untuk dijadikan sebagai referensi maupun rujukan utama. Seperti dalam bidang psikologi yang mengacu kepada pendapat Sigmun Freud, bidang sosiologi dan moral.
Seharusnya, umat ini ketika menjadikan Islam sebagai referensi utama, mereka harus kembali kepada Al-Quran, Al-hadits, Ijma’, Aqwalu Sahabat, Aqwalu Tabi’in dan dalil-dalil yang dibenarkan dan diakui dalam terminology istinbat dan ijtihad.
Keempat, Krisis identitas
Dari hasil kerja para penjajah sebelum mereka
meninggalkan negara-negara jajahannya adalah keterbelahan jiwa ummat dalam
memegang tali Allah SWT. Mereka menjadi minder ketika disebut muslim, mereka
malu dan merasa terbelakang apabila ditanyakan tentang identitas dirinya sebagai
muslim. Padahal seharusnya mereka berani menunjukkan dengan jelas apa identitas
mereka dan siapa mereka? Hal ini dikarenakan seorang muslim memiliki identitas
yang khas, kepribadian independen dan loyalitas yang jelas. Ia adalah pemilik
risalat bumi dan pemikul panji dakwah universal yang berkarekter rabbaniah,
insaniah dan akhlakiah.
• Ghazwul Fikri
Ghazwul Fikri (Invasi pemikiran) adalah sebuah
sarana musuh-musuh Islam untuk membrangus nilai-nilai Islam lewat media-media
mereka yang tersebar di tengah-tengah umat Islam. Seperti media cetak,
elektronik dan audio visual. Bisa kita lihat pandangan pornografi di semua lini
media diatas. Mulai dari iklan, film, buku, kaset dan situs yang ada di
tengah-tengah ummat. Ghazul fikri ini dilakukan dengan tujuan untuk mencuci
otak para generasi muslim dengan pemikiran-pemikiran yang destruktif negatif.
Target dan sasaran ghazul fikri
Adapun sasaran dan terget ghazwul fikri bisa
dikonklusikan sebagai berikut.
A. Mencegah ruh Islam tersebar
ke seluruh persada bumi
Ø Menyebarkan berbagai kebohongan
tentang syari’at Islam
Ø Mengangkat segi-segi kelemahan yang ada di berbagai negara Islam dan membebankannya kepada Islam
Ø Memberikan gambaran bahwa Islam agama kekerasan dan pertunpahan darah
Ø Menampilkan berbagai keistimewaan Islam sebagai kelemahannya
Ø Menuduh Islam merusak daya cipta dan kecerdasan pengikutnya
Ø Mengangkat segi-segi kelemahan yang ada di berbagai negara Islam dan membebankannya kepada Islam
Ø Memberikan gambaran bahwa Islam agama kekerasan dan pertunpahan darah
Ø Menampilkan berbagai keistimewaan Islam sebagai kelemahannya
Ø Menuduh Islam merusak daya cipta dan kecerdasan pengikutnya
Inilah ungkapan-ungkapan mereka tentang Islam;
Misionaris Takly berkata, “..Kita harus
menjelaskan kepada umat Islam bahwa apa yang benar di dalam Al-quran bukanlah
sesuatu yang baru. Aka tetapi sesuatu yang baru di dalam Al-Quran belumlah
tentu benar.”
Orientalis Perancis berkata, “Agama Muhammad adalah semacam penyakit lepra yang mewabah dan dapat memusnahkan umat manusia secara dahsiat. Siap yang menganut Islam ia akan ditimpa penyakit lemah dan malas…”
Sebagian yang lain berkata, “Kuburan Muhammad bagaikan aliran tiang listrik yang mengalirkan arus kegilaan ke dalam jiwa orang-orang Islam. Hal inilah yang menyebabkan mereka melakukan hal-hal aneh; seperti mengulang-ulang kata “Allah” tanpa batas, dan menghidupkan kebiasaan lama seperti mencaci daging bai, alcohol dan musik…”
Orientalis Perancis berkata, “Agama Muhammad adalah semacam penyakit lepra yang mewabah dan dapat memusnahkan umat manusia secara dahsiat. Siap yang menganut Islam ia akan ditimpa penyakit lemah dan malas…”
Sebagian yang lain berkata, “Kuburan Muhammad bagaikan aliran tiang listrik yang mengalirkan arus kegilaan ke dalam jiwa orang-orang Islam. Hal inilah yang menyebabkan mereka melakukan hal-hal aneh; seperti mengulang-ulang kata “Allah” tanpa batas, dan menghidupkan kebiasaan lama seperti mencaci daging bai, alcohol dan musik…”
B. Menghancurkan Islam dari
dalam
Mereka menikam Islam dari dalam dengan
menggunakan budak-budak atau antek-antek mereka untuk menebarkan
pemikiran-pemikiran yang negatif destruktif. Dengan menggunakan anak-anak
negeri jajahan, diharapkan ghozwul fikri bisa berjalan mulus tanpa ada
rintangan yang berarti. Sebagaimana yang kita saksikan dewasa ini tentang gerakan
femenisme yang berkembang di berbgai negara Islam yang seolah-olah tidak rela
akan kodratnya yang diciptakan beda dengan pria. Mereka mendengungkan slogan
emansipasi wanita yang sesungguhnya adalah eksploitasi wanita yang berlebihan
dan bertentangan dengan fitarh wanita itu sendiri.
Anehnya dalam Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan yang diadakan di Kairo pada tahun 1994, Konferensi yang didukung oleh Barat dan PBB memutuskan sebuah resolusi yang aneh dalam membatasi jumlah penduduk dengan cara-cara sebagai berikut;
Anehnya dalam Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan yang diadakan di Kairo pada tahun 1994, Konferensi yang didukung oleh Barat dan PBB memutuskan sebuah resolusi yang aneh dalam membatasi jumlah penduduk dengan cara-cara sebagai berikut;
ü Melegalisasi aborsi
ü Mengusulkan kebebasab sex education dan sex information
ü Mendorong hubungan seksual ekstra-material
ü Mendukung ekonomi pasar penyebaran alat-alat kontrasepsi
ü Mengusulkan kebebasab sex education dan sex information
ü Mendorong hubungan seksual ekstra-material
ü Mendukung ekonomi pasar penyebaran alat-alat kontrasepsi
IV. SOLUSI DARI BERBAGAI
PROBLEMA
Untuk menghadapi berbagai problematika umat
dewasa ini, baik yang bersifat permanen dan inheren maupun yang bersifat
kontemporer karena faktor eksternal, maka seluruh Umat Islam harus membangun
kembali kesadaran akan agamanya dan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam setiap
dimensi kehidupannya.
Ada tiga fokus yang sangat mendasar, dimana setiap individu muslim harus memperbaiki dirinya dalam hal ini.
Ada tiga fokus yang sangat mendasar, dimana setiap individu muslim harus memperbaiki dirinya dalam hal ini.
Pertama, Memiliki ilmu pengetahuan.
“…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang
mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang
berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (az-Zumar: 9)
“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujaadilah: 11)
Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya jati diri
seorang pemuda—demi Allah—ada dalam ilmu dan ketakwaannya. Apabila
keduanya tidak ada dalam dirinya, maka ia bukanlah pemuda sebenarnya.”
Kedua, Tarbiah secara kontinyu.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat
yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari
yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ’Imran: 104)
Ketiga, Berjihad sepanjang masa.
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu,
sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat
kemenangan.Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang
sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan
untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.
Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan
(begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu
dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah
sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah
Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”
(al-Hajj: 77-78)
Akhirnya, kita hanya bisa berdoa dan berharap
semoga kita termasuk orang-orang yang memulai untuk berbenah diri dalam
menghadapi berbagai problematika ummat sekarang ini. Wallahu a’lam
bish-shawwab.
Komentar
Posting Komentar